Suasana di rumah duka terasa begitu syahdu. Tidak ada banyak keributan tetapi hanya percakapan kelompok orang, yang duduk berkumpul berdasarkan minat dan kedekatan. Ada banyak orang yang melayat saat Karan tiba. Ia tidak begitu paham jumlah pasti dari pekerja seluruhnya di tambang. Memang, setelah Karan perhatikan, sebagian besar yang hadir malam itu sudah pasti para pekerja. Tapi, pikiran Karan tidak pada banyaknya pelayat yang ada di sekelilingnya. Ia sedang mengingat kembali percakapannya dengan Qizvy tadi siang. “Baiklah! Aku makan dahulu baru kita bicara,” kata karan pada Qizvy yang terus gelengkan kepalanya. Karan tunjukkan jempolnya dan sahabatnya itu mengganti gerakan kepalanya dengan anggukan. Karan mengambil kembali makan siangnya yang tadi sempat diambil. Ia melahap menu y

