"Aku butuh penjelasan!"
Raut wajah yang awalnya berseri seri kini berubah seketika, mata tajam itu menatap dalam pada Arfian yang berdiri dihadapannya.
Tanda tanya yang besar kian memenuhi isi kepala gadis du puluh dua tahun ini.Bagaimana tidak,ternyata CEO tampan yang ia cintai ini mempunyai istri.
"Oke aku akui."
Arfian menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, ia memikirkan cara dan merangkai kata semanis manisnya agar membuat Rahelia tidak meninggalkannya.
"Tapi ini bukan pernikahan yang aku inginkan, aku dijodohkan dan.."
"Dan mas Arfian mau karena dia kaya kan?"
Sambung Rahelia yang membuat Arfian terdiam beberapa detik.
"Kenapa bengong?atau memang karena mas Arfian mencintainya?"
Sahut Rahelia yang mulai kesal, kedua tangannya mengepal sekarang dengan raut wajah kecut yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Mungkin untuk cemburu iya, karena tidak bisa ia pungkiri bahwa Rahelia menginginkan Arfian.
"Bukan begitu sayang, jelas saja aku tidak mencintainya karena pernikahan kami hanya dijodohkan,"
"Dan kamu pun tau wanita yang aku cintai hanya kamu, gak ada yang lain lagi."
Ucapan itu begitu indah ditelinga Rahelia,tapi disatu sisi ia bingung harus memutuskan apa,Tidak mungkin ia menjalin hubungan dengan suami orang.
"Sayang.."
Tangan yang Rahelia kepalkan kini meluluh saat sentuhan jari Arfian membalutnya,sangat erat dan hangat bahkan melebihi matahari.
Dagu yang menunduk seketika berdiri bertemu dengan sorot mata ketulusan yang ia lihat dari Arfian, mereka kini saling menatap dengan begitu dekat.
"Tolong sekali ini aja kamu percaya aku, aku terpaksa menikahi dia bukan mencintainya."
"Bagaimana aku bisa percaya kata kata kamu mas, kamu gak pernah bilang kalo kamu punya istri dan aku seakan dibohongi sama kamu dan aku."
Cup...
Mata Rahelia melotot jantung nya berdebar kencang karena tanpa memberi aba aba Arfian dengan tiba tiba mendaratkan kecupan dibibir seksi nya.
Dengan perasaan bingung ia hanya mematung tidak melakukan apa apa, merasa gadisnya tidak memberi penolakan Arfian pun melanjutkan ciumannya dengan puas.
"Balas ciumku sayang.."
Sahut Arfian dengan nafsunya tidak melepas bibir manis gadisnya ini, namun seketika Rahelia melepas ciumannya hingga membuat Arfian cukup kesal.
"Sayang..kenapa dilepas sih?"
Ujarnya dengan mata masih menatap dekat Rahelia, seketika Rahelia memandang sendu padanya seakan akan ada kesedihan yang sedang ia sembunyikan.
"kenapa sayang?kamu masih ragu sama aku?"
Tanya Arfian sambil mengelus rambut Rahelia, iapun menatap mata CEO tampan ini dengan penuh harap.
"Apa mas Arfian benar mencintai aku?"
Tanyanya polos dengan bibir manyun manja menggoda, mendengar ucapan gadisnya ini Arfian tersenyum kecil dan mencubit hidung minimalisnya dengan mesra.
"Kenapa nanya itu?tentu saja aku mencintaimu, tidak ada wanita yang sempurna seperti kamu sayang."
"Kalo Mas Arfian memang mencintaiku, apa mas Arfian bisa menceraikan Lita?"
Mendengar pertanyaan itu Arfian seakan buntu untuk menjawab, karena tidak akan mudah menceraikan Lita.
Salah satu alasan Arfian menerima perjodohan ini adalah untuk membangkitkan perusahaan keluarganya yang 1 tahun lalu diambang ke bangkrutan.
Ia memanfaatkan rasa cinta Lita yang begitu besar padanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, meskipun terdengar sangat jahat tapi dia tidak ada pilihan lain saat itu.
"Mas..ko diem aja sih?apa mas Arfian gak bisa ceraikan Lita?udah aku duga mas ini gak ada seriusnya."
"Iya sayang,,mas pasti menceraikan Lita."
Mendengar itu senyum lebar Rahelia terlihat.
"Beneran mas?"
"Iya,tapi engga sekarang ya."
"kenapa?"
"Adudu jangan cemberut dong,"
Arfian pun memegang pipinya dengan lembut dan menatap mesra lagi.
"Pasti secepatnya sayang, tapi buat sekarang kamu harus sabar dulu ya. Setelah Mas bercerai baru kita menikah, kita tinggal di Bali sesuai yang kamu mau kita punya anak dan bahagia."
"janji ya mas."
"Iya sayang mas janji,sini peluk dong,"
"Uhhh mas Arfian."
"Manjanya kesayangan mas ini."
Mereka pun berpelukan mesra dengan penuh bahagia di ruangan kerjanya, tidak ada yang perlu ditakuti karena tidak ada CCTV disana.
*****
"Kenapa mas Arfian tidak memberitahu semua pegawainya bahwa aku istrinya?"
Gumam lita dalam hati yang sedang duduk dipinggir kolam berenang rumahnya dengan kaki tercelup kedalam air.
Ia memikirkan sikap suaminya yang mulai berubah, raut wajahnya muram dengan mata sendu yang menunduk melihat air.
"Apa mas Arfian malu mengatakan aku istrinya?atau memang benar ucapnya dia ingin memberi tahu semuanya setelah ia diresmikan sebagai penerus sah Bimantara grup sebagai kejutannya?"
Lita menghela nafas berat, ia berkecamuk dengan pikirannya sekarang.
"Haah tidak Lita!kamu harus percaya suamimu, jauhkan kan prasangka yang tidak tidak tentang suamimu,"
"Tapi kenapa firasatku mengatakan bahwa mas Arfian menyembunyikan sesuatu, ya tuhan hilangkan prasangka ini."
Tak kuasa menahan Lita pun meneteskan air mata, bukan karena dia cengeng atau lemah tapi sebagai istri ia ingin diakui oleh suaminya didepan semua orang.
Mungkin karena ia belum bisa hamil yang membuatnya berubah, karena selama ini Arfian mengharapkan Lita hamil anaknya.
Sudah berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari ikut program hamil sudah cek kesana kemari sampai keluar negeri pun tak kunjung ada hasilnya.
"Nyonya.."
Seketika lamunan Lita terhenti ketika bi Lastri memanggilnya, ia pun menghadap arah suara yang memanggilnya itu.
"Makan siang sudah siap."
"Iya saya segera kesana bi."
Bi Lastri pun kembali ke meja makan untuk menyiapkan yang lainnya dengan di ikuti oleh Lita.
Seperti biasanya, Lita menunggu Arfian pulang untuk makan siang bersama. Sambil menunggu ia pun membuatkan jus Jeruk segar kesukaan Arfian dan dia masukan pada botol minum suaminya.
Tit tit tit..
Terdengar suara klakson mobil digarasi rumah menandakan Arfian sudah tiba.
"Bi tolong bukain pintu."
"Iya nyonya."
Sedangkan digarasi Arfian belum keluar dari mobilnya, ia menghela nafas panjang sebelum menemui Lita.
"Oke, harus bersikap biasa aja didepan Lita jangan buat dia curiga."
Gumam Arfian yang langsung keluar dari dalam mobilnya menuju pintu rumah, setelah masuk ia pun menghampiri Lita diruang makan.
"Siang sayang."
"Siang mas."
Arfian pun mencium kening Lita dan langsung duduk dimeja makan disampingnya,
tanpa meminta di ambilkan Arfian pun mengambil nasi sendiri.
Ketika Arfian akan mengambil ayam dengan sigap Lita mengambilkannya tanpa berbicara, raut wajahnya pun datar dan tidak melihat wajah Arfian sedikitpun.
Melihat sikap dingin Lita tentu saja membuatnya serba salah disana, ketika mereka mulai makanpun tidak ada pembicaraan sama sekali.
"Ekhem..."
Arfian pun berdehem untuk memulai pembicaraan dengan istrinya ini, karena sedari tadi Lita cuek padanya.
"Lita, kamu kenapa dari tadi gak ngomong?ada yang kamu sembunyikan?"
Mendengar pertanyaan Arfian, ia seakan tidak begitu peduli dan menjawab seadanya saja.
"Gak ada apa apa mas, lagi makan masa sambil ngomong."
Jawab Lita dengan wajah tidak ada ekspresi sama sekali.
Mendengar jawaban Lita ia tau bahwa istrinya ini sedang marah padanya, tidak ingin ambil resiko Arfian pun mencoba membujuknya.
"Sayang,,"
Ujar Arfian yang meraih kedua tangan lita dan menatap matanya.
"Apa sihh mas?"
"Dengerin aku, aku minta maaf ya,"
"Aku tau aku salah karena udah buat kamu marah, aku juga minta maaf karena belum cerita ke semua yang ada dikantor kalo aku udah punya istri."
Lita hanya terdiam mendengarkan ocehan suaminya ini, ya pasti sangat kesal jika berada diposisi Lita.
"Tapi kamu harus percaya, tidak ada sedikitpun dalam pikiran aku untuk mencari wanita lain. Kamu ingatkan, saat aku bersumpah didepan papah kamu?"
Seketika Lita membayangkan saat Arfian bersumpah dihari pernikahannya itu untuk menjadikan dia wanita satu satunya dihidupnya.
Bayang bayang dihari itu seketika membuat hatinya luluh lagi dan percaya bahwa Arfian tidak mungkin melanggar sumpahnya.
Tak terasa air mata Litapun mengalir membasahi pipinya, melihat itu Arfian pun dengan segera mengusap air matanya dengan senyum yang terlihat tulus dimata wanita ini.
"Maaf aku nangis mas."sahut lita yang memandang suaminya ini.
"sinii."
Arfianpun memeluk lita dengan mengusap ngusap rambutnya.
"Aku hanya takut mas hiks."
"Jangan berpikiran macam macam ya, mulai sekarang kamu harus percaya sama mas."
Lita hanya mengangguk dengan ucapan Arfian dengan air mata yang terus mengalir dipelukan suaminya.
Setelah itu Arfian pun pergi lagi menuju kantornya dengan perasaan lega karena kini Lita mempercayainya, begitupun dengan Rahelia yang percaya bahwa Arfian akan meninggalkan Lita.