Pria Mujur

1097 Kata
Karan masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. Jauh di depannya, tampak deretan panjang pekerja yang sedang menambang. Ia tidak tahu kalau ternyata ada begitu banyak orang yang terlibat dalam kerja ini. Ia mengira akan ada pekerja lain juga, tetapi tidak sangka bakal sebanyak yang ia saksikan. “Apa kamu sudah paham sekarang?” tanya Golzyver. Karan mengangguk. Ia masih belum lupa tawaran dari Golzy agar ia bisa tinggal di salah satu kamar asisten di vila milik Golzy. Hanya satu kilometer jaraknya dari barak yang ia sempat tempati saat ia datang pertama kali. Kamar yang sangat spesial dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menempati tempat itu. “Tuan, boleh saya tanya sesuatu?” ujar Karan dengan penuh keraguan dan sedikit terbata-bata. Apa yang akan ia bicarakan sudah menggantung sejak awal ia berhadapan dengan Golzy dan istrinya. Namun, ia tidak berani ungkapkan karena sudah diberi peringatan agar tidak sembarangan bicara jika tidak diminta. Sekarang, hanya dirinya dan Golzy sendirian sehingga ia beranikan diri. “Lanjutkan!” balas Golzy dengan suaranya yang berwibawa. “Apa yang buat Tuan pilih saya dan saya bisa beri kesan positif pada Nyonya?” “Beruntung. Kamu hanya mujur. Saya selalu penuhi permintaan istri saya dan jika ia bilang kalau kamu itu menyentuh hatinya, maka saya akan pastikan kamu tidak celaka selama bekerja dengan saya.” Hening seketika di antara mereka. “Tapi, jangan terlalu bangga. Meski istri saya menaruh hati padamu, kamu tetaplah hanya pekerja bagi saya. Jangan pernah berpikir kamu akan dapat hak istimewa lainnya dari apa yang harus kamu dapatkan. Apa kamu paham? Jawab saya!” “Pa-paham Tuan. Pindah dari kamar bawah tanah dalam waktu yang sangat singkat saja, sudah anugerah terbesar buat saya. Ampuni saya jika tampak congkak.” Karan menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap pria di depannya itu. “Jika kamu salah dan dihukum, aku tidak akan membantumu. Aku benci pencuri, pembohong dan penjilat. Camkan itu!” Karan bergidik. Pemilik tambang ini memang menakutkan. Dari yang tadinya sangat lembut saat bersama istrinya, jadi sangat sangar dan menakutkan. “Siap layani Tuan dan Nyonya dengan segenap hati.” Karan harap kata-katanya bisa jadi jaminan bagi mereka semua. Ia ingin hubungan mereka akan tetap baik-baik saja. Satu minggu kemudian. Karan sudah ada di tambang. Sudah tiga hari lamanya ia bekerja. Ada banyak hal yang ia pelajari dan satu yang ia masih harus lawan yaitu rasa lelah dan sakit pada semua otot tubuhnya. Selama di rumah orang tuanya, ia tidak pernah bekerja keras seperti sekarang. Setiap malam di kamar, ia akan usap bagian ototnya yang terasa sakit dan coba untuk mengurutnya perlahan-lahan agar peredaran darahnya jadi lancar. Buku-buku jemarinya mulai mengeras. Karena masih muda dan dianggap kuat, dengan postur tubuh cukup tinggi dengan otot yang terlihat kekar, Karan dianggap bisa lakukan kerja galian seperti pria dewasa lainnya. Jadinya, ia ada bersama kumpulan para pria dewasa yang memperlakukannya dirinya seenaknya. Celakanya, Karan tidak bisa protes. Ada peraturan bahwa pekerja tidak boleh bicara selama beraktivitas kerja. Percakapan hanya terjadi untuk hal yang penting-penting saja, itu pun sambil berikan kode pada mandor yang selalu ada di sekitar tim penambang. Jika kode unjuk jari diberikan, tunggu ijin mandor sebelum angkat suara. Tidak akan bisa langsung bicara begitu saja. Hari ke dua puluh tiga, bekerja bersama para penambang dewasa. Keringat mengalir deras melalui leher Karan. Ia sudah sangat haus. Air di botolnya sudah kosong dan ia harus minum segera, sekaligus mengisi kembali tempat minumnya tersebut. Karan lupa dengan aturan tak boleh sembarangan bicara. ‘Saya harus minum. Tidak ada waktu untuk ijin lagi.’ Kurang lebih itulah yang ada dalam pikiran Karan dan ia langsung lontarkan begitu saja karena sudah tidak bisa berpikir logis lagi. Ia sudah hampir dehidrasi dan ia sangat butuh air. “Ke dapur sebentar,” teriak Karan yang disambut teriakan oleh sang mandor. “Kurang ajar! Pekerja baru yang angkuh! Penjaga!” teriak mandor yang langsung diikuti dengan derap langkah seorang penjaga yang berdiri tak jauh dari lubang tambang. Teriakan menggelegar itu baru sadarkan Karan kalau ia sudah langgar aturan. Ia sudah dianggap lakukan kesalahan besar. Seketika rasa haus yang ia alami berubah menjadi rasa takut. Kakinya jadi lemas seperti otot tanpa tulang. Ia menyesal tapi sudah terlambat. Belum lama ini ia dengar teman pekerja yang lain bercerita tentang derita yang mereka alami jika sudah tidak disukai oleh salah satu mandor. Mereka akan diberikan tugas yang berlebihan. Terkadang, makanan mereka akan diambil dan diberikan kepada pekerja lain yang sudah bersahabat dengan para mandor. Intrik, saling iri dengki, dan persaingan selalu mewarnai keseharian mereka sesama pekerja tambang. Karan juga tahu kalau sebagai pekerja, mereka tidak akan bisa bernegosiasi dengan para mandor, jika mereka tidak pegang rahasia dari mandor tersebut. Kadang, mandor suka lakukan pelanggaran. Karan tidak begitu paham apa maksudnya, tetapi setiap malam ia akan dengar percakapan di sekitarnya. Maklumlah, kamar mereka tidak berpintu sehingga apa pun yang dipercakapkan oleh tetangga bilik, maka akan dipahami oleh anggota yang lain. Sekarang, Karan harus bisa bertahan agar tidak lakukan kesalahan yang lain lagi. Ia tidak mau dapat hukuman yang lebih sadis lagi dari mendekam di bilik hukuman dengan satu kali waktu makan saja. Dalam keadaan yang terpuruk seperti sekarang, bayangan ibunya otomatis menyergapnya. Buat Karan ingin meraung dan menangis minta pertolongan. Mustahil bisa ia lakukan apa yang ada dalam benaknya. Ia menelan salivanya berulang kali agar meredakan rasa dahaganya. Sungguh sakit rasanya karena perih dan tidak ada cairan sebenarnya dalam mulutnya tetapi ia berusaha untuk tidak bergerak dari posisi yang sekarang. Tak lama kemudian, langkah-langkah sepatu yang mendekat buat Karan mengangkat kepalanya. Rynza, yang ia kenal di kereta semakin dekat dengannya. “Maaf, Tuan. Saya seperti ingin pingsan karena sangat haus. Saya tidak ada niat untuk melawan para mandor. Murni, saya berteriak spontan karena dahaga ini tak tertahankan lagi.” Rynza menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. “Kamu buat onar untuk dirimu sendiri. Aturan adalah aturan, tidak bisa ada pembedaan antara satu pekerja dan yang lainnya. Aku bukan pengambil keputusan di sini. Aku datang untuk mengurus kebutuhanmu.” “Tolong saya, Tuan. Air yang saya bawa dalam botol ternyata, sangat sedikit sehingga tidak puas hilangkan dahaga.” “Kamu hanya pekerja yang manja.” “Lihatlah, semua keringat yang ada di sekitar tubuh saya. Ini tidak mengada-ada. Saya sebentar lagi akan kehabisan napas. Sungguh saya sangat haus. Saya butuh air.” Rynza mendelik, selama dengar semua perkataan pemuda yang ada di depannya. Selain itu, ia lihat memang wajahnya Karan tampak kemerahan karena terbakar teriknya sinar matahari. Dilema bagi Rynza, ikuti kata-kata Karan ataukah si mandor yang bertugas, agar tidak ada lagi hukuman tambahan di atas hukuman yang belum juga ia tuntaskan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN