Menagih janji

2057 Kata
"Rumah sakit Pelita kasih." Ya ,ini adalah tempat Gio bekerja. Setiap hari ia menghabiskan waktunya disini. Gio adalah dokter spesialis yang sangat diandalkan oleh rumah sakit ini, jadi wajar saja ia selalu tidak ada waktu banyak untuk Rahelia karena waktunya ia gunakan untuk bersama pasien pasien nya. Ditambah pasien yang ditanganinya bukan orang biasa, melainkan orang orang kaya dari perusahaan besar terkenal. Hari ini Gio sedang terduduk diruangannya dengan tangan yang menulis disebuah buku, ya cukup santai memang karena pasien VIP nya datang sore. Namun ia terkejut ketika tiba tiba ada tangan yang menutupi matanya. "Ehhh." "Ayo tebak siapa?" Ujar seseorang yang suaranya tidak asing lagi ditelinganya, dari wangi farpum nya cara ia berbicara tentu saja ia tau kalo ini wanita yang sangat ia cintai yaitu Rahelia. "Eummm Suster Santi ya?"Celoteh Nya yang seketika membuat Rahelia kesal. "Ko suster Santi sih?aah kamu udah lupain aku ternyata." Sahut Rahelia yang seketika melepaskan tangannya dari mata Gio. Raut wajah Rahelia berubah cemberut sekarang dengan posisi tangan diatas perut dan bersender kedinding rumah sakit. Melihatnya begitu Gio malah gemas dan senang karena disitulah kecantikan Rahelia bertambah. "Eh eh jangan marah dong, sinii." Gio pun meraih kedua tangan Rahelia dan mendudukannya di meja, dengan wajah masih bete Rahelia tetap menurutinya tapi ia tidak melihat ke arah Gio melainkan melihat ke arah pintu. "Ko gak mau natap sih?gak kangen ya sama aku?" "Kamu juga gak kangen kan sama aku?buktinya kamu lupa sama siapa yang suka nutup mata kamu kaya gitu," "Aku bercanda sayang, kamu ini dianggap serius bikin gemes." Gio pun mencubit pipi hidung dan bibir Rahelia dengan manis. "Ih sakitt Gio," "Ya udah jangan marah lagi ya." "Iya engga,tapi..ada syaratnya." Ujarnya yang tersenyum manis sehingga membuat Gio menggigit bibir bawahnya dengan memandangi seluruh tubuh wanitanya ini. "Apa syaratnya?"Ujar Gio yang meremas remas rambut indah Rahelia. "Eummmm." Dengan jari menempel didagu Rahelia mulai berpikir syarat apa yang pas untuk dia minta pada Gio, namun Gio malah menjawab sendiri dengan ucapan nafsunya. "Cium?atau...." "Ihhh..Gio!" Rahelia pun melotot pada Gio seakan tau apa yang ada dipikiran pacarnya ini. "Kenapa sayang?emangnya kamu gak mau?"Tanya nakal Gio dengan menaik ataskan alisnya. "Ini tuh rumah sakit,gak usah aneh aneh deh." "Duduk sini." Gio pun menduduk kan Rahelia dilahunannya. Kini pandangan mereka semakin dekat, tentu saja posisi seperti ini membuat Gio semakin b*******h. "Jadi Syaratnya apa?Eumm."Tanya Gio dengan mata nakalnya yang melihati bibir seksi Rahelia. "Ini mau aku jawab." "Gimana kalo syaratnya ini?" "Ini apa?Eumm..." Betapa terkejutnya Rahelia ketika dengan spontan Gio mencium bibirnya, badannya sangat kaku dan tidak bisa menolak karena kedua tangannya dipegang erat oleh Gio. "Gio..." "Gak papa sayang, gak akan ada yang liat ko." Gio pun meneruskan ciuman nya lalu melepasnya lagi namun ternyata itu bukan akhir dari ciumannya. Ia pun menggendong badan Rahelia menuju ruangan bertirai dimana dia biasa periksa pasien nya disitu, lalu mendudukan Rahelia lagi. "Ngapain kita disini?"Tanya nya heran. "Suttttt." Tanpa berpikir lama Gio pun membuka seragam dokter berwarna putihnya, kini tersisa kaos polos hitam biasa. Dengan gairah yang tidak bisa dibendung lagi Gio pun mulai mencium Rahelia lagi, dengan posisi berada diatas Rahelia