Ada banyak ide dalam kepala Karan saat ia ada bersama pak kusir menuju kediaman ibunya. Wanita peramal yang tidak pernah sebutkan namanya, tetapi menjuluki dirinya sendiri buruk rupa. Sejak pagi hari ia sudah merancang segala cara untuk bisa terbuka dengan ibunya. Tapi, tidak ada satu pun yang ia dapatkan. Terlalu bingung dengan seperti apa tanggapan ibunya nanti. “Pak, mohon bersabar. Saya mungkin agak lama.” “Iya, Pak Karan. Tidak apa-apa, saya akan istirahat sebentar. Nanti, tolong bangunkan saja.” “Oh, boleh Pak. Terima kasih.” Karan tiba sudah sore hari karena ia masih sempat kerja dahulu, agar tidak terlalu menumpuk tugas yang wajib ia selesaikan. Karan menggoyang lonceng yang berfungsi sebagai bel. Tak lama kemudian peramal buruk rupa muncul. “Salam Ibu peramal,” sapa Karan

