Rynza yang bertugas untuk mengantar Karan ke bilik hukuman, bukan lagi Zoe. Sebenarnya, Golzy sudah sampaikan ke para penjaga kalau Karan itu tidak boleh diperlakukan dengan kejam karena permintaan istrinya.
Tetapi, para penjaga tidak peduli. Mereka malah kompak untuk pastikan hukuman untuk Karan tidak boleh diketahui oleh tuan dan nyonya besar.
Karan juga tidak terlalu berontak. Ia ikut saja saat Rynza menariknya keluar dari lubang galian tapi ia masih harus menuntut haknya untuk minum.
“Tuan saya memang salah. Tapi, saya mohon beri saya air karena saya sudah sangat haus. Saya tidak sanggup berjalan lagi.”
Rynza yang sudah kesal dengan Karan berhenti lalu menatap remaja itu dari atas sampai bawah untuk pastikan kalau Karan tidak bohong.
“Jadi, rasa hausmu ini yang buat dirimu tidak sabar dan lebih suka dihukum?”
“Maaf, Tuan. Saya lupa kalau harus minta ijin dulu sebelum bicara. Saya pikir saya akan segera pingsan jadi saya langsung bicara tanpa berpikir.
Rynza menggertakkan gerahamnya dan menarik Karan yang sudah terseok-seok melangkah di belakang penjaga itu.
Karan tidak ingin berdebat lagi. Rynza melepas Karan sambil memberik peringatan, “Jangan bergerak ke mana pun. Tunggu di sini!”
Penjaga itu menuju dapur umum yang mereka lewati untuk ambil air bagi Karan. Begitu lengan Karan dilepas Rynza, remaja itu langsung ambruk.
Ia pingsan karena dehidrasi.
Karan sudah berusaha untuk tidak sampai tumbang tapi apa mau dikata. Tubuhnya sudah menyerah.
Karan harusnya belajar dari pengalaman kalau ia memang tidak kuat menahan lapar dan haus. Untuk kesekian kalinya ia pingsan.
Sedang Rynza masih mengisi wadah kaleng dengan air untuk diberikan bagi remaja yang hampir mati kehausan di luar sana.
Ia sudah bergerak dengan cepat dan sempat bertengkar dengan pekerja lain yang juga butuh air.
Ia terpaksa menyerobot barisan antrian karena ia lihat tadi wajah Karan sudah pucat pasi.
“Antri Bos. Jangan main potong jalan saja!”
“Ini darurat. Perintah langsung dari wakil mandor. Saya bisa dipecat kalau terlambat bawakan air ini sesuai yang ia minta.”
“Kami semua juga antri di sini,” balas sang pria yang tadi berteriak.
“Saya bukan tidak mau antri. Sekarang, kamu ke sini untuk ambil air ini dan berikan pada wakil mandor. Saya bisa gantikan tempatmu mengantri,” tawar Rynza karena sudah kesal.
Ia hanya tidak mau sampai Karan mati dehidrasi di tangannya. Nyawa manusia yang tidak bisa dianggap remeh. Ia juga tidak akan mau dihantui oleh arwah Karan nantinya, karena mati ditangannya.
Lawan bicaranya yang sempat ribut tadi terpaksa bungkam. Ia tidak paham tugas yang ditawarkan padanya sehingga ia harus menahan dongkol karena mau tidak mau, mesti tunggu beberapa menit lebih lama.
Rynza segera tinggalkan antrian di dapur untuk menemui Karan.
Ia jadi panik sendiri melihat tubuh remaja itu sudah terbujur di tanah. Ia tadi tinggalkan Karan dalam keadaan duduk.
Jantungnya bertalu dengan lebih cepat karena bayangkan kalau anak itu benar sudah meninggal. Semua yang ia bayangkan saat ada dalam barisan antrian saat mengisi air, buat ia semakin cemas.
Rynza menekuk salah satu lututnya dan mencari pergelangan tangan milik Karan.
Ia menyentuh urat nadi dan mencari denyutan meski sangat lemah sekalipun.
Ia jadi lega saat bisa rasakan detakan yang memang amat pelan sehingga kalau tidak konsentrasi, maka ia percaya bahwa Karan sudah wafat.
Dengan perlahan ia mengatur posisi duduknya. Maksudnya, agar bisa beri kesempatan padanya memangku kepala Karan. Dengan begitu, ia bisa masukkan air yang sudah dia ambil, sedikit demi sedikit.
Rynza lakukan dengan penuh kesabaran. Hampir setengah botol air sudah habis dan Karan langsung terbatuk-batuk. Remaja itu akhirnya sadar juga.
Karan berusaha bangkit dari rebahannya. Ia menegakkan tubuhnya dan duduk di depan Rynza.
Kaleng air yang masih dipegang oleh penjaga itu diraih oleh Karan dan ia habiskan sisa isinya dengan sekali teguk.
“Terima kasih, Tuan. Maaf telah repotkan Tuan.”
“Ayo, jalan. Aku masih punya banyak kerja. Kamu bisa lanjutkan istirahatmu di sana.”
Karan mengangguk. Ia menguatkan dirinya kembali dan mengikuti langkah Rynza.
Setidaknya, tubuhnya sudah lebih segar sekarang. Hidup tanpa air memang mustahil.
Rynza bukakan pintu pagar lalu biarkan Karan masuk sendiri. Ia tidak mengantar remaja itu lagi, karena bukan pertama kalinya Karan dibuang ke sana.
Rynza yakin kalau remaja itu sudah tahu harus bergerak ke arah mana. Ia langsung kunci pintu pagar dan tinggalkan Karan seorang diri tanpa ucapkan kata pamit apa pun.
Karan sendiri langsung mencari jalan menuju cahaya kecil yang samar-samar beberapa ratus meter di depannya.
Tentu saja lampu tembok yang menyala dalam bilik itu yang akan dituju oleh Karan.
Ia akan langsung tidur begitu sudah tiba di dalam. Biasanya, makanannya akan diantar menjelang malam hari.
Masih ada beberapa jam, menurut prediksi Karan.
Ia akhirnya tiba juga di ambang pintu dan langsung menuju tempat tidur alas batu yang sudah menantinya.
“Paras lancip, apa kamu masih ada di dalam bilik ini? Di mana dirimu?” ujar Karan ingat dengan makhluk bisu yang pernah ia temui, saat masuk pertama kali.
Ia belum bisa bicara langsung dengannya, sehingga ia sapa sesuai apa yang ia inginkan.
Mungkin akan ia siapkan nama khusus. Tapi, masih belum pasti. Perlu tahu keberadaan dari makhluk asing itu terlebih dahulu.
Ada begitu banyak tanya di kepala Karan untuk sosok tersebut yang belum ia dapatkan jawabannya.
Saling komunikasi jadi sangat vital dalam kondisi ini.
Pertama kali mereka bertemu belum sempat bicara panjang sehingga ia ingin coba lagi jika mereka bisa bertemu.
Karan akhirnya baringkan tubuhnya di ubin yang dingin itu. Di satu sisi bisa redakan rasa panas karena tubuhnya bergerak dari tadi. Tapi, sisi lainnya, semakin lama dingin dari batu itu merasuk ke dalam tulang belulangnya.
Ia harus bisa beradaptasi dan tertidur.
Sementara, di luar bilik, di antara pepohonan besar.
Makhluk bertelinga lancip yang pernah bertatap muka langsung dengan Karan itu sedang berdiri sambil mengamati pergerakan Karan, sejak anak itu datang.
Ia bergeming melihat Karan masuk ke dalam bilik.
Ia jauh dari tempat Karan berada sehingga tidak bisa dengar panggilan Karan untuknya tadi.
Teringat kembali pesan dari Karan untuk datang menjemputnya. Kalimat ini yang jadi pegangan untuknya sekarang.
Tidak bisa bicara, bukan penghalang bagi si lancip untuk tetap dekat dengan Karan.
Ia masih tidak berubah. Kulit keriput berwarna hijau dengan telinga yang lancip menjulang.
Ia tunggu beberapa menit karena ia berpikir kalau Karan akan keluar lagi untuk mengitari hutan.
Dugaannya keliru sehingga ia yang putuskan untuk masuk ke dalam bilik, mendekati Karan.