“kalian ini kenapa, sih? Ribuut mulu kerjaannya” kesal Thania, sambil mendaratkan pukulan di kepala ku dan Bobby menggunakan buku LKS.
“aduhh” sontak aku dan Bobby meneriaki kuping Thania. Thania langsung menutup kedua kupingnya, lalu kembali mendaratkan pukulan di b****g ku dan Bobby.
“apaan sih lo, Than? Sakit tauu..” kesal ku pada Thania, sambil mengelus-elus b****g ku yang sakit, akibat di pukul Thania tadi.
“tau nih Thania, apaan sih lo?” timpal Bobby.
“eh, lo ngapain ngikut-ngikutin gue?” kesal ku.
“idihh.. siapa yang ngikut-ngikutin, elo nya aja yang ke pe de an” sahut Bobby, sambil memainkan tangannya ke kanan dan ke kiri secara berulang-ulang, diikuti dengan gerakan kepalanya yang senada dengan tangannya itu.
Thania yang gerah karena melihat kami, langsung keluar kelas, sambil menggelengkan kepalanya.
“Than, lo mau kemana?” teriakku.
“panggilan alam” sahut Thania. Aku hanya mengangguk dengan satu alis yang sedikit naik.
Tiba-tiba saja, entah datang dari mana, Rizky langsung menggandeng tanganku. Sontak ku lepaskan tanganku dari gandengannya.
“eh, lo pikir gue truck. Main gandeng-gandeng aja. Gandeng tuh Bobby. Cocok lo bedua” ucapku, sambil menaruh tas di atas meja. Lalu aku duduk di kursi, sambil sesekali melirik keluar jendela.
.
Jadi Rezky ini suka sama Elisa, dari pertengahan semester genap kelas sebelas. Dia selalu uber-uber Elisa di setiap kesempatan. Pokoknya dia itu gak mau jauh dari Elisa. Istilahnya itu ya, dimana ada Elisa, tak pernah ketinggalan pasti disitu ada Rezky. Bahkan Elisa ke toilet pun, kadang di nungguin di deket lorong toilet. Gila gak sih ni orang. Namanya juga cinta, ya, kan. Eeq aja rasa cokelat. Hahaha..
.
Thania memasuki kelas, rupanya dia sudah selesai menunaikan hajatnya.
“tumben lo buang hajat di sekolahan? Toilet di rumah lo rusak?” Tanya ku, sambil ketawa.
“apaan sih. Gak tau gue nih, padahal tadi di rumah udah boker gue” sahut Thania sambil memegangi perutnya.
“salah makan lo?” jawab ku, sambil mengeluarkan handphone dari dalam tas. Thania terdiam, dan sedikit berpikir.
“gak deh, sa. Gak mungkin. Soalnya dari kemaren gue gak makan yang aneh-aneh” lalu terlihat tengah berpikir kembali.
Hening selama beberapa saat.
“lo liat apaan, sih, sa?” ikut nimbrung, sambil melihat ke layar handphone milikku.
“inih, liatin foto-foto gebetan gue” sahutku, sambil menyodorkan handphone ke arah Thania.
“siapa? Gue ya?” cerocos Rizky. Yang sekali lagi muncul tiba-tiba.
“setan lo, ya? Datang tanpa permisi, di undang juga enggak. Malu lo sama jelangkung, datang kalau di undang doang” ucap Thania spontan.
“iya, setan gue. Puas lo” jawab Rizky sambil berkacak pinggang, sambil menundukkan kepalanya, melihat ke arah Thania.
“udah ah, apaan sih lo bedua” berusaha menengahi.
“dia nih” jawab Rezky dan Thania berbarengan, sambil menunjuk ke arah satu sama lain.
“ciyee, kompakan. Biasanya jodoh sih” ucapku sambil menertawakan mereka puas.
“eh tukinem, jodoh gue itu cuman pak Adnan. Lo lupa ya?” jawab Thania sebal. Sejak awal masuk ke SMA ini, Thania jatuh cinta pada pandangan pertama sama pak Adnan, guru olahraga yang ngegap aku pagi tadi di depan ruang guru. Memang sih agak tua, cuman gak terlalu tua. Umur beliau sekitar 35an lah.
Lanjut ya. Jadi pak Adnan itu single dady atau bisa di bilang duda beranak 1. Dari berita yang aku dapat sih, istri beliau ini kuliah S2 di luar negeri. Terus kedapatan selingkuh, tapi anehnya malah istri beliau yang ngajuin surat cerai. Lalu balik lagi keluar negeri. Jadi anak beliau ikut beliau, dan di asuh oleh orang tua beliau, kalau beliau sedang mengajar.
Ku akui pak Adnan itu ganteng, dan memang banyak siswi yang suka dengan beliau. Bahkan katanya dulu sempat kejadian ada siswi di atas aku, yang nembak pak Adnan. Parah gak, si? Parah banget, kan? kulitnya sama seperti Thania, sawo matang, hidungnya mancung, dan bukan perokok. Hal itu yang bikin Thania suka sama pak Adnan, selain jago olahraga, beliau juga bukan tipe laki-laki yang suka merokok.
“cihh, pede banget lo. Gue jua ogah sama lo. Mending sama Lisa. Iya, kan, sa?” Rizky melirik ke arah ku. aku menggidikkan kedua pundakku. Thania ketawa puas melihatnya.
“eh, pak Adnan juga ogah kali sama lo. Mana mau dia sama anak cirit macem elo, item, dekil pula” sahut Rizky, lalu duduk mendempet di kursi ku yang kecil itu.
“lo kenapa sih, mepet-mepet” Rizky hanya tersenyum.
‘ih, jijik, bangke’ umpat ku dalam hati.
“gak usah bawa-bawa fisik lo. Ntar kalau gue glowing, kesemsem lo sama gue” ketus Thania.
***
‘teeeettt… teeeeeett.. teeeettt…’
Tepat pukul 07.30 AM, bel berbunyi, menandakan bahwa waktu apel pagi telah tiba. Seluruh siswa dan siswi turun ke lapangan untuk mengikuti kegiatan wajib pada setiap hari senin.
Lalu aku dan Thania pun langsung menuju ke lapangan. Bobby menyenggol tubuhku dengan sengaja, sehingga aku hampir terjatuh. Untung ada Rezky yang menolongku dari belakang. Rezky langsung sigap menahan tubuhku yang sudah setengah terjatuh. Beberapa detik mata kami beradu tatap. Thania hanya melongo melihat kami berdua.
"ternyata lo ganteng juga ya, ky" mulut ku yang selalu nyablek, tanpa di saring dan tanpa berpikir dahulu sebelum ngomong. Rezky hanya menyeringai ketika mendengar ucapan ku.
"awas, nanti jatuh cinta" celetuk Bobby. Lalu aku tersadar, dan langsung melepaskan pelukan Rizky.
"paan, hellboy ga usah ikut ngomong" lalu aku menarik tangan Thania, dan pergi meninggalkan Rezky dan Bobby yang masih di depan kelas.
"sa, maaf nih, ya. Maaff banget"
"kenapa lo, Than? Lo salah apa sama gue, jadi tiba-tiba minta maaf" tanya ku heran.
"gak, bukan itu"
"terus?" Ku tatap mata Thania.
"lo suka ya sama Rezky?" Mata ku terbelalak mendengar pertanyaan Thania.
"wahh, parah lo, Than. Lo.. asli" tak sanggup lagi ku teruskan kata-kataku, karena aku sudah terlanjur tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Thania.
"monyet lo. Gue serius. Soalnya tadi gue dengar lo bilang ganteng ke Rezky"
'astaga, jadi Thania sempet denger. Parah ini, mah. Berarti Rezky denger juga dong' langsung ku garuk kepala ku yang sebenarnya tidak gatal, mengulum kedua bibir sambil menahan malu.
"malah diem, nahan senyum pula tu bibir. Senyum aja, gak usah di tahan-tahan" goda Thania.
"gak kok, siapa juga yang suka sama Rezky. Tadi mulut gue spontan aja gitu mau nyenengin dia, soalnya dia kan udah nolongin gue" sahutku.
"alibi lo sa" sahut Thania.
"tapi emang ganteng sih Rezky. Kenapa gak lo coba aja, sa. Kasian dia nguber-nguber lo terus" goda Thania, sambil menengok kebelakang, seolah-olah memberikan instruksi. Ku ikuti instruksi Thania. Ternyata di belakang ada Rezky yang berlari menuju ke arah kami.
"Than, gue duluan, ya" izin ku pada Thania. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung meninggalkan Thania, berlari menuju lapangan.
"sa, tungguin gue" teriak Rezky. Tak ku hiraukan panggilan itu. Thania hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat ku, yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Rezky.