Zevho memandang pria di depannya yang sedang menikmati minuman hangat yang Zevho siapkan. Meski ia sedang sakit, tapi ia tidak bisa abaikan tamunya begitu saja. Hanya menyuguhkan secangkir kopi bukanlah pekerjaan yang berat. “Pengkhianatan memang selalu jadi momok untuk setiap pasangan.” Zevho menyambung pembicaraan mereka yang sempat terpotong, karena ia tinggal sebentar untuk siapkan minuman. “Bukankah terlalu banyak kebetulan yang sama di antara kita? Kamu juga hadapi pengkhianatan dalam hubungan dengan pasanganmu?” “Orang lain yang berkhianat tetapi aku menjadi korban. Sampai sekarang aku tidak bisa jujur tentang identitasku sendiri hanya supaya aku tidak ditemukan oleh para penerorku.” “Oh, ternyata masalahmu jauh lebih serius.” “Maafkan aku karena harus meminta hal ini padamu