Gio bebas melakukan apapun tanpa penolakan karena Rahelia tidak mungkin bisa menepis tenaganya. "Ahh..Gio." Lirih Rahelia yang menikmati ciuman dokter tampan ini. "Enak kan sayang?" Gio pun tertawa kecil dengan terus menciumi leher dan bibir Rahelia tanpa henti, tak puas dengan itu Gio pun mengarahkan tangan kanan nya pada dua gunung yang cukup besar dan meremas remas nya perlahan. "Arghh Gio udahh." Rahelia terus mendesah ke enakan ,meskipun ia ingin berhenti tapi Gio tidak akan melepasnya dengan mudah. Setelah membuatnya nyaman Gio pun berniat untuk membuka baju Rahelia, namun tidak jadi ketika ia mendengar ketukan pintu dari luar. Tok tok tok.. "Permisi pak Gio." Sontak mereka terkejut dan cepat cepat merapikan pakaian mereka seperti biasa agar tidak terlihat mencurigakan. "Iya sebentar." Sambil memakai seragam dokternya lagi, Gio pun menghampiri pintu yang di ikuti oleh Rahelia. Setelah dibuka ternyata adalah suster Santi. Gio pun menyapanya dengan senyuman kecil,ya walau sebenernya ia sangat kesal karena telah membuatnya gagal bersenang senang dengan Rahelia. "Eh Santi,ada apa?"Tanya Gio dengan menggaruk kepalanya. Baru saja mau menjawab tiba tiba terhenti ketika Santi melihat Rahelia dibelakang Gio. "Eh mbak Rahelia ada disini juga," Sapa santi dengan senyuman lebarnya, namun Rahelia membalas nya dengan wajah kecut tidak suka. "Ada apa keruangan Gio?"Tanya Rahelia dengan bola mata memutar sebal. "Oh iya pak Gio, ini data pasien yang nanti sore akan datang."Dengan memberikan sebuah map berwarna merah. Dengan tersenyum Gio pun menerima nya sambil membuka buka sedikit. "Oh iya makasih ya Santi." "Iya sama sama pak Gio, kalau gitu saya permisi dulu Pak.. mba." Tanpa menunggu Gio dan Rahelia menjawab Santi pun langsung pergi dari hadapan mereka, dan setelah itu Gio pun metutup kembali pintunya. "Ahh ganggu aja," Celoteh Gio yang langsung memasukan map tersebut kedalam laci meja kerjanya. "Kayanya kamu deket banget sama dia,"Ujar Rahelia dengan wajah cemberutnya. "Engga sayang,..udahlah,kan dia juga udah pergi gimana kalo kita lanjutin yang tadi?" Sahutnya yang memegang kembali kedua tangan Rahelia dengan menaik turunkan alisnya. Mendengar ucapan itu sontak Rahelia melepaskan tangan nya dari Gio dengan wajah kesal. "Engga,aku gak mau!" "Kenapa?"Tanya Gio keheranan. "Ihhh Giooo, aku itu kesini mau nagih janji kamu. Kamu kan udah janji mau kenalin aku sama orang tua kamu,"Ujarnya yang menatap sendu kekasihnya ini. Mendengar ucapannya Gio menghela napas berat, raut wajahnya terlihat kebingungan. "Gio!!Jadi kan?" Tegas Rahelia yang menyadarkan kebingungannya. "Iya sayang pasti jadi ko."jawab nya yang memegang kedua tangannya dan Rahelia pun tersenyum senang. "Serius?"Tanya nya lagi dengan mata berbinar binar. "Tapi gak sekarang ya." Seketika wajah ceria nya memudar mendengar alasan Gio yang mungkin lebih dari seribu kali ia ucapakan dihadapannya. "Bulan bulan ini aku sibuk bahkan harus berangkat ke singapure beberapa kali, tolong kamu mengerti ya." Gio pun tersenyum dengan harapan Rahelia bisa mengerti, namun tanpa diduga Rahelia langsung menepis kedua tangan Gio yang sedang memegangi kedua pundaknya. "Rahelll." "Sampai kapan?sampai kapan kamu beralasan begini? aku cape nunggu kepastian kamu, tiga tahun Gio..tiga tahun aku sabar nunggu kamu." Tak bisa membendung emosi dan sedihnya Rahelia menangis saat itu juga dihadapan Gio, melihat itu Gio menjadi bingung dan tidak tau harus menjelaskan apa. "Iya aku tau, tapi aku mohon sama kamu buat percaya sama aku. Aku pasti akan mempertemukan kamu sama orang tuaku, tolonglah pahami aku sedikit."Jawab Gio yang memegang tangan Rahelia lagi. "Apa yang bisa buat aku percaya sama kamu?"Rahelpun menatap nya tajam. "A..aku gak bisa jelasin sekarang tapi aku serius sama kamu sayang." "Bullshit, percuma aku ngomong sama kamu." Dengan air mata masih menetes Rahel pun pergi meninggalkan Gio disana, melihat Rahelia pergi ia pun mencoba mengejarnya namun terhenti ketika Santi memanggilnya. "Rahelll." Dengan suara cukup keras Gio terus memanggilnya namun ia tidak peduli dan terus berjalan sambil menghapus air matanya. "Pak Gio," "Santi," "Ada pasien darurat pak Gio, harus di operasi sekarang." Gio pun melirik Rahelia yang semakin berjalan jauh.Sebenarnya ia ingin mengejar Rahelia namun keadaan tidak memungkinkan, dan akhirnya iapun memilih menolong pasien nya. "Arghh maaf Rahel." Setelah keluar dari dalam rumah sakit Rahelia pun memasuki mobilnya, dan dengan segera menancap gas pergi dari tempat tersebut. Sambil menyetir Rahel melamun dan memikirkan kejadian tadi, hatinya sakit harapannya seakan musnah sekarang. "Arghh kenapa aku harus nangisin cowo yang gak peka, masih banyak cowo yang lebih dari dia." Rahelia pun menghela nafas berat dan menenangkan hati dan pikirannya. "Oke sekarang yang kamu butuhkan adalah hiburan, mending aku shoping belanja sepuasnya mumpung kartu debit mas Arfian aku pegang." Rahelia pun tersenyum kembali dan dengan semangatnya ia pun meng gas mobilnya dengan cepat agar segera sampai di Mall. Setelah sampai di Mall tujuan pertamanya adalah tempat busana, iapun mengambil semua baju yang ia sukai dengan sesuka hati. "Bagus semua bajunya." Rahelia pun memilih milih baju yang akan ia beli, ketika ia akan mengambil salah satu baju tiba tiba ada seseorang yang memegang baju tersebut juga. Iapun menengok ke arah orang tersebut dan terkejut, karena ternyata itu adalah Lita istrinya Arfian. "Lita."gumamnya dalam hati yang langsung melepas baju tersebut. "Ehh kamu bukannya Rahel asisten nya mas Arfian?kenapa disini?bukannya hari ini kerja ya?"Tanya Lita dengan menatap Rahelia. "I,iya mba kerjaan aku udah selesai mangkannya langsung pulang."Jawabnya canggung. "Ohh begitu, oh iya kamu ada waktu gak?mba mau ngobrol sama kamu ya sambil makan lah di cafe dekat sini." Ajak Lita yang membuat jantung nya dagdigdug seakan mau copot. "Eumm iya boleh mba." "Yaudah mba bayar dulu ya kamu tunggu didepan"sahut Lita yang langsung pergi menuju kasir. Sebenernya Rahel ingin menolak tapi itu tidak mungkin ia lakukan untuk saat ini. Setelah itu merekapun menuju cafe terdekat disana, pesan makan minum lalu mengobrol. Litapun menceritakan dari awal ia bertemu Arfian dan menikah dengannya, bahkan ia membahas Arfian yang ingin mempunyai anak. "Oh begitu ya mbaa." "Iyaa, oh iya kamu kapan menikah?" "Euhh belum tau mba hhe,"jawab nya yang langsung minum lagi. "Kamu kan masih muda, cari laki laki yang baik yang bisa menepati janjinya. Tapi, jangan sama suami orang." Karena terkejut dengan ucapannya,dengan tiba tiba Rahel tersedak dan batuk. "Uhuk uhuk uhuk," "Eh pelan pelan dong minumya." "I iya mba."sahut Rahel dengan penuh gelisah. "Sebenernya mba masih mau ngobrol panjang tapi sayang ada urusan penting.'"ujarnya yang langsung berdiri dan di ikuti oleh Rahel yang juga berdiri. "Iya gak papa mba, aku makasih loh udah di teraktir makan." "Kamu ini, yaudah mba duluan ya." "iya mba hati hati." "iya." Lita pun pergi menuju mobilnya, setelah memastikan Lita pergi barulah Rahelia bernafas lega. "Hampir aja aku mati berdiri." Setelah itu Rahelia pun bergegas menuju mobilnya untuk pulang ke rumah, sesampainya dirumah ia disambut ayahnya dengan pertanyaan. "Rahel." Panggil Rudi yang baru keluar dari kamarnya, mendengar suara ayah nya ia pun menegok ke arah suara tersebut. "Kamu dari mana?"Tanya Rudi yang tidak biasanya bertanya begini. "Dari kantor lah pah, kan aku kerja gimana sih papah ini."jawab rahel dengan tawa kecilnya. "Tadi Gio kesini cariin kamu." Senyum nya pun hilang seketika Rudi menyebut nama Gio. "Ngomong apa dia sama papah?"Tanya Rahel dengan wajah sedihnya. "Tadi dia cerita kalo kamu marah sama dia, mangkannya dia langsung kesini setelah kerja." "Dasar tukang ngadu."Geremet Rahel kesal "Harusnya kamu gak boleh bersikap begitu, Gio kan sibuk kerja untuk kamu juga."Ujar Rudi menasehati putri tunggal nya ini. "Udahlah pah aku gak mau bahas ini, aku cape mau istirahat." Rahelia pun berjalan menuju kamarnya dilantai dua dan tidak mendengarkan ocehan papahnya, dan Rudi hanya menggelengkan kepala melihat keras kepala putrinya ini. Setelah dikamar ia pun menyimpan barang belanjaannya dimeja rias dan membaringkan badan nya dikasur dengan posisi tengkurap. "Huuh hari yang melelahkan." Iapu memejamkan matanya sekejap lalu membuka mata kembali karena teringat sesuatu. "Ehh aku kan mau baca novel bab terakhir, dimana ya novelnya?" Rahelpun segera bangkit dari baring nya dan mencari novel yang biasa ia baca sebelum tidur, namun tidak ia temukan. "Ko gak ada sih?" Dengan menggaruk kepala bingung iapun berfikir dimana ia meletakan novelnya, lalu ia mengingat suatu tempat yang kemungkinan besar novelnya disana yaitu lemari berkas papahnya. Dengan cepat ia pun berlari menuju ruangan Rudi dan membuka laci dan ternyata benar novel nya ada disana. Rahelpun mengambil novel nya namun ia terkejut ketika ada sebuah foto yang jatuh kebawah. "Nah ini dia,ehhh foto apa ini?" Rahelpun membawa foto tersebut. Terlihat tiga orang anak kecil di foto tersebut dua laki laki dan satu perempuan, ya sepuluh tahunan lah kira kira usianya. "Ini foto siapa ya?apa foto ayah waktu kecil sama temannya?atau mungkin perempuan ini mamahku?" Rahel memutar otaknya dengan penuh tanya, karena selama ini Rudi tidak pernah menjawab ketika ia menanyakan tentang ibu kandung nya, bahkan Rudi selalu menghindari pertanyaan itu. Disela lamunannya terdengar suara Rudi yang membuatnya terkejut, sontak Rahel pun segera memasukan foto tersebut ke laci ayahnya lagi. "Rahell, ngapain kamu disini?"Tanya Rudi heran. "I ini pah aku cari novelku, ternyata ada dilaci papa."Jawabnya gugup. "Oh iya tadi pagi papa simpan soalnya ada di meja makan." "Yaudah pah aku balik ke kamar lagi ya." Ujar Rahel yang langsung buru buru menuju kamarnya, melihat putrinya agak aneh Rudipun menge cek laci tersebut dan melihat foto yang tadi Rahel lihat. "Ko bisa ada disini?apa jangan jangan Rahel lihat foto ini?" Seketika Rudi terdiam beberapa detik memikir putrinya itu. "Enggak mungkin, lagian dia gak akan tau ini foto siapa." Rudi pun memandang foto tersebut hingga terlintas bayang bayang masalalunya, ia pun menghela nafas berat. "Belum saatnya Rahel tau siapa ibu kandung nya ,karena jika ia tau ia akan membenci kamu."ujarnya dengan menatap foto tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN