Hari libur kenaikan kelas telah tiba. Papah mengajakku pergi berlibur ke salah satu pantai yang berada di kota Jogja. Selama di perjalanan aku membaca beberapa artikel tentang pantai yang akan kami kunjungi. Tak terasa aku terlelap, suara kak Noval membangunkanku.
“Rick, kita udah sampai. Buru bangun”
“ah, iya kak” sembari menggosok-gosokkan kedua mataku dengan jempol secara perlahan.
Ku lihat pantai yang begitu luas. Karena hari ini merupakan hari libur, jadi sudah bisa di pastikan bahwa banyak sekali pengunjung yang berdatangan.
Tak henti-hentinya aku kagum melihat indahnya desiran ombak. Namun pandangan ku tertuju pada seorang wanita yang tiba-tiba saja lewat di hadapan ku. Menurut ku wanita itu begitu cantik. Dengan wajah anggunnya itu, pasti banyak sekali laki-laki yang mengidam-idamkannya, termasuk aku.
Ya, sepertinya kau sedang merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kali. Sebelumnya tak pernah ku rasakan perasaan yang seperti ini. Mungkin hal ini karena aku yang sangat introvert, juga tidak pernah peduli akan keadaan sekitar.
Jadi aku itu sering banget di panggil dengan sebutan kutu buku, karena memang hobby ku yang hanya suka membaca buku. Namun aku tidak memakai kacamata, seperti kebanyakan kutu buku di luaran sana, yang selalu diidentikkan dengan kacamata tebalnya itu.
Karena wajahku, yang menurutku memang tampan, bahkan bisa menyaingi wajah sekelas Zayn Malik itu, hampir sebagian orang mengira bahwa aku itu seorang badboy. Namun kenyataannya? Kenyataannya malah berbanding terbalik. Aku mana berani memandangi wajah mereka, kaum wanita. Maka dari itu, aku selalu menundukkan pandangan ku ketika berpapasan atau melihat wanita lain selain almarhum mamah. Meskipun aku di juluki seorang kutu buku, namun banyak sekali wanita yang mengagumi ku, karena sikap ku yang selalu menundukkan pandangan itu, tentunya disamping wajahku yang memang tampan. Tapi aku biasa saja, dan tak memperdulikan hal itu.
Tapi tidak kali ini, mataku fokus tertuju kepada wanita yang sedang berdiri di hadapan ku. Entah, siapakah namanya. Ingin ku hampiri, dan langsung mengajaknya berkenalan. Apalagi ketika dia melihat sekilas ke arahku dan melemparkan senyuman manisnya.
Tetapi, aku langsung mengurungkan niatku yang ingin menghampirinya, yang hanya sebatas ingin mengetahui namanya itu. Tiba-tiba saja, ku lihat seorang laki-laki berkebangsaan luar negeri datang menghampirinya. Laki-laki itu langsung menggandengnya, dan membawanya beranjak dari hadapan ku. Pupus sudah harapan ku untuk sekedar berkenalan dengannya.
Semenjak hari itu, hobby ku berubah. Dari yang awalnya hanya suka membaca buku, sekarang aku lebih suka bermain gitar. Menurut ku, hanya dengan bermain gitar, aku bisa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaanku sekarang ini. Terlebih aku suka menyanyikan lagu-lagu mellow bertemakan cinta. Semua itu karena wanita yang ku temui saat hari libur kenaikan kelas itu.
Dan pada saat kelulusan sekolah. Aku berniat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, aku mengambil jurusan Sendratasik. Tentunya karena aku suka bermain musik, khususnya gitar.
Hari pertama masuk kuliah, aku melihat wanita yang ku rasa tak asing wajahnya. Wajah blasteran yang cantik nan anggun itu. Iya, siapa lagi kalau bukan wanita yang ada di pantai waktu itu. Ku lihat dia mulai mendekat ke arah ku. Jantung ku langsung berdegup kencang di buatnya.
“hai, apakah kita pernah bertemu sebelumnya” Tanya wanita itu. Sontak aku terkejut mendengar pertanyaannya, berarti dia mengingatku.
“eh,, iya. Kalau gak salah, kita pernah ketemu di pantai, ya?” jawab ku, berlagak seolah mengingat-ingat kembali. Padahal aku selalu kepikiran kejadian waktu itu, mana mungkin aku lupa. Ucapku dalam hati.
“iya. Yang di Jogja itu kan?” dia seolah-olah mencoba untuk mengingatkanku akan pertemuan kami pada hari itu.
“iya.. hehe” jawabku singkat.
“waktu itu sebenarnya aku mau ngajak kamu kenalan, tapi kakak aku langsung ngajak pergi” wanita itu langsung menundukkan pandangan, melihat ke arah sepatu yang di pakainya.
“jadi yang bule bule itu kakak kamu?” Tanya ku meyakinkan. Wanita itu hanya mengangguk. Sontak aku kegirangan dalam hati.
“oiya, nama ku Putri. Carissa Putri” sambil mengulurkan tangannya di hadapan ku.
“eh..em.. aku Ricky, Ricky Prasetya” ku balas uluran tangannya. Tiba-tiba saja aku berkeringat dingin. Langsung ku lepaskan tangan itu. Putri langsung tersenyum melihat tingkahku. Lalu kami berjalan, entah kemana tujuannya.
“jadi, kamu kuliah disini?” Tanya ku, untuk memecah keheningan yang tercipta selama beberapa menit yang lalu. Putri hanya menganggukkan kepalanya.
“kamu baru?” Tanya ku lagi.
Lagi-lagi Putri hanya menganggukkan kepalanya. Ternyata dia wanita yang pendiam, sama seperti ku. Jika kami sama-sama pendiam, apa yang akan terjadi setelahnya? Tanya ku dalam hati. Tentunya aku harus menjadi orang yang sedikit lebih membuka diri, agar keheningan tak terjadi lagi.
“oh, ya?” jawabku antusias.
“jadi kamu ngambil jurusan apa” lanjutku.
“aku ngambil jurusan sendratasik” jawabnya singkat. Sontak aku terkejut, karena artinya kami akan satu kelas dong. Asikk..
“wahh, sama dong. Aku juga ngambil jurusan itu” jawabku. Sambil memperlihatkan senyum lebar ku.
“benarkah? Berarti kita satu kelas dong?” tanyanya, dilihat dari raut wajahnya, dia seperti senang. Tapi entahlah, mungkin hanya di buat-buat, karena dari tadi dia hanya menundukkan pandangan. Entah apa yang sudah terjadi dengannya.
Lalu kami berjalan menuju kelas, sambil berbincang-bincang. Tetapi jawabannya masih sama, sangat singkat.
Mulai dari hari itu, aku sudah bisa menyesuaikan diri di lingkungan kampus, mulai membuka diri dan mengikuti setiap organisasi-organisasi kampus agar predikat introvert yang melekat di diri ku ini lepas.
Hubungan ku dengan Putri? Tentunya tidak lebih dari sekedar teman dekat, karena aku tidak berani untuk mengatakannya. Sampai sekarang, hubungan kami masih baik-baik saja. Dan ku dengar sekarang dia sudah mempunyai gallery lukisan sendiri.