~ pindah atau tetap tinggal? ~

1422 Kata
Tinder - Dating, Make friends and Meet new people. Aplikasi itu tiba-tiba muncul waktu Karla mencari aplikasi game di handphonenya. Waktu itu dia lagi galau saking penatnya hidup kayak gini. Dia gak punya satu haripun untuk bernafas. Senin sampai sabtu kuliah. Dan hari minggu, dia juga mengerjakan tugas di kampus. Dia benci ada di keadaan itu. Mau nyari teman curhat, tapi Jejo jarang di rumah.  Jadilah dia menginstal aplikasi Tinder, dengan harapan menemukan teman baru. Tapi siapa sangka, dia malah pacaran sama Natio. Cowok yang mengaku sebagai programmer di Cahaya Nata. s**t man! Karla sampai di rumah dengan beban di pundaknya. Dia mendapati Jejo disana sedang menunggunya. Argh, dia lupa sudah membuat janji dengan cewek itu. Dia menaruh sepatu dan langsung duduk di sofa. “Gue mau minta maaf kalau salah.” “Itu cuma pembelaan diri kan? Lo gak merasa bersalah.”tanya Jejo sinis. “Je, apa yang gue bilang itu benar kan? Kalau lo terus-terusan bawa pacar sampai larut, lo bisa menimbulkan fitnah. Gak cuma itu, gue terganggu istirahat.” “Lo sok paling hebat ya, Kar.” “Intinya gue minta maaf kalau itu nyakitin hati lo. Tapi gue ngelakuin ini demi lo, Je.” “Lo cuma iri! Jelas banget, lo iri sama gue gara-gara lo gak punya pacar.” “Gila lo ya. Lo kekanak-kanakan banget sih? Buat apa gue iri? Pacaran cuma menambah beban.” “Terserah. Gue mau pindah aja.” Karla terbelalak. Apa-apaan ini, emangnya dengan kabur semua masalah kelar? Apartemen ini mereka sewa selama setahun penuh. Dan kalau dia pindah, dia rugi sendiri.  “Ayolah Je, kita bisa bicarakan baik-baik.” “Besok gue pindah. Tolong uang apartemennya lo balikin sama gue. Ini semua bukan salah gue, ini karena lo yang duluan membuat masalah.”ucap Jejo sambil melipir ke kamarnya.  “Gak bisa gitu dong, Je.”ucap Karla cemas. Jejo gak peduli. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras. Bukan masalah uang atau apapun itu, Karla gak mau tinggal sendirian. Dia takut berada di tempat sebesar ini seorang diri. Tipe manusia yang butuh orang lain setiap saat. Jejo sudah tidak bisa diajak diskusi disaat Karla bergumul dengan dirinya sendiri. Hidupnya benar-benar kacau.  Dia tidak punya uang tabungan. Bukan karena terlalu boros, tapi karena dia baru membayar uang UKT dan kuliah semester 1. Jangan harap dia punya asupan dana dari orang tua. Dia tak pernah diinginkan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana. “Tidak usah lanjut. Dapat gelar A.Md sudah cukup buat mama. Sekarang kamu fokus kerja dan ngasilin uang yang banyak.  Begitulah mamanya berprinsip. Prinsip yang bikin Karla naik darah. Sayangnya, cita-cita yang besar itu tak mudah ditarik ulur. Karla tetap memegang harapannya. Bodo amat! Rezeki itu mengalir untuk orang yang mau berjuang.  Dan sekarang, anggapan itu sirnah sudah. Dia tidak mau hidup sendirian. Dan lagi, dia tidak punya uang untuk membayar Jejo. Pertemanan di antara mereka seketika berubah menjadi permusuhan. Beberapa orang pernah bilang. Jangan sekali-kali tinggal bersama sahabat yang kau anggap baik. Dunia akan berubah ketika kalian di satukan di tempat yang sama selama 24 jam. Itu bukan sekedar kata. Banyak pertemanan yang hancur hanya karena keegoisan masing-masing. Lalu, bagaimana selanjutnya? Harga diri Karla akan jatuh jika meminta uang kepada mamanya. Orang itu itu akan tertawa bahagia karena prediksinya benar soal masa depan Karla. Sial. Ini benar-benar memuakkan. *** Bak diterjang angin badai, Karla merasa hidupnya semakin parah. Lebih baik mati daripada hidup seperti ini. Tapi dia tidak punya nyali untuk mengakhiri hidupnya. Selain takut semesta marah, dia juga tidak kuat melihat dirinya tersiksa menggantung diri atau meneguk racun. Dia tidak berani karena terlalu pengecut. Tuhan memang memiliki ketetapan yang tidak bisa dimengerti. Dan kali ini, kesialan Karla semakin menjadi. Dia menelan air ludahnya sambil berpikir hendak berkata apa. “Kamu dengar saya kan? Saya benar-benar minta maaf. Tim Quality Assurance lagi berusaha untuk diminimalkan. Mau tidak mau, harus ada satu orang yang keluar. Perusahaan membuat pertimbangan matang. Akhir-akhir ini kamu sering izin dan telat masuk kantor. Ini bukan keputusan yang mudah. Mungkin kamu bisa fokus kuliah dulu baru bekerja.” Ucapan Pak Manajer membuat hati Karla sakit. Terluka oleh fakta yang membuat semangatnya loyo. Benarkah hidup harus sepayah ini? Kenapa harus dia yang merasakannya? “Tapi pak, perusahaan terlalu buru-buru melakukan ini. Bukankah harus dikabari satu bulan sebelumnya?” “Saya juga tidak mau ini terjadi. Saya benar-benar minta maaf.” Dengan wajah sinus dan marah, Karla keluar dari ruangan itu. Hanya dia satu-satunya yang tidak tahu keputusan ini. Dia yakin akan hal itu. Dia bisa melihat wajah Disty yang berusaha menghindarinya. Perempuan itu sama saja seperti Jejo. Mereka tidak tulus menjalin hubungan dengan Karla. Dia pasti berusaha menyelamatkan diri walau hal itu membuat Karla jatuh.  Bagi Karla, bekerja memang melelahkan. Tetapi lebih melelahkan jika tidak punya uang. Terutama karena dirinya sedang kuliah. Jika tidak, Karla mungkin bisa mencari alternatif lain dengan usaha keras. Detik itu, dia berada di tepi jurang yang siap membawanya jatuh ke bagian terdalam. Apa yang harus ku lakukan? Pertanyaan itu menghantui Karla sepanjang perjalanan. Seketika, air matanya mengalir deras. Dan tak sengaja, dia bertemu Rere yang baru naik KRL. Perempuan itu tampak kaget melihat keadaan Karla. “Kar, lo gak apa-apa?”tanya Rere penuh kuatir. Rasanya Karla tidak bisa percaya pada Rere. Pengalaman membuatnya ragu untuk jujur. “Hei, lo udah balik?” “Udah. Gue lagi gabut di kantor. Jadinya pulang cepat.” “Oh,,” “Jawab dulu pertanyaan gue.” “Gak kok. Gue gak apa-apa.” “Gue gak percaya!”ucap Rere tegas. Dia bicara dengan nada suara yang tinggi. Dia menatap Karla dengan ketegasan. Ini sudah tidak bisa dihindari. Dengan  terpaksa, dia menceritakan semuanya. Ada keraguan jika Rere mungkin akan menganggapnya sepele. Ternyata tidak. Perempuan itu malah bersikap tenang. Dia membuat Karla sadar bahwa dipecat dari kantor bukanlah hal yang harus ditangisi.  “Lo serius?”ucap Karla tidak percaya. “Iya. Gue pernah dipecat karena perusahaan bangkrut. Bukan cuma sekali, tapi dua kali. Dari situ gue belajar untuk lebih berjuang lagi. Pasti nanti lo dapat kerjaan yang lebih baik.” “Thanks, Re. Lo udah bikin gue tenang.” “No problem.” “Tapi sekarang, gue punya masalah lain.” Mereka sampai di kampus tepat pukul enam sore. Mereka masih bisa istirahat sebelum mendengarkan sejumlah materi dari dosen. Enaknya ayam saus tiram tak begitu terasa di mulutnya. Selera makannya tidak terkontrol. Atas perjanjian dengan Rere, rahasia ini ditutup dari Gly dan Winny. Bukannya tak ingin jujur, Karla belum siap menguak fakta tentang dirinya. Dunianya sedang runtuh. Dia punya cicilan Iphone yang belum lunas. Tidak hanya itu, dia juga sering memesan barang dengan sistem Pay Later. Sebenarnya dia sudah mempertimbangkan segala hal. Dia melakukan ini tidak sembarangan. Dengan anggapan dia selalu menghasilkan uang, dia yakin untuk menggunakan fitur Pay Later itu. Ternyata masa depan tidak bisa ditebak. Lihatlah, dia resmi jadi manusia yang jobless. “Kamu kenapa gak masuk? Kehadiran bisa jadi masalah buat nanti UTS.” Pesan dari Natio yang membuat Karla menarik nafas panjang. Sejak mengenal pria itu lebih nyata, rasa suka di hati Karla berubah jadi hampa. Dia kesal mendapat pesan berantai dari pria itu. Dia ngebet banget deketin Karla. Padahal Karla sudah tiada rasa padanya. “Tidak apa. Itu yang gue inginkan!”balas Karla karena sudah muak menerima semua perhatian itu.  “Loh, kamu udah gak niat kuliah? Kamu kira gampang masuk kampus ini?” “Peduli amat!” Karla melempar ponsel ke arah kasur. Ponsel yang kalau jatuh akan membuatnya menangis tujuh hari tujuh malam. Itu belum lunas woy. Sumber pendapatan sudah gak ada, tapi cicilan terus berjalan.  Panggilan dari seseorang membuatnya mengambil handphone itu. Tertulis nama Rere disana. “Halo, Re.” “Kar, setelah gue pikir-pikir. Teman lo yang bernama Jejo itu kurang ajar juga. Kenapa lo harus bayar sama dia?” “Maksudnya?” “Gue tahu cara menghindari itu semua.” “Apa, Re?” “Lo pindah dari sana. Kalau lo pindah, anggap uangnya hangus karena tidak sesuai perjanjian. Beres kan?” “Tapi, gue juga rugi dong.” “Lo pindah dari sana. Dan bilang sama Jejo, lo bakal sewain apartemen itu. Kalau ada yang menyewa, uangnya dibagi dua.” Karla berpikir sejenak. Ide itu tidak terlalu buruk. Dan ya, ini adalah win win solution. Karla tidak terlalu dirugikan. Yang jadi pertanyaan, kemana Karla harus pergi? Dia tidak punya uang. Gajinya yang terakhir habis untuk cicilan. Dan sisanya bisa digunakan untuk hidup satu bulan ke depan. Jika menunggu dapat kerjaan baru, Jejo keburu ngebet minta ketemu. Karla harus mengambil keputusan dengan segera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN