~rumah baru~

1512 Kata
Kelas pagi di hari sabtu memang menguras tenaga. Gak cuma memaksa buat bangun pagi, tapi juga bikin ngantuk berkepanjangan. Ketika dosen mengucapkan kalimat penutup, kantuk itu seketika lenyap.  “Eh, abis kelas mau pada kemana?”tanya Gly dengan antusias. “Kita nge mall yuk? Gue pengen beli baju deh.”komentar Winny sambil terus menatap layar laptopnya. Masih ada tugas yang harus dikumpul. Dan ya, Winny tipikal orang yang ngerjain menuju deadline. Bukan karena dia malas, dia memang sibuk banget. Beda sama  Karla yang sekarang lagi gak punya kerjaan. Dan ya, cuma Rere yang tahu hal itu. “Gue gak bisa. Ada janji ketemu sama teman.”ujar Karla merespon. “Ya udah. Kita bertiga aja yuk.”seru Rere berusaha membuat Karla tidak dihujani dengan pertanyaan. Rere tahu kok, Karla mau ketemu Jejo buat ngomongin masalah apartemen.  “Kenapa emang? Lo mau ngedate?”ucap Winny kepo. “Enggak, gue mau ketemu teman lama. Lo paham lah, teman waktu di D3.” “Oh, I see.” Karla lirik-lirikan sama Rere. Walaupun belum percaya sama Rere, setidaknya cewek itu tidak terlalu mencurigakan. Dia tidak mau berpikiran terlalu negatif. Pengkhianatan dari banyak orang tidak cukup membuatnya untuk tidak percaya pada Rere. Dia berjalan gontai menuju ke sebuah kafe yang ada di area kampus. Kafe yang menyediakan aneka kopi dengan harga terjangkau. Ya, kopi yang sesuai dengan kantong mahasiswa.  Dia melihat Jejo bersama pacarnya sedang menunggu. Lihat kan? Untuk bicara dengan Karla, dia mesti banget bawa cowoknya. Padahal cowok itu sumber masalah bagi mereka berdua. Rasanya Karla ingin meronta dan marah-marah. Tapi dia sadar, kemarahan itu cukup di dalam hati saja. Mari, kita bersikap profesional. “Sorry ya, gue baru beres kuliah.” “Iya, no problem!” “Hmm, apa kita bisa bicara berdua aja?” Perkataan itu membuat cowok menyebalkan itu pergi. Dia menunggu entah dimana dan Karla tidaklah peduli. Masalah ini gak baik didengar oleh cowok b******k itu. Cowok menyebalkan yang selalu mengajak Jejo nongkrong sampai malam. Mungkin Jejo belum sadar. Tapi Karla yakin, dia bakal sadar suatu hari nanti.  “Jadi gimana? Lo udah punya uang buat bayar?” “Gue juga bakal pindah.”ucap Karla membuat Jejo melihat jelas ke arahnya. Jejo heran aja, Karla itu cewek yang bermasalah dengan uang. Dia juga baru saja menghabiskan seluruh tabungannya untuk membayar uang kuliah. Dia tidak punya cukup uang untuk membeli apartemen baru. Ataukah dia kembali menyewa kosan kumuh untuk hidup? “Oleh karena itu, kita bisa memikirkan cara untuk nasib apartemen itu.” “Lo serius? Lo mau pindah kemana?” “Itu bukan urusan lo! Gue gak perlu ngasih tahu kan?” “Iya sih.” “Kalau menurut gue, kita sewa aja apartemen itu. Itu juga kalau lo mau.” Jejo yang masih tidak menyangka masih terdiam. Dan ya, Karla senang melihatnya. Dia merasa menang meski harus tinggal di rumah Nat. Argh, kenapa seperti balas dendam berhasil di balas ya?  “Kalau lo mau tinggal disana, lo bayar ke gue aja.” “Enggak. Kita sewain aja.”balas Jejo dengan ekspresi datar. Fiks banget, dia pasti sedang gundah gulana. Dia tidak mendapat uang dalam waktu singkat. Enak aja. Karla gak mau menderita sendiri. Biarin deh, mau ada yang sewa atau enggak. Setidaknya Karla tidak menderita seorang diri.  “Hmm, baiklah. Lo bisa pasang iklan online. Gue juga bakal nawarin sama orang-orang. Gue ada urusan penting abis ini.” “Oke.” Karla segera bersiap untuk pergi. Dia menyapa cowoknya Jejo dengan anggukan kepala sekedar. Rasanya bebas tapi dia juga sedih. Jejo, teman baiknya itu berubah menjadi musuh. Argh, andai mereka tidak serumah mungkin hal ini tidak akan terjadi.  Tak semua pengkhianatan membuat marah. Ada juga yang membuat sedih. Karla bersiap untuk segera pindah. Dia sudah memutuskan untuk pindah ke rumah Nat. Argh, sial sekali nasibnya. Setelah pertemuan kemarin, Karla memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Kesempatan yang memiliki satu syarat yang tidak terlalu penting. Ya, hanya pura-pura sebagai pacar Nat. Sederhana bukan? *** Dengan rambut dikuncir, Karla tiba di komplek perumahan itu. Dia sengaja mesen transportasi online biar bisa bawa barang-barangnya yang tidak terlalu banyak. Dia memang membuang sebagian besar bukunya karena sangat menyusahkan. Di jaman sekarang, buku sudah bisa diakses online. Buku fisik hanya memenuhi space di kamarnya nanti. Dia disambut sama cowok yang setiap minggu mengajarkan bahasa pemrograman. Cowok itu membuka pintu dengan tatapan datar. Baiklah, bagi Karla, cowok itu memang sama persis seperti yang ia katakan di aplikasi Tinder. Dia tidak berbohong seratus persen. Tentang kebiasaan dan tempat tinggal. Ya, tidak terlalu bertolak belakang dengan yang ia katakan di masa lalu. “Welcome!” “Anda beneran kan? Ini bukan jebakan?” Dia malah tertawa. “Saya tinggal bersama adik saya. Dan lagi, saya seorang dosen.” “Baiklah.”balas Karla sedikit percaya. Dia masuk ke dalam rumah yang lumayan besar itu. Rumah dengan d******i warna putih. Pekarangannya luas dan penuh dengan bunga. “Ah, adik saya suka bunga.”ujar Nat saat Karla memperhatikan sekitar. Mereka berjalan ke lantai dua. Terdapat tiga kamar dan balkon yang juga penuh dengan bunga. Di antara tiga kamar itu, Nat menunjukkan satu kamar untuk Karla. Kamar yang sangat besar.  “Ini kamar mu sekarang.” “Hmm, baiklah.” “Tapi kamu beneran kan, setuju dengan syarat yang saya kasih?” “Tentu saja. Kita juga hanya pura-pura.” “Baiklah. Argh, saya harus mengajar. Kalau ada yang penting, kamu bisa kasih tahu saya.” “Ah, iya.” Nat segera pergi. Karla membereskan barang-barangnya. Hidup dengan Nat akan membuatnya sedikit terganggu. Dia juga harus menghadapi adik Nat. Karla gak mau nanya terlalu banyak. Takut dikira kepo. Siapa sangka, dia malah tinggal serumah sama cowok yang dia kenal melalui Tinder. Dunia ini terlalu aneh untuk di mengerti. Cukup lama dia membereskan semuanya. Bekerja seorang diri membuat tenaga cepat habis. Dia merebahkan diri di kasur saat lelah menguasainya. Dengan segelas air putih dingin, dia merasa sangat lega. Tak terasa, dia malah tidur di tempat itu. Hingga dia membuka mata karena suara berisik. Datang bergerombol anak SMA.  “Dia siapa?” “Gak tahu.” “Kalian siapa?”tanya Karla dengan suara keras. Mereka malah tertawa. Ada satu orang cewek di antara mereka. Dan cewek itu sangat aneh dengan gaya nya yang tidak seperti anak SMA. Karla mulai menebak-nebak. Kayaknya cewek itu adiknya Nat. Kenapa adik seorang dosen malah kayak orang gila sih? “Kamu adiknya Nat? Kenapa kamu bawa cowok kesini?” Lagi dan lagi, mereka tertawa. Sialan! Gak ada sopannya sama orang yang lebih tua.  “Dia pacar gue.”ucap cowok yang paling sok ganteng di antara mereka. Udah gayanya kayak preman, ditambah tatapannya yang menyebalkan. “Argh, lo penghuni baru rumah ini?” “Iya. Lo siapa?” “Gue tinggal disini. Lo cantik juga ya.” Gila. Jadi dia adiknya Nat? Karla mengira dia seorang perempuan. Jadi, cowok yang kayak preman ini suka bunga? Kok bisa sih? Gak masuk akal kan. Badan preman, hati hello kitty. “Hmm, kalian ke kamar gue aja deh. Gue mau bicara sama dia dulu.” “Oke bro!” Setelah yang lain pergi, cowok itu memperhatikan Karla dari atas ke  bawah. Kemudian dia tersenyum dan mengulurkan tangan. “Gue adiknya Nat. Gardin.” “Karla.” “Dia bilang bakal ada penghuni baru. Well, lo udah lama kenal sama Nat?” Ini kayak lagi di wawancarai sama HRD. Cowok bernama Gardin itu terlalu banyak cakap. Dan dia punya tatapan m***m yang menyebalkan. Ya, tipikal cowok badboy yang digandrungi sama banyak cewek. Tapi Karla, dia bukan tipe cewek yang suka sama badboy. Dia malah ilfeel ngeliat cowok kayak gitu. “Lumayan. Oh ya, gue kira lo cewek. Cowok kayak lo bisa-bisanya suka sama bunga.” “Emangnya gak bisa?” “Bukan gak bisa. Gak cocok aja.” “Terserah deh. Tapi gue minta tolong. Jangan bilang Nat kalau gue bawa cewek.” “Apa untungnya buat gue?” “Oke. Gue bakal balas suatu hari nanti. Please. Lagian ini juga pertama kali gue bawa cewek.”ucap Gardin dengan permohonan. Fiks banget, dia lumayan takut sama Nat.  “Ya, sudah. Tapi ada syaratnya.” “Well, kasih tahu gue.” “Lo harus panggil gue kak. Usia kita terpaut lumayan jauh.” “Argh, ya sudahlah.” “Fine!” Gardin tersenyum lagi dan bergegas ke lantai 2. Karla menghela nafas panjang. Sekarang dia harus menghadapi dua cowok sekaligus. Dia coba untuk berpikir tenang. Bagaimanapun, dia sudah sampai disini. Gak banget kalau tiba-tiba kabur cuma gara-gara cowok ABG seperti Gardin.  Karla tidak bisa lagi tidur di tempat itu. Dia merapikan beberapa hal sebelum kembali ke kamarnya. Dia masih kepikiran tentang semua ini. Kejadian yang seperti mimpi di siang bolong. Tak ada yang tahu bahwa dia tinggal di rumah Nat. Ya, di rumah dosennya sendiri. Dia juga khawatir hal ini ketahuan ke telinga mama. Mama pasti akan tertawa licik sambil membuat argumen tentang dirinya sendiri. “Siapa suruh bersikeras? Kamu sih, gak dengar kata mama.” Argh, Karla gedek ngebayangin mamanya bicara kayak gitu. Dia merenung dan tertidur disaat matahari bersinar terik di luar sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN