~niat belajar bareng~

1375 Kata
“Jadi kita kerjanya dimana?”tanya Winny sambil merapikan kacamatanya. Dia sibuk menganalisis case yang diberikan dosen. Semua orang saling melihat.  “Gue gak bisa. Kita kerjain di kafe aja.”ucap Karla secepat kilat. Seketika Gly tertawa mendengarnya. Cuma dia yang paham kondisi Karla saat ini. Dan itu bikin Karla menghela nafas kesal. “Jangan Kar. Kita cari yang low cost. Masih banyak yang harus dibayar loh.”ucap Rere realistis. And yeah, Karla mengerti akan hal itu. Dia yang paling miskin di antara teman-temannya. “Bisa sih di rumah gue. Tapi lumayan jauh.” “No problem. Gue sama Gly kan bawa motor.”balas Rere menyanggupi. Yah, mereka bisa saling menumpang. Di antara mereka cuma Karla yang menjadi beban. Dia gak bisa bawa kendaraan apapun. Winny masih better karena dia bisa bawa mobil. Terkadang menjadi tidak sempurna itu sangat menguntungkan. Masalah kelar. Tak lama, Nat datang dengan lembaran kertas hasil kuis minggu lalu. Dia termasuk dosen yang rajin. Dia cepat memberikan feedback kepada mahasiswa. Baru masuk saja dia sudah memberikan kesan yang luar biasa. Semua orang langsung diam dan dalam posisi mendengarkan dengan baik.  “Ehm,, selamat malam semuanya.” “Malam pak.” “Saya sudah mengoreksi hasil kuis minggu lalu. Nilainya cukup bervariasi. Ada beberapa yang nilainya bagus banget. Tapi ada juga yang jelek banget.” Semua orang berbisik-bisik merespon nya. “Untuk yang nilainya jelek, usahakan nilai UTS sama UAS kalian bagus ya. Jangan sampai kalian tidak lulus di mata kuliah saya.”lanjutnya. Ia segera membagikan kertas itu satu per satu. Sampai tiba giliran Karla.  “Nilaimu yang paling rendah.”ucap Nat dengan suara yang tidak terlalu keras. Karla langsung manyun. Dia segera pergi dengan tatapan kesal. Di sudut sana, Gly senyum-senyum kayak orang kesurupan. Dia pasti sedang merancang skenario menggelikan yang ada di otaknya itu. Dia cewek yang kreatifnya melebihi batas. Semisal ada suatu kejadian, dia akan membuat pengandaian yang diluar nalar. “Dapat berapa?” “90. Lo berapa?” “Cuma 70. Lo keren banget Win.” “Lo berapa Gly?” “Hmm, 50.” “Lo?”tanya Winny pada Karla yang diam membisu. Siapa yang tidak syok melihat nilai ini? Nilai paling rendah dan sangat memalukan.  “Lebih kecil dari Gly.” “Lo serius?”tanya Gly dengan wajar berbinar. Dia yang biasanya dapat nilai paling rendah untuk mata kuliah bahasa pemrograman. Dan sekarang, Karla yang kena imbas.  “Kenapa lo? Jahat banget.”komentar Rere. “Senang dong. Gue punya teman. Hahaha.” Tawa Gly seketika menjadi lebih keras. Dia tidak sadar sepasang mata melihat ke arahnya. Dia adalah cewek yang kalau tertawa tidak bisa mengontrol suara. Seakan dia menggunakan tenaga dalam hanya untuk tertawa. Cewek unik dan aneh. “Kalau mau tertawa, silahkan keluar!” Ucapan itu membuat merinding. Terlebih untuk empat cewek yang duduk di dalam satu barisan itu. Bahkan Karla ikutan takut mendengar suara tegas dan lugas yang seperti hendak memangsa orang. Argh, menakutkan. “Saya harap, jangan ada yang seperti ini lagi.”ucapnya sambil menampilkan slide presentasi untuk materi hari ini. Dengan adanya peringatan itu, empat cewek yang tadinya sibuk cekikikan seketika berubah jadi kelompok pendiam. Bahkan saat Nat menanyakan tentang materi, mereka memilih untuk diam. Mereka merasa trauma hanya dengan satu gertakan saja. Bahkan saat Nat mengucapkan selamat malam sebagai kata perpisahan, mereka diam saja. Geng cowok-cowok meledek mereka saat dosen itu pergi. Gly menutup wajahnya dengan tas. Ini sangat memalukan. Apalagi, dia jadi pusat perhatian atas sesuatu yang buruk. “Makanya, lain kali jangan begitu.”komentar Winny sambil membereskan kertas di atas mejanya. “Dia aja yang lebay. Gitu doang gak usah marah kali.”seru Rere membela. “Benar sih. Dia emang doyan mempermalukan mahasiswa. Hati-hati aja lo Gly.” “Jangan gitu dong Win. Gue takut dikasih nilai jelek gara-gara hal ini.” “Gak bakal. Dia dosen paling objektif di kampus ini. Dia bakal ngasih nilai sesuai apa yang lo dapet.” “Emang iya?” “Iya. Kakak kelas gue bilang gitu. Kalau lo gak lulus, siap-siap aja bayar uang kuliah lagi tahun depan. Kacau pokoknya.” Percakapan itu cukup menakutkan. Terutama untuk Karla yang gak pernah paham sama pelajaran pemrograman. Otaknya langsung ngebul mikirin syntax untuk sebuah case study. Rasanya lebih susah daripada ujian hidup. Karla pulang dengan pikiran yang gak karuan. Dia malah mendapat panggilan beruntun dari Nat. Dia langsung mengangkat dan menjauh dari teman-temannya yang lagi nunggu ojek online. “Hallo.” “Kamu dimana?” “Di parkiran.” “Sini ke depan Gedung C. Sekalian saja, kita pulang bareng.” “Eh, gak usah. Aku pulang pake ojek aja.” “Atau kamu mau saya kesana? Terus saya bilang ke mereka kalau kamu tinggal di rumah saya?” Inilah yang disebut petaka tak berujung. Ancaman itu berhasil bikin Karla uring-uringan.  Dia bisa gila kalau teman-temannya tahu soal hal ini. Tidak bisa dibiarkan. “Eh, gue duluan ya. Bapaknya sudah datang.” “Lo suruh kesini aja Kar.” “Gak usah. Gue gak enak sama bapaknya.” “Ya, udah. Hati-hati ya.” Beruntung dia bisa lepas dari mereka. Karla berjalan gontai dan melihat mobil itu terparkir di depan Gedung C. Dia segera membuka pintu dan duduk disamping Nat. Baiklah, ini pengalaman pertamanya menaiki mobil seorang Natio. Mobil yang sangat bersih dan rapi. Yah, bisa dilihat dari rumah yang selalu teratur. Ini bukan hal aneh. Nat memang sangat berbeda dengan Gardin. “Mulai sekarang, kita pulang bareng.” “Gak mau!” “Ini perintah!”ujar Nat tegas. “Kalau saya ada kelas malam, sekalian saja.” “Kalau saya tidak mau?” “Kamu harus mau. Kalau tidak, mereka akan tahu semuanya.”ucapnya sambil menoleh pada teman-teman Karla. Mereka masih menunggu pesanan ojek online. Suasana kembali hening. Karla merasa sangat lelah dengan hari ini. Dia baru saja mengikuti interview yang kemungkinan besar akan berakhir pada kegagalan. Dia mulai mengalami krisis kepercayaan diri. Setiap hari, prediksi tentang hal buruk datang ke pikirannya. Meski hal itu tak kunjung datang, tapi Karla selalu saja khawatir. Lantunan piano terdengar memecah keheningan. Dia mencari handphonenya dan melihat panggilan dari mama. “Hallo ma.” “Kamu baik-baik aja kan?” “Iya.” “Kok kamu jarang telpon mama. Kamu ada masalah?” Firasat seorang ibu tetaplah paling ampuh. Di beberapa kondisi, seorang ibu bisa lebih dari seorang dukun. Pertanyaan itu berhasil membuat Karla sedih. Entahlah, air matanya terjatuh tetapi dia mengalihkan wajahnya dari Nat. Dia tidak mau menangis di depan cowok itu. Lebih baik nangis di depan kelas daripada di depan Nat. “Gak ada masalah kok.” “Baguslah. Mama tetap gak suka kamu kuliah lagi. Tapi kalau ada masalah, kasih tahu mama. Mungkin mama bisa kasih solusi.” “Iya. Aku baik-baik aja.” “Kuliahnya lancar?” “Lancar.” “Ya sudah. Jangan lupa makan. Mama ada tamu, udah dulu ya.” Panggilan terhenti. Karla mencoba menahan tangisannya. Dia mengusap sedikit dari wajahnya. Dia kembali fokus pada jalanan yang mulai sepi. Mereka sudah hampir sampai. “Makasih.”ucap Karla hendak melipir pergi. “Tunggu dulu.”teriak Nat dan berjalan ke arahnya. “Nilaimu jelek banget. Malam ini saya ajarin lagi.” “Engga usah. Saya capek.” “Capek apa? Kamu mau gak lulus? Nanti bayar uang kuliah mau pakai apa?” Perkataan itu sedikit menggugah hati Karla. Ya, dia harus sadar bahwa uangnya sedang menipis. Jika harus mengulang, lebih baik keluar deh. Gak usah lanjut kuliah lagi. “Kamu istirahat tiga puluh menit. Kita belajar setelah itu. Sekalian nunggu Gardin pulang.” “Gardin belum pulang?” “Belum. Katanya ada kegiatan ekstrakulikuler.” Bodoh. Natio yang pintar itu ternyata orang bodoh. Bisa-bisanya dia percaya pada Gardin. Tak mungkin dia pulang malam untuk kegiatan sekolah. Tak ada kegiatan sekolah sampai selarut ini. Karla langsung mandi sambil memikirkan banyak hal. Kepalanya pusing parah. Dia harus lanjut belajar lagi. Logikanya gak nyampe untuk soal-soal itu. Tapi dia juga memikirkan Gardin. Dia harus pulang secepatnya. Jika tidak, Nat akan curiga. “Lo mending pulang. Katanya Nat bakal nungguin sampai subuh.” Send! Pesan itu pasti akan membuat Gardin bergerak cepat. Karla langsung ganti baju dan bersiap menerima penjelasan materi dari Natio Aveliu. Ini akan jadi malam yang memusingkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN