bc

DI ANTARA RINTIK DAN RASA

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
stepfather
drama
sweet
campus
city
like
intro-logo
Uraian

Tesa, gadis cantik yang menjadi idola sekolah, terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan—termasuk perhatian dari pacarnya, Bayu. Namun, Bayu terlalu sibuk dengan bandnya, membuat hubungan mereka semakin retak. Di tengah pertengkaran mereka, sebuah insiden tak terduga terjadi. Seorang pria misterius dengan goggles biru menyerempet Bayu dengan motornya, lalu pergi begitu saja.Keesokan harinya, pria itu muncul sebagai murid baru di kelas mereka. Namanya Gin Kazama, sosok nyentrik yang tampak acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Dengan sifatnya yang santai dan sikapnya yang sulit ditebak, ia segera menarik perhatian banyak orang—terutama Tesa.Siapa sebenarnya Gin Kazama? Mengapa ia selalu bertingkah seolah dunia tidak bisa mengusiknya? Saat berbagai kejadian aneh terus terjadi di sekitar Gin, Tesa semakin penasaran dan mulai menggali masa lalu pria itu.Di antara konflik asmara, persaingan, dan ambisi, sebuah cerita yang lebih besar mulai terungkap. Apakah kehadiran Gin akan mengubah segalanya? Atau justru membawa lebih banyak kekacauan ke dalam hidup mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Pria Dengan Googles “Lo yang nggak ngertiin gue.” “Kurang ngerti apa coba? Gue selalu bersabar supaya lo bisa fokus ke karir lo. Tapi apa?” “Semua itu butuh proses.” “Apanya yang proses kalau progresnya aja jalan di tempat?” Sepasang kekasih berdiri di pinggir jalan, tak menghiraukan tatapan orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka. Perdebatan soal ‘saling mengerti’ terus berlanjut. Hari ini hari Senin, seperti biasa, si pria menjemput si wanita untuk berangkat ke sekolah bersama. Mereka bersekolah di tempat yang sama, namun pagi ini perjalanan mereka terhenti, berujung pada pertengkaran sengit di atas motor. “Lo harusnya ngerti, Sa. Gue cuma punya waktu Sabtu dan Minggu buat fokus ke band gue. Gue juga nggak boleh ninggalin pelajaran atau ngecewain orang tua,” kata Bayu, suaranya terdengar frustrasi. Ia merasa terjepit di antara tuntutan band, sekolah, dan pacarnya. Teman-teman satu bandnya menekan agar mereka segera naik level, sementara Tesa menuntut lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama. “Gue juga pengen kayak cewek-cewek lain! Sering diapelin, sering jalan bareng,” balas Tesa kesal. Ia muak setiap kali mendengar celotehan teman-temannya memamerkan kemesraan mereka di akhir pekan. Hari Senin selalu jadi ajang pamer, dan ia tak pernah bisa ikut serta dalam pembicaraan itu. “Maaf, Sa. Plis, kasih gue waktu sebentar lagi,” pinta Bayu. “Sebentar?” Tesa mendengus sinis. “Udah berapa kali lo minta ‘sebentar’? Dan gue selalu kasih. Sampai kapan?” “Band gue nggak suram, Sa! Jangan pernah bilang kayak gitu. Gue nggak akan maafin lo walaupun gue sayang sama lo,” ancam Bayu. Tesa tersenyum sinis. “Oh ya? Itu kenyataan, Bay. Band lo itu band kelas rendah. Lo pikir bisa masuk dapur rekaman?” Tamparan melayang. Namun, sebelum tangan Bayu mencapai wajah Tesa, tubuhnya tersentak ke belakang. "Bruaaakkk!" Bukan suara tamparan, melainkan suara tubuh Bayu yang terjerembab ke aspal setelah diserempet oleh sebuah motor. Di atas motor bebek dengan box besar di belakangnya, seorang pria dengan goggles berwarna biru menghentikan kendaraannya. Ia menoleh ke arah Bayu yang masih tergeletak di tanah. “Sori,” katanya singkat. Lalu, tanpa banyak bicara, pria itu menyalakan kembali motornya dan melaju pergi. Anehnya, matanya tetap terpejam, bahkan saat menjalankan motornya. “Sialan! Jangan kabur lo!” teriak Bayu. Ia bergegas berdiri, siap mengejar pria misterius itu. Namun, sebelum sempat menyalakan motornya, Tesa menahan tangannya. “Eh, tunggu. Kita belum selesai,” ujar Tesa tajam. Bayu menghela napas kasar. “Terus, lo mau apa sekarang?” “Lo tadi mau nampar gue, kan? Nih, kalo lo berani, ayo tampar sekarang,” tantang Tesa, matanya menyala penuh emosi. Bayu terdiam. Kesadarannya mulai kembali. Ia menatap wajah kekasihnya yang kesal—cantik, tapi egois, pikirnya. Ia