~tipeku~

1135 Kata
Hari minggu pagi jadi saat yang tepat untuk tidur sampai siang. Kapan lagi mengistirahatkan badan yang hampir remuk itu? Karla tetap di kamar meski cahaya matahari menyilaukan. Terdengar suara berisik dari luar. Suara cekikikan yang tak bisa dihindari. Berkali-kali Karla menutup telinga, tapi suara itu terlalu luar biasa. Dia mendengus kesal dan segera keluar. Dengan mata tertutup, dia berjalan turun melalui tangga. Dia tidak sadar kalau dirinya jadi pusat perhatian. “Bisa diam gak? Baru jam segini udah berisik!” “Ini udah jam 10. Kakak aja yang telat bangun.”ucap Gardin sok imut. Emang ya, di depan Nat dia selalu bersikap baik. Aslinya nakal sampai ke tulang-tulang. Bikin kesal. “Oh, kamu yang namanya Karla?”ucap seorang pria yang kehadirannya membuat mata Karla melek. Well, dia sangat sempurna. Apalagi senyumannya. Beugh, bikin pangling.  “Saya Pamungkas.” “Ah, i-iya.” “Hmm, mending kita makan bareng. Mumpung makanannya baru matang.”ajak Pamungkas sambil memaksa Karla untuk duduk. Kenapa mesti di saat kayak gini? Dia sedang berpenampilan urakan. Sangat payah. Karla hanya diam. Dia juga baru di tempat ini. Rasanya tidak enak langsung akrab. Argh, menyebalkan. Di sisi lain, dia mendapat tatapan iseng dari Gardin. Bocah menyebalkan itu selalu bikin emosi. “Terus, abang udah gak pergi lagi kan?”tanya Gardin sambil menikmati potongan daging slice yang enak. “Bakal pergi sih. Tapi cuma mau mengurus sesuatu doang.” “Terus, disini kerja dimana?” “Di perusahaan tekstil yang di Kuningan.” “Wah, keren banget!” “Gak keren. Lebih keren Nat.” Ini benar-benar suasana pagi yang aneh. Siapa sangka Karla malah tinggal bersama mereka. Orang asing yang awalnya pacar onlinenya. Ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Tapi dia merasa  sedikit beruntung. Seakan Tuhan yang ngasih jalan ini untuknya. Terlepas dari pengkhianatan orang-orang disekitarnya, dia malah diberikan tempat tinggal yang tidak terlalu membebani. “Lo mau kemana?”tanya Gardin saat Karla keluar dengan sneaker. Dia hendak memakainya. “Olahraga.” “Lo gak waras ya? Ini udah jam 11. Olahraga macam apa jam segini?” “Lo mau tahu? Ayo ikut.”tawar Karla sambil menggerakkan badannya perlahan. Gardin merasa terpanggil untuk mengikuti cewek itu. Bagaimanapun, ini sudah terlalu siang untuk olahraga. Tidak masuk akal. Karla berjalan dengan penuh semangat. Dia juga membawa payung untuk menghindari teriknya sinar matahari. Dia melihat Gardin melongo saking penasarannya.  “Ah, syukurlah masih buka. Bu, mau gudeg dua ya. Satunya porsi gede.”teriak Karla pada pemilik gudeg yang ada di pinggir jalan.  “Lo mau makan lagi?” “Iya. Lo mending duduk.” “Jadi ini olahraga yang lo maksud?” “Waktu kita jalan kaki, itu udah olahraga. Sekarang saatnya makan.” “Gue gak mau. Gue gak suka gudeg.” “Udah pernah nyoba emang?” “Enggak. Tapi gue emang gak suka.” “Coba dulu, Gar. Kalau gak suka, entar kasih gue.”desak Karla kesal. Gardin hanya duduk dengan wajah cemberut. Dia merasa tertipu mengikuti Karla sampai sini. Ditambah lagi matahari bersinar amat terik. Dia hanya berdalih mau olahraga. Niat sebenarnya adalah jajanan pinggir jalan. Akhirnya, Gardin mencoba. Dia mulai tertarik, rasanya tidak terlalu buruk. “Lumayan.” “Tuh kan, emang enak.” Gardin menikmatinya dengan lahap. Untuk orang yang pertama kali makan gudeg, dia termasuk yang unik. Biasanya orang selain Jawa emang gak terlalu suka makanan itu. Mereka lebih suka makanan pedas. “Lo jangan ngelakuin itu lagi ya.” “Ngelakuin apa?” “Mengambil kertas tugas gue. Kalau gue gak lulus, gue harus tambah bayar kuliah. Apa lo tega?” “Jadi lo mau tinggal di rumah gara-gara duit?” “Exactly. Gue gak mau munafik.” “Lo terlibat hutang? Atau Nat sama lo beneran pacaran? Dia sugar daddy lo selama ini?” “Astaga. Anak SMA macam apa yang sudah tahu istilah macam itu?” “Gue beneran nanya!” “Kenapa gak nanya sama Nat?” “Gue mau-nya nanya sama lo!”ucap Gardin tegas. Baiklah, hubungan mereka memang terlihat kaku. Terutama Gardin. Dia tak terlihat mau  bicara panjang lebar dengan Nat. Apa saja yang dikatakan cowok itu seperti perintah untuk Gardin. Hubungan kakak adik yang rumit. “Hidup gue hancur. Dan Nat memang terlalu baik karena mau bantuin gue.”seru Karla dengan mimik wajah sedih. Dia tak akan punya kesempatan hidup jika tak dibantu oleh Nat. Dia bicara jujur soal pekerjaan yang kacau hingga pertemanan yang buyar. Andai hanya sebatas itu, tapi Karla harus rela keluar dari apartemen demi harga diri dan hidup kedepannya. “Malang banget.” “Emang. Nat mau bantuin karena kasihan gue gak bisa lanjut kuliah.” “Argh, gue jadi merasa bersalah.”ucap Gardin kayak lagi ngelawak. Mungkin dia merasa kasihan dengan keadaan Karla. Siapa sih yang sanggup hidup sendiri dengan petaka yang muncul tiba-tiba. Apalagi gak ada orang yang bisa dijadikan sandaran. “Hello. Iya, tunggu ya.” “Hmm, gue ada urusan. Lo balik duluan ya.” “Mau kemana?” “Ah, bilang sama Nat, gue ada kerja kelompok.” Gardin pergi tanpa peduli dengan wajah Karla yang penuh tanya. Karla sudah yakin anak itu melakukan sesuatu yang tidak benar. Kerja kelompok hanya alasan. Tapi itu bukan urusannya. Apalagi, dia sudah janji tidak akan mengusik Gardin. Lebih baik menghindari masalah. Dia kembali dengan langkah yang lambat. Sudah terlalu lelah dipanggang teriknya sinar mentari. Dia tidak menyangka kalau Nat sedang duduk di pintu masuk. Dan ini jadi situasi canggung.  “Bukannya kamu sama Gardin?” “Ah, katanya dia ada kerja kelompok.” “Oh,,,”balas Nat singkat. “Soal Pamungkas, sorry ya. Dia memang banyak tanya. Tapi dia bukan orang jahat.” “Aku tahu. By the way, dia tipeku banget.” “Dia udah nikah.” Seketika hal itu membuat Karla melotot. Kok bisa cowok setampan itu menikah? Baiklah, ini memang pertanyaan yang konyol.  “Pasti bohong.” “Buat apa saya bohong?” “Siapa tahu masih menyimpan rasa.” “Jangan sembarangan!” “Yang ngebet gak mau putus kan kamu.” “Itu kan dulu. Lagian, Pamungkas beneran udah nikah.”ucap Nat menjelaskan. Karla perlu tahu hal ini. Jangan tergoda oleh wajah ramah Pamungkas. Dia emang ramah sama semua orang. Itulah yang membuat seorang Nat yang dingin bisa jadi temannya. Seorang introvert pasti akan mencari teman yang ekstrovert. Itu akan menyeimbangkan satu sama lain. Begitulah semesta bekerja. “Argh, aku gak peduli walau dia udah nikah.”ucap Karla sambil bergegas pergi. Dia berhasil bikin Nat heran. Ucapannya barusan mengacaukan pikiran Nat. Sedang Karla malah tertawa dalam hati. Rasanya senang berdebat sama cowok itu. Argh, kenapa dia malah senang? Dasar bodoh. Jangan berharap apa-apa dari cowok yang ditemui baru sebentar. Terutama karena dia sudah berbohong di masa lalu. Ditambah lagi, dia seorang dosen yang harus diberikan jarak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN