Bab 3

958 Kata
Sang Putri dan Tukang Tidur Pulang Sekolah Bayu tidak bisa mengantar Tesa pulang hari ini. Selain karena mereka masih bersitegang, tubuh Bayu juga masih remuk setelah kejadian di belakang kantin. Saat ini, ia dan teman-temannya masih terbaring di UKS, mencoba mengobati luka-luka mereka. Tesa menghela napas panjang. Ia tidak suka berjalan sendirian pulang ke rumah. Bukan karena takut, tapi lebih kepada menjaga citranya. Seorang putri seperti dirinya harus selalu ditemani oleh seorang pengawal—entah itu pacarnya atau seseorang yang cukup layak untuk terlihat di sisinya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menunggu di kelas sampai semua murid pulang. Namun, yang membuatnya sedikit risih adalah kenyataan bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Di sudut kelas, seorang cowok masih tertidur dengan tenangnya. Tesa melirik ke arah Gin yang duduk bersandar di kursinya dengan kepala tertunduk. Napasnya teratur, wajahnya tampak begitu damai seolah dunia di sekitarnya tidak ada. "Zzzzzzzzzzz…" Tesa mendengus pelan. "Dasar tukang tidur." Seharian ini, bisa dihitung dengan jari berapa menit Gin membuka matanya. Bahkan di kelas-kelas lain, cowok itu masih sempat tertidur, membuat banyak guru naik pitam. Tapi anehnya, setiap kali diminta mengulang penjelasan, Gin mampu menerangkannya dengan lebih sederhana dan jelas—bahkan lebih baik dari guru itu sendiri. Tesa mendekati meja Gin secara perlahan, matanya memperhatikan wajah cowok itu. Ada sesuatu yang menarik tentang dirinya. Dengan mata terpejam dan ekspresi tenangnya, Gin terlihat berbeda—seakan bukan anak berandal yang bisa melumpuhkan lima orang sekaligus hanya dalam hitungan detik. Tanpa sadar, senyum kecil tersungging di bibir Tesa. "Apa gue tampan?" Tesa terlonjak kaget. Gin masih menutup matanya, tetapi bibirnya melontarkan kalimat santai. "Kenapa senyum-senyum gitu ngeliatin gue?" Wajah Tesa langsung memerah. Ia melangkah mundur, tangannya berpegangan pada meja-meja di sekitarnya untuk menjaga keseimbangan. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku lagi ngeliatin dia?! Ia buru-buru menoleh ke luar jendela untuk mengecek halaman sekolah. Masih ada beberapa murid yang berkeliaran, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari sebelumnya. "Ah, sekarang sudah cukup sepi," gumamnya. Tanpa menoleh lagi ke arah Gin, ia segera mengambil tasnya dan pergi dari kelas itu. --- Di Bawah Terik Matahari Langit sore Jakarta begitu terik. Panasnya terasa menyengat, ditambah dengan polusi udara yang membuat napas terasa berat. Udara gerah semakin membuat keringat bercucuran, membasahi pelipis dan leher Tesa yang sejak tadi berjalan tanpa henti. Berkeringat, Tesa terus melangkah, mencoba mengabaikan rasa letih yang mulai menjalar ke kakinya. Meski berasal dari keluarga berada, ia memiliki prinsip ekonomi yang ketat. Jika bisa tidak mengeluarkan uang, maka itu harus dilakukan. Di setiap langkahnya, Tesa semakin menyadari bahwa keputusan berjalan kaki ini adalah kesalahan besar. Sandalnya mulai terasa tidak nyaman, debu-debu jalanan menempel di kakinya, dan rambutnya yang berkibar tertiup angin terasa semakin lepek. Namun, meski tubuhnya protes, harga dirinya tidak mengizinkan dia menyerah begitu saja dan naik kendaraan umum. Saat melewati pertokoan kecil di pinggir jalan, aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan menggelitik hidungnya. Perutnya yang sejak tadi hanya diisi udara mulai meronta. Ia menoleh sekilas ke arah gerobak gorengan yang menjajakan pisang goreng, bakwan, dan tahu isi yang masih mengepul panas. "Aduh, enak banget baunya," gumamnya pelan. Tangannya hampir saja merogoh saku untuk mengambil uang, tetapi ia buru-buru menahannya. Tidak! Ini ujian kesabaran. Kalau aku bisa menahan lapar sampai rumah, berarti aku menang. Dengan tekad bulat, Tesa mempercepat langkahnya, berusaha mengalihkan perhatian dari godaan makanan. Hanya beberapa blok lagi, dan ia akan sampai di rumah. Tapi tetap saja, jalan kaki di bawah matahari yang terik seperti ini benar-benar ujian berat. Tapi prinsip itu hanya berlaku untuk uangnya sendiri. Jika Bayu yang membayari sesuatu, maka Tesa bisa menjadi boros luar biasa. Karena Bayu tidak memberinya ongkos transportasi hari ini, ia memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi tentu saja, harga dirinya tetap tinggi. Ia tidak ingin murid lain melihatnya berjalan sendirian di bawah terik matahari. Itulah mengapa ia sengaja memilih rute yang lebih sepi. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ia menemukan halte. Dengan napas sedikit terengah, ia duduk di sana untuk beristirahat sejenak. Di dekatnya, ada seorang penjual minuman dingin. Tenggorokannya yang kering hampir saja membuatnya merogoh dompet, tetapi ia buru-buru mengurungkan niatnya. Rumah sudah tidak terlalu jauh. Aku pasti bisa bertahan. Matanya menatap jalanan yang ramai. Dalam hati, ia berharap ada seorang pria tampan yang tiba-tiba datang menawarkan tumpangan—seperti di film-film romantis. Dan seakan takdir mendengar harapannya, suara motor yang mendekat membuatnya menoleh. Seorang pria dengan jaket hitam dan goggles di kepalanya menghentikan motornya tepat di depan halte. Yang aneh adalah… pria itu mengendarai motor dengan mata tertutup. Ketika ia akhirnya membuka matanya, Tesa langsung mengenali wajahnya. "Gin?" Gin turun dari motornya dengan santai, lalu menunjuk ke arahnya. "Testarossa." Tesa mengerutkan kening. "Cukup panggil gue Tesa aja." Gin melirik sekeliling. "Lo belum pulang?" "Belum, lagi istirahat," jawab Tesa. Gin berjalan menuju penjual minuman dan membeli sebotol air dingin. Tesa menelan ludahnya. Ayo dong… belikan aku satu juga… "Lo jalan kaki, ya?" tanya Gin setelah meneguk minumannya. Tesa mengangguk dengan ekspresi melas. Ia berharap simpati Gin akan membuat cowok itu membelikannya minuman atau—lebih baik lagi—menawarkan tumpangan. Gin justru tersenyum kecil. "Wanita yang kuat. Salut gue sama lo." Tesa tersenyum tipis, berharap pujian itu akan berujung pada sebuah tawaran tumpangan. "Ya beginilah kehidupan gue," katanya, lalu dengan sengaja memotong kalimatnya, berharap Gin bisa membaca kode. Seharusnya, di titik ini, seorang pria normal akan berkata: "Ayo, gue antar lo pulang." Tapi tidak dengan Gin. "Hidup di dunia ini nggak peduli pria atau wanita, haruslah kuat. Karena hidup itu kejam, kawan," kata Gin santai. Ia lalu menaruh botol minuman kosong di sebelah Tesa dan kembali mengenakan goggles-nya. "Gue cabut dulu ya. Semoga lo jadi wanita yang hebat suatu saat nanti." Setelah itu, ia langsung menggeber motornya dan pergi begitu saja. Tesa terdiam. Matanya masih menatap ke arah di mana Gin menghilang. "Apa barusan dia… ninggalin gue?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN