~syarat~

1143 Kata
Cewek itu berhasil bikin semua orang melirik ke arahnya. Bukan karena dia berpenampilan cantik bak permaisuri. Sebaliknya, dia terlihat seperti gembel yang bangun tidur langsung ke kafe. Dia juga lupa menyisir rambutnya yang semakin urakan itu. Ditambah lagi baju tidur yang melekat di tubuhnya. Rere terkesima dengan mulut menganga. Karla benar-benar seperti orang asing di matanya. Dia yang selalu fashionable jadi terlihat urakan dengan penampilannya saat ini. Dia sudah tidak masuk kuliah selama satu minggu. Jelas saja, Rere khawatir banget. Bahkan Gly dan Winny ikut mengkhawatirkannya. “Lo makin gendut!”komentar pertama yang keluar dari mulut Rere. Rere emang tipikal cewek yang blak-blakan. Terutama pada orang yang dia kenal dengan baik. “I know, but I don’t care.” “Heh, kok gitu sih?” “Lo gak tahu keadaan gue Re. Kayaknya, gue bakal keluar dari kampus.” “Lo gila ya?.” “Argh, sial! Kenapa gue nangis lagi sih!”keluh Karla sambil mengusap air matanya. “Andai gue bisa ubah dunia ini. Atau setidaknya, ada sugar daddy yang mau gue ajak hangout.” Bagi Rere, perkataan itu bukanlah lawakan. Itu adalah keputusasaan yang menjadi. Seseorang yang mengalami hal baru akan membuatnya kaget. Mungkin Rere bisa bertahan dengan masa lalunya yang dipecat dua kali. Tetapi tidak semua orang bisa sekuat itu. Ada yang kepercayaan dirinya hilang saat tahu dirinya dipecat. Dan terkadang, hal itu bisa membuatnya semakin terpuruk.  “Kapan lo bicara sama Jejo?” “Dua hari lagi.” “Ish, rasanya pengen gue jambak itu cewek. Gak punya otak emang.” “Itu bukan salah Jejo, Re. Itu salah gue. Jejo gak pernah tahu kalau gue udah dipecat dari Tokokeren.”balas Karla sedih. Dia tidak bisa bicara jujur pada perempuan itu. Rasanya pasti lebih sakit dari apapun. Mungkin Jejo malah tertawa melihat kesialan yang didapat Karla baru-baru ini. Tidak ada yang tahu. Setelah bicara panjang lebar dengan Rere, Karla bergegas pulang. Dia mulai sadar bahwa penampilannya sangat urakan. Bahkan, dia belum mandi dari tadi pagi. Pantas saja semua orang menjadikannya pusat perhatian.  Dia menekan tombol lift untuk sampai ke lantai apartemennya. Semua baik-baik saja sampai di mulai berjalan keluar dari lift. Sebuah sentuhan tangan di bahu membuatnya menoleh. Dia kaget bukan main. Dia sedang diikuti oleh pria yang berperan sebagai dosen di kampusnya, Natio. “Hai!”sapa cowok itu sambil tersenyum. “Pak, ngapain disini?”tanya Karla dengan mengernyitkan dahinya. Dia mulai curiga dengan sesuatu. “Jangan bilang, anda mengikuti saya?”lanjut Karla berusaha menghilangkan kecurigaan itu. Wajah Nat menunjukkan hal sebaliknya. Dia seakan mengiyakan hal itu. “Gila. Anda sudah gila? Saya bisa melapor hal ini ke pihak kampus. Anda kira saya tidak punya privasi?”tegas Karla dengan emosi yang meluap-luap. Enak saja. Walau Nat adalah seorang dosen, dia tidak punya hak untuk mengikuti mahasiswanya. Dan lagi, bagi Karla, dia tak lagi seorang pacar. Persetan dengan pacaran via Tinder. Kejadian itu selalu membuatnya trauma mencari pacar via aplikasi dating. Dia sudah berkomitmen, dia tidak akan melakukan hal itu di masa depan. “Tenang dulu. Saya kesini demi kamu.” “Jangan bercanda!” “Saya dengar, kamu sedang kesulitan finansial. Dan lagi, ada rencana untuk berhenti kuliah? Gila. Saya tidak menyangka.” “Kok bapak bisa tahu?” “Makanya dengerin dulu. Gak enak bicara disini.”ujar Nat membuat Karla sadar. Benar juga, mereka sedang berada di tengah jalan. Dengan terpaksa, Karla mengajak pria itu untuk masuk rumahnya. Lagian, dia juga bakal pindah dari tempat ini. Tidak masalah jika cowok itu tahu.  Natio tidak sengaja bertemu Karla di Kafe. Dia heran melihat kehadiran Karla yang seperti alien. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Pembicaraan yang membuat Natio bergegas mengikuti Karla saat sudah berpisah dengan Rere.  “Pokoknya, saya tidak sengaja dengar percakapan kalian.” “Terus apa hubungannya sama anda? Saya tidak pernah meminta diikuti.” “Saya berniat mau bantu loh. Anggap saja saya kiriman dari sorga.” “Ih, ogah banget. Mending saya melarat daripada dapat bantuan dari anda. Anda sudah bikin saya jengah dengan semua pesan beruntung yang kayak pesan kematian itu.” “Ini tidak ada hubungannya dengan itu. Dan saya minta maaf kalau sudah membuat kamu merasa terganggu.”ucap Natio secepat mungkin. “Dan bantuan ini tidak gratis.” “Saya tidak mau. Udah, sekarang keluar! Saya tidak mau orang-orang tahu anda disini.” “Siapa yang bakal tahu kalau kamu gak ngasih tau?” “Udah. Sekarang anda bisa pergi!”ujar Karla tegas. Dia kesal banget sampai pengen ngebunuh Nat. Beban di kepalanya bertambah dua kali lipat. Ngurusin apartemen aja gak beres, ditambah lagi sama dosen menyebalkan itu.  Panggilan telepon membuat Karla berhenti memikirkan segala hal buruk. Sayangnya, hal buruk yang lain bertambah. Panggilan dari mama membuatnya menghela nafas. Dia harus bersikap normal pada orang tua itu. Jangan sampai segala nasib sial ini tercium sampai ke rumah. “Hello..” “Kamu kenapa jarang telpon mama?” “Sibuk banget. Emangnya mama, kerjanya di rumah doang?” “Siapa suruh kuliah lagi? Udah dapat kerjaan bagus ngapain kuliah lagi?” Kalimat itu bikin Karla menggigit bibir. Dia merasa ucapan mama sangat relate dengan hidupnya saat ini. Dan lebih parah, Karla sudah dipecat. Dia sudah tidak punya harapan untuk tetap bertahan.  “Kamu dengar mama?” “Iya ma.” “Sekalian, Hyena ulang tahun minggu depan. Kamu datang ya.” “Apaan sih, udah gede masih aja ngerayain ulang tahun. Kayak bocah aja.” “Bilang sendiri sama tante. Pokoknya kamu harus datang. Mama kan gak bisa.” “Iya, ma.” “Ya udah. Kamu istirahat sana.” Bicara dengan mama berakhir. Ini beneran kayak pepatah yang bilang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kepala Karla rasanya mau pecah. Di antara banyak orang diluar sana, kenapa dirinya yang harus mengalami nasib sial ini? Dia tertidur setelah lelah berpikir tentang hidupnya. Dan saat bangun, dia menerima banyak pesan dari Nat. Pria itu masih saja mengganggunya. Nat mengirimkan foto kamar yang ingin disewa untuk Karla. Dia juga menuliskan harga sewa yang tidak mahal. Tentu saja, Karla merasa tertarik dengan tawaran itu. Tapi dia kembali teringat. Nat itu pacarnya. Ya, pacarnya! Tidak mungkin mereka tinggal serumah. Pikiran itu ditepis oleh beberapa fakta baru yang hendak dibaca.  “Kita udah putus, dan ya, saya gak ada rasa sama kamu lagi!” “Saya mau membantu karena tidak ingin kamu berhenti kuliah. Ingat perjuanganmu untuk masuk tidaklah mudah.” “Selain saya, adik saya juga tinggal disana.” Keresahan hati Karla semakin tidak menentu. Dia berusaha berpikiran logis. Ini sangat memungkinkan untuk diambil. Kesempatan berharga yang tidak datang dua kali. Karla akan memanfaatkan kesempatan untuk segera keluar dari rumah itu. Jika sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus, dia akan segera pergi. Ya, ini tidak rumit. Tetapi sebuah pesan baru membuatnya berpikir lagi dan lagi. “Tapi, ada syarat yang harus kamu patuhi. Hanya satu syarat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN