~ada apa?~

1177 Kata
Untuk urusan fashion, Gly tidak pernah salah. Penampilannya selalu bikin pangling dengan kombinasi atasan dan bawahan yang sepadan. Bisa dikatakan dia satu-satunya orang yang fashionable di kelas ekstensi Fasilkom. Tidak heran, dia punya banyak pengagum rahasia. Kekurangan cewek itu cuma satu. Tidak bisa jaga rahasia. Secara mengejutkan, Karla tiba di ruangan kelas dengan sejuta pertanyaan. Lo pindah kemana? Lo ada masalah sama teman sekamar lo? Pertanyaan itu membuat Karla menghela nafas kesal. Gly tidak bisa dipercaya. Dia tidak bisa dikatakan seorang pengkhianat. Dia hanya tidak sengaja melakukan itu. “Pindah kemana?”tanya Winny untuk kedua kali. “Jauh. Lo gak bakal tahu.” “Lo gak bilang sama gue?”desak Rere dengan wajah cemberut. Argh, kenapa mereka harus peduli kemana Karla pergi? Itu bukan hal yang penting kan? “Sorry ya Re. Ini tiba-tiba banget.” “Kasih tahu gue, lo diapain sama teman serumah lo itu? Makanya jangan salah memilih teman.” Beruntung Nat datang. Dia berdehem dan membuat semua orang kembali ke tempat duduknya. Mereka dalam posisi hening dan tentram. Takut diusik oleh dosen itu. “Lo jahat ya, Gly. Gue udah bilang rahasiakan dulu.”bisik Karla pada Gly yang tampak terpojok. “Beneran. Gue gak sengaja.” “Mulut ember!” “Kalau masih bersuara, saya tidak akan mulai perkuliahan!”teriak Nat tegas. Dia menatap tajam ke arah Karla dan Gly. Oh Tuhan, jantung mereka berdetak tidak normal.  Karla yang pengen ngejambak Gly jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Nat terlihat marah karena memang dia maniak ngajar. Dia tidak suka diganggu kalau lagi mengajar.  Sepanjang perkuliahan, Karla dan Gly berusaha untuk bersikap dingin. Mereka tidak akan tertawa meski ada lawakan yang dibuat cowok-cowok. Sampai perkuliahan itu usai, Karla menarik Gly untuk bicara berdua. “Lo kenapa sih ngasih tahu mereka?” “Beneran. Gue gak sengaja. Gue keceplosan.” “Sial. Lo juga mau ngasih tahu mereka kalau gue tinggal sama Pak Nat?” “Hah? Lo tinggal sama siapa?”tanya Gly tidak percaya. Dan seketika, Karla terdiam. Mulut yang tidak ada spesialnya ini memang tidak bisa diajak kerjasama. Kenapa dia harus keceplosan?  Karla dan Gly merenung di bawah pohon yang dekat dengan parkiran motor. Mereka berdua sama-sama syok dengan apa yang terjadi. What the hell! Ini benar-benar gila. Dibanding Gly yang keceplosan soal kepindahan itu, Karla jauh lebih bego.  “Pokoknya, lo harus jaga rahasia ini baik-baik.”ucap Karla sambil menghela nafas.  “Lo beneran?” “Terpaksa.” “Kok bisa? Lo beruntung banget. Kalau gue jadi lo, gue akan berdoa setiap menit karena Tuhan begitu baik sama gue.” “Kayaknya lo harus cabut kata-kata itu.”balas Karla kesal. Dunia ini gak sesimpel lo nikah sama orang yang lo suka. Dikira bahagia bisa didapat dengan hidup bersama orang ganteng? Tidak saudara. Selalu ada seluk beluk dari tiap kejadian. Selalu ada yang pahit di dalam yang manis. Begitu pun sebaliknya.  Dan untuk saat ini, Karla berhasil memberikan Gly pengertian. Ya, pengertian yang sepertinya tidak akan bertahan lama. Tapi setidaknya, ada waktu buat Karla. Dia harus pindah sebelum semua terkuak. Dengan nafas tersengal, dia sampai di rumah. Sudah hampir pukul 1 malam. Ya, ini bukan hal asing untuk anak kuliah. Untung dia tidak tinggal bersama mama. Bisa-bisa mamanya ngomel dan bicara yang tidak jelas. Ketika dia hendak menyalakan lampu, dia terkejut melihat Gardin turun tangga dengan mengendap. “Sialan, gue kira setan. Ternyata lebih dari setan!”teriak Karla sambil mengatur nafas. “Jangan teriak-teriak!” “Siapa yang teriak?”balas Karla seakan tidak tahu diri. Gardin berjalan mendekat ke arahnya. Dia membawa tas besar. Entah apa isinya. “Lo harus jaga rahasia. Gue ada urusan penting.” “Urusan penting apa jam segini?” “Lo gak perlu tahu. Lo tinggal jaga rahasia ini. Awas aja kalau Nat tahu.” “Tunggu dulu!”ucap Karla sambil menahan tangan Gardin yang hendak melangkah pergi. Pikiran negatif menghantui cewek itu. Zaman sekarang, semuanya semakin canggih. Pendistribusian obat terlarang semakin marak. Dan incaran para pengedar adalah anak SMA yang...tidak polos seperti Gardin. “Lo gak pake narkoba kan?” “Lo gila?” “Ya udah, jawab aja.” “Enggak.” “Argh, baguslah.” “Lo kebanyakan nonton serial crime ya?”ledek Gardin. Dia segera pergi tanpa peduli tatapan yang diberikan Karla. Dia tidak tahu kalau orang dewasa cenderung curiga. Sikap seperti ini bisa membuatnya beranggapan negatif. Tapi dia melihat foto Gardin yang menampilkan segudang prestasi. Seketika, pikiran negatif Karla menghilang. Dia berusaha yakin kalau cowok itu memang anak baik-baik. *** Bianca duduk dengan wajah tegasnya. Dia melihat Nat yang terlihat sangat menyebalkan. Nat tersenyum sambil merangkul Karla. Sedangkan Gardin memilih diam.  “Tante gak nyangka kamu jadi begini.” “Semua orang bisa berubah. Lagian, rumah ini gak akan dijual.” “Kamu gak paham Nat. Berapa kali tante bilang, kamu pindah aja. Rumah di sana lebih besar dan bagus.” “Tante bisa tinggal di rumah itu. Tapi jangan ambil rumah ini.” “Bukan itu masalahnya.”balas Bianca kesal. Dia menatap tajam pada Karla yang mencoba untuk mengalihkan pandangan. “Sudah berapa lama kalian pacaran?” “Hmm, hampir...” “Dia yang tante tanya!”jawab Bianca menunjuk Karla. Karla yang merasa terpojok mulai agak takut. Dia tidak terbiasa bohong. Dan kalau keceplosan, dia bisa mati di tempat. Dia jadi ingat akan ucapannya pada Gly. Itu mah masih bisa ditolerir. Beda dengan sekarang. Dia bisa diusir dari tempat ini karena mengacaukan skenario yang dibuat oleh Nat. “Dua bulan. Tapi Kak Karla baru tinggal disini satu bulanan. Kalau tante mau, tante juga bisa tinggal disini.”ucap Gardin tiba-tiba. Perkataan yang membuat Karla menelan ludah. Gila banget. Ternyata Gardin berani pada nenek lampir di depan ini.  Bianca terlihat kesal. Dia mengambil tasnya dan segera pergi. Dia bersama pengawalnya itu memenuhi ruangan ini. Bikin makin panas. Setelah kepergian Bianca, Nat juga pergi ke kamarnya dengan wajah murung. Pada kenapa sih? “Heh, mereka ada masalah apa?” “Entahlah.” “Serius, Gar. Cerita sama gue.” “Tanya sendiri sama Nat. Gue ngantuk banget, mau tidur.” Apakah semua orang di rumah ini kejatuhan meteor? Sangat aneh dan menyebalkan. Karla melipir ke dapur dan memikirkan makan siang yang enak. Nenek lampir itu bikin suasana rumah ini jadi gelap. Dia membawa aura kejahatan. Karla jadi kasihan sama dua cowok itu. Mereka tiba-tiba berubah sedih. Bahkan seorang Nat yang lebih suka tersenyum langsung murung.  Dia membuka kulkas dan melihat banyak bahan untuk dimasak. Baiklah, mari buktikan keahlian. Mereka juga sering masak, tapi masakannya pasti tidak terlalu enak. Itulah anggapan Karla pada dua cowok itu. Apapun yang terjadi pada mereka, pasti itu hal yang menyakitkan. Ada apa dengan rumah ini? Kenapa mereka tidak mau pergi? Ini bukan rumah yang terlalu besar. Ya, meskipun pemandangannya sangat indah. Yang pasti perempuan itu menawarkan mereka rumah yang lebih besar. Dan apa hubungannya dengan Karla? Apakah jika punya pasangan, semua akan beres? Kok bisa? Ini terlihat tidak masuk akal. Apapun itu, Karla ingin membuat hati mereka kembali tenang. Anggap sebagai ucapan terimakasih untuk tempat tinggal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN