Eps 1: Ruang Guru
Pagi-pagi sekali terdengar suara gitar, entah dari mana asalnya. Aku yang baru datang langsung berjalan perlahan. Takut jika ternyata makhluk ghaib yang sedang mempermainkan ku. Ku tajamkan indera pendengarku, mencari asal suara musik itu. Lumayan lama, sampai pada akhirnya aku menemukan asal suara itu.
“bingo…” akhirnya aku tepat berada di depan pintu ruangan yang merupakan asal dari suara musik tersebut.
‘RUANG GURU’ begitu tulisannya, ketika aku melihat sebuah papan yang tergantung, tepat di atas pintu ruangan itu. Perlahan kaki ku menuju jendela yang letaknya kira-kira 2 meter dari letak pintu ruang guru. Namun horden di ruangan itu menutupi seluruh jendela. Sehingga aku tidak bisa melihat, siapa yang telah memainkan gitar itu.
Sekilas aku mendengar, orang itu juga sesekali menyanyikan sedikit dari lirik lagu yang sedang dimainkan oleh gitarnya. Ku beranikan diri menguping lewat tembok tebal itu. Meskipun suara ini berasal dari ruang guru, namun aku tidak mendapatkan nama guru yang pas, yang mempunyai suara ini. Suaranya begitu asing di telingaku.
Ku dengar dengan seksama. Semakin lama suara itu semakin terdengar nyaring. Akhirnya aku tahu, judul lagu yang dibawakannya. Ya, aku tahu betul, lagu yang sedang di bawakannya itu, itu merupakan lagu dari band lawas Radiohead yang berjudul Creep. Lagu ini berkisah tentang seorang laki-laki yang sedang mabuk, namun ia mempunyai masalah kepercayaan dalam dirinya, untuk mendekati wanita pujaannya dan menyatakan perasaannya kepada wanita tersebut.
Dengan sangat menjiwai, orang itu mampu membuat yang mendengar merasakan emosi yang tercipta di setiap bait demi bait, dari lagu yang ia nyanyikan. Hingga akhirnya aku larut dalam nyanyian tersebut, sampai-sampai aku lupa bahwa jam hampir menunjukkan pukul 07.00 AM. Dimana para siswa-siswi mulai berdatangan.
Kebiasaanku memang sebelum pukul 07.00 AM sudah berada di sekolah, karena rumah ku yang begitu jauh dari sekolahan, dengan jarak tempuh kira-kira 1 jam. Aku harus mempertimbangkan, hal-hal yang mungkin saja terjadi di perjalanan ketika aku berangkat ke sekolah. Tentunya aku tidak ingin hal ini terjadi. Maka dari itu sebisa mungkin aku harus berangkat lebih pagi.
Menurutku sekolah itu nomer satu. Karena aku berasal dari keluarga yang bisa di katakan dari kelas menengah kebawah, jadi aku harus sekolah dengan rajin, agar beasiswa yang aku dapatkan tidak sia-sia, dan juga aku berharap bisa mendapatkan beasiswa kembali, untuk memasuki perguruan tinggi yang aku inginkan, setelah lulus sekolah SMA ini nantinya.
Ketika aku sudah hanyut dalam lagu yang sedang aku dengarkan, yang entah siapa penyanyinya itu. Aku tersentak kaget, seseorang tiba-tiba saja menepuk pundakku. Ternyata itu pak Adnan, guru olahraga ku.
“sedang apa kamu, Elisa?”
“eh pak Adnan. Salim dulu pak” sahutku, sambil mencium punggung tangan pak Adnan.
“anak baik” celetuk pak Adnan, sambil mengusap kepala ku.
“weh,, iya dong pak. Calon orang sukses ini. Hehe” jawabku dengan nada yang cukup percaya diri. Pak Adnan pun tertawa kecil, kemudian mengamini perkataanku.
“jadi kenapa kamu berdiam diri di depan sini, nak? Kamu ngupingin apa, sampai-sampai kamu terlihat begitu serius” pak Adnan kembali menanyakan alasan ku berdiri di depan ruang guru itu.
“itu pak, waktu saya mau ke kelas, saya mendengar ada suara orang main gitar. Lalu saya cari sumber suara itu. Kan rada ngeri pak, pagi-pagi denger suara orang main gitar, mana sepi lagi. Terus saya jalan aja, eh ternyata sumber suaranya dari sini pak” sahutku sambil menujuk kearah pintu ruang guru.
Lalu pak Adnan membuka pintu ruang guru. Benar saja, disana sudah ada seorang laki-laki yang memainkan sebuah gitar klasik. Laki-laki itupun spontan menghentikan aksinya bermain musik itu. Lalu ia beranjak dari tempatnya menuju ke depan pintu, menghampiri pak Adnan.
“eh pak Ricky. Pagi-pagi sekali anda datang” seketika pak Adnan menyambut pak Ricky yang menghampiri mereka. Lebih tepatnya sih menghampiri pak Adnan, karena pak Ricky tidak melihat ada aku yang terlindung tembok di samping pintu.
‘pak? Pak Ricky? Kok bapak sih. Guru baru?’ Tanya ku dalam hati.
“hehe iya pak. Soalnya kan ini hari saya pertama ngajar disini, jadi saya tidak ingin memberikan kesan yang buruk kepada murid-murid disini” jawab pria ini, yang di panggil pak Ricky.
Aku terkejut, mulutku membeo. Terkesima melihat pak Ricky, yang merupakan guru baru ini. Bapak? Sepertinya panggilan itu tidak sesuai untuknya.
Ku lihat tubuh nya yang proporsional, dengan tinggi badan yang kira-kira 175 sentimeter itu, bisa dipastikan berat badannya kira-kira 70 kilogram. Dengan wajah yang terlihat ke arab-araban sekali. Bulu mata lentik, mata cokelat cerah, hidung mancung dan dagu nya yang berbelah. Astaga, ini orang apa bidadara. Tak lupa bibirnya yang sangat merah itu, ah, sudah pasti dia bukan tipe pria yang suka merokok. Karena pria perokok biasanya diidentikkan dengan bibirnya yang hitam.
Sadar aku sedang memperhatikan pak Ricky dengan sebegitu terpananya. Beliau sih melihatku seperti itu, entah dengan pak Ricky. Dengan mulut membeo dan mata yang tanpa kedip, terus-terusan aku melihat ke arahnya. Tentu saja mungkin dia illfeel.
Pak Adnan lalu menyenggol kaki ku. Aku pun tersadar, tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“eh.. kenapa pak?” pak Adnan hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“kamu ke kelas gih cepat, taruh tas kamu. Terus langsung ke lapangan. Sebentar lagi jam setengah delapan” kata pak Adnan, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
.
Jadi hari ini itu hari Senin. Biasanya kalau hari Senin, pasti apel pagi kan? Nah biasanya di sekolahan ini itu apel nya jam 07.30 AM. Tidak tau di sekolahan kalian atau di sekolahan anak bucan, macan, atau mahmud. Apakah sama?
.
“eh,, iya pak” aku pun langsung melengos melewati pak Adnan dan pak Ricky tanpa permisi. Sesekali aku berpaling melihat kearah pak Ricky. Ku lihat dia tersenyum kearah ku. Lalu..
‘brukk..’
Tak sengaja aku menabrak Bobby, teman sekelas ku, yang tiba-tiba saja ada di hadapan ku, padahal sebelumnya lorong ini kosong melompong, tak ada siapa-siapa.
“jalan pake mata, maemunah” kesal Bobby, dengan memercingkan kedua matanya.
“bodoo, dimana-mana ya, jalan itu pakai kaki. Bukan pakai mata. Dasar hellboy” sahutku. Lalu ku lihat lagi kedua guru yang sedang menatapku itu, mereka tertawa. Pastinya sedang menertawakan tingkah ku barusan.
.
Jadi gini guys, Bobby itu orangnya lucu banget. Dia mendapat panggilan kesayangan dari satu sekolah. Satu sekolah? Lha iya, karena dia orangnya mudah bergaul dengan orang lain. Jadi siapa sih yang gak kenal dengan Bobby Mandala, salah satu siswa di SMA Indah Pertiwi ini? Motto dalam hidupnya itu “bertemanlah sebanyak mungkin, siapa tahu nanti kamu susah, jadi temen kamu bisa membantumu” agak aneh memang, tapi masuk akal sih.
Oiya, balik lagi. Nama panggilan kesayangan kami untuk Bobby itu “hellboy”, kalian tau kan salah satu film laga atau fantasi yang berjudul hellboy itu? Badannya yang merah itu? Nah, nama panggilan itu di ambil, karena muka Bobby biasanya jadi merah kalau dia ketawa, apalagi marah. Seakan-akan bakal ada ledakan api yang keluar dari tubuhnya. Jadi lah nama itu di ambil.
Serta badannya yang tambun, sering banget jadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan ejekkan teman-temannya, tak terkecuali Elisa. Mereka juga sering banget adu mulut, sampai-sampai teman satu kelas geleng kepala karena melihat tingkah laku mereka berdua. Untungnya Bobby ini orangnya baik, dia biasa aja setiap teman-teman membullynya. Malah menurutnya itu menjadi ladang pahala buatnya, dan menjadi terkenal juga. Meskipun terkenal karena jadi bahan bullyan.