menghela napas panjang. “Sori. Yuk ke sekolah, nanti kita telat.” Meski masih kesal, Tesa tahu mereka harus segera berangkat jika tak ingin terlambat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia naik ke motor Bayu, dan mereka pun melanjutkan perjalanan. --- SMA Willfield, Jakarta Setelah upacara pagi, para siswa kembali ke kelas masing-masing. Bagi Tesa, ini adalah tahun terakhirnya di SMA. Wajahnya yang cantik alami, rambut lurus sebahu yang dihiasi bros bunga di sisi kiri, serta segudang prestasi membuatnya begitu populer di sekolah. Kepopuleran inilah yang membuatnya arogan. Jika bukan karena statusnya sebagai siswi paling tenar, mungkin Bayu sudah memutuskan hubungan mereka sejak lama. Bayu pun bukan siswa biasa. Ia adalah vokalis sekaligus leader Progress, satu-satunya band di sekolah ini. Dengan percaya diri, ia selalu sesumbar bahwa mereka akan masuk dapur rekaman sebelum lulus. Namun, hingga saat ini, band mereka hanya tampil membawakan lagu-lagu milik band lain. Di kelas 3-A, sebelum pelajaran dimulai, Bu Nadia, wali kelas mereka, masuk dengan membawa seorang siswa baru. “Baiklah, sebelum mulai pelajaran, saya ingin memperkenalkan murid baru kita,” ujar Bu Nadia. Seorang pria melangkah ke depan. Para siswa menaikkan alis melihat penampilannya. Rambutnya belah pinggir, sedikit acak-acakan seperti tidak tersisir, namun entah kenapa tetap terlihat keren. Celananya terlalu panjang hingga menutupi sebagian sepatunya. Dan yang paling menarik perhatian adalah goggles biru yang menggantung di lehernya. Tesa membelalakkan mata. “Goggles itu…” pikirnya. Seketika ia teringat pria yang menyerempet Bayu pagi tadi. “Iya, dia orangnya!” Pria itu menatap kelas dengan ekspresi santai. “Nama saya Gin Kazama. Cukup panggil Gin,” katanya singkat. Ia lalu berjalan ke bangku kosong di pojok belakang kelas, duduk seorang diri tanpa teman sebangku. Pelajaran pun dimulai. Pak Teguh mulai menjelaskan materi matematika, menuliskan serangkaian rumus di papan tulis putih. Himpunan angka dan tanda hitung menjajah pikiran para siswa, namun tak banyak yang benar-benar memahami. Saat Pak Teguh menuliskan sebuah soal yang cukup rumit, ia menoleh ke kelas. “Kalian sudah mengerti?” tanyanya, matanya menyapu wajah-wajah muridnya. Hening. Tak ada satu pun yang menjawab. Lalu, terdengar suara dengkuran pelan. “ZZZZZZZZZZ…” Pak Teguh menyipitkan mata. Ia menoleh ke pojok belakang. Gin Kazama tertidur pulas di mejanya. Wajah Pak Teguh langsung memerah. Di tengah kelelahan menjelaskan materi yang sulit, justru ada murid baru yang tidur dengan santainya. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan sepatu dari kakinya dan melemparkannya ke arah Gin. “Swwiiiiinnnggg!” Semua murid menahan napas. Namun sebelum sepatu itu mendarat… “Dap.” Gin menangkap sepatu itu dengan satu tangan, tanpa membuka mata. Ruangan mendadak sunyi. Pak Teguh terkejut. Begitu pula para murid yang menyaksikan kejadian itu. Tesa mengernyit. “Siapa sebenarnya orang ini?” gumamnya dalam hati. Ia melirik ke arah Gin yang masih duduk santai di pojok kelas, menggenggam sepatu Pak Teguh tanpa ekspresi. Seisi kelas masih terdiam, belum ada yang berani bersuara. Bahkan Pak Teguh sendiri tampak kebingungan, seperti tak percaya bahwa lemparannya berhasil dihentikan dengan begitu mudah. Gin akhirnya membuka mata perlahan, menatap sepatu di tangannya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seolah sedang memeriksa barang aneh. Setelah itu, dengan santai, ia meletakkan sepatu tersebut di atas mejanya dan menyandarkan punggungnya ke kursi. “Pak, sepatu Bapak jatuh,” katanya datar. Beberapa siswa menahan tawa, tapi tak ada yang berani benar-benar tertawa keras. Pak Teguh yang masih terpaku akhirnya tersadar, wajahnya semakin merah. “Gin Kazama! Jangan macam-macam di kelas saya!” bentaknya. Gin hanya mengangkat bahu, lalu kembali menutup matanya. Tesa menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang aneh tentang pria itu, dan ia berniat mencari tahu lebih jauh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
203.8K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook