Apa aku cembuaru?

1035 Kata
"Oke ini tinggal disusun aja, laporan yang kemarin mana ya?" Ujar Rahelia yang sedang berdiri menyusun kertas kertas Arfian, meskipun agak sulit tapi ia harus tetap belajar menjadi asisten yang bisa diandalkan. Namun tiba tiba fokus nya terhenti ketika ada tangan yang memeluknya dari belakang, dan ternayata itu Arfian. "Pagi sayang." "Pagi mas, tumben datang jam segini?biasanya juga jam delapan."Tanya Rahelia heran sambil terus menyusun kertas dimeja Arfian. Dengan gemas Arfian pun membalikan tubuh Rahelia hingga menghadap pada dirinya, Arfian pun memegang kedua pundaknya sontak Rahelia pun terkejut. "Aku sengaja sayang datang pagi pagi, biar bisa berduan lama sama kamu."jawabnya dengan mencubit hidung Rahelia. "Nanti ada yang liat mas, apalagi kan sekarang semuanya tau kalo kamu udah punya istri." "Ini kan ruangan aku, gak akan ada yang berani masuk."ujar nya lagi yang mengusap rambut Rahelia. Namun kemesraan mereka terhenti ketika ada seseorang yang mendorong pintu. Klek... Seketika mata mereka melirik ke arah pintu dan ternyata itu adalah Lita, sontak mereka terkejut dan segera saling menjauh agar tidak membuat Lita curiga. "Mas,"panggil Lita yang membawa keresek cukup besar ditangan kanannya. "Sa,sayang ngapain kamu kesini?"Tanya Arfian basa basi,Lita pun menatap nya heran. "Emangnya aku gak boleh kesini?"Tanya Lita cukup kesal. "Boleh, cuma kenapa gak ngabarin dulu kan bisa aku jemput."ujarnya berpura pura perhatian. Sedangkan Rahelia hanya membelakangi Mereka sambil menyimak. "Iya aku lupa, lagian kamu berangkat pagi pagi banget gak sarapan pula mangkannya aku kesini bawa sarapan dari rumah buat kamu." Lita pun mengeluarkan makanan yang ia bawa dimeja, ada nasi sayur ayam goreng dan tidak lupa membawakan jus jeruk kesukaan Arfian. "Padahal aku bisa pesen makanan diluar kamu malah repot repot bawa kesini, makasih ya sayang."ujarnya yang mengusap rambut istrinya itu. "Iya mas inikan udah kewajiban aku sebagai istri, yaudah kamu duduk kita makan dulu. Oh iya Rahel sini ikut makan!mba bawa banyak loh."ujar Lita memanggil Rahel. "Euhh aku udah sarapan dirumah mba."jawab Rahelia dengan senyum. Seketika Litapun menghampiri Rahel dan menarik tangan nya untuk duduk disampingnya, sedangkan Arfian duduk berhadapan dengan Lita. "Udah makan dulu gak papa kamu makan puding buatan mba aja, sayang loh kalo gak nyoba mas Arfian aja ketagihan sama puding ini..iyakan mas?" Ujar Lita yang tersenyum pada Arfian dan Arfian hanya meng iyakan saja sambil melirik lirik pada Rahelia. "I,iya enak banget itu."Jawab Arfian gugup. "Iya makasih mba."sahut Rahel yang tersenyum samar sambil memakan sedikit demi sedikit puding itu. "Yaudah aku suapin ya."Ujar Lita yang membuat Arfian dan Rahelia terkejut. "Gak usah sayang, malu lah ada Rahel."Elaknya dengan melirik lirik Rahelia. "Kenapa harus malu?kan suapin suami sendiri bukan suami orang, iyakan Rahel?" Mendengar ucapan itu seketika pipi Rahel memerah padam. "I iya mba." "Yaudah sini buka mulutnya."Ujar Lita yang mengarahkan sendok berisi nasi ke mulut Arfian dan Arfianpun melahapnya dengan terpaksa. "Enak kan mas?"Tanya Lita dengan tersenyum menatapnya dan Arfian hanya tersenyum saja. "Sialan, kenapa aku harus liat mereka mesraan?arghh..menyebalkan."Gumam Rahelia dalam hati dengan mata memicing malas. "Eumm pak saya keluar sebentar ya, lupa ada tugas yang belum selesai."Ujar Rahel membuat alasan agar tidak melihat adegan menjijikan ini. "Yaudah jangan lama ya."jawab Arfian. "Iya pak." Rahelia pun berdiri dan segera meninggalkan ruangan Arfian. "Hati hati Rahel."Ujar Lita memperhatikan Rahel. Arfian hanya bisa terdiam melihat Rahelia keluar dari ruangannya, matanya melihati Rahelia sampai tidak terlihat. Setelah keluar Rahel berdiri sebentar didepan pintu ruangan dengan perasaan yang terasa sakit. "Kenapa aku cemburu ya liat mas Arfian sama Lita?apa mungkin aku....... Ihh engga engga."Rahelpun menggelengkan kepalanya. "Jangan sampai aku jatuh cinta beneran sama mas Arfian."ujarnya yang langsung pergi menuju keluar kantor. Namun didepan pintu masuk ia tidak sengaja menabrak Rindi dan Abbas mertuanya Arfian atau lebih jelasnya kedua orang tua Lita. "Bangunan nya di desain bagus sekali,"Puji Abbas yang melihati sekeliling nya. "Iya sampe pangling aku pah."sahut Rindi menyambung puji suaminya. Dan bruk... "Awww."suara Rindi kesakitan. "Ma maaf bu saya tidak sengaja."ujar Rahelia yang berhenti dihadapan Rindi. "Apa maksud kamu tidak sengaja?jelas jelas kamu sengaja tabrak saya, gak sopan sekali kamu sama saya."Sahut Rindi emosi dengan tatapan tajam pada Rahelia. "Eh udah mah malu diliatin orang nanti, yaudah kamu boleh pergi."Sahut Abbas merelai emosi istrinya. "Makasih pak."ucap Rahelia yang langsung pergi. "papa ini malah dibiarin pergi, belum juga aku marahin dia."kesal Rindi dengan wajah cemberut pada Abbas. "Udahlah mah kita kan mau lihat menantu kita, udah ya."sahut abbas menenangkan, Rindi pun memutar bola matanya kesal dan menghela nafas. "Euhh iyaa, bisa bisanya Arfian jadikan orang seperti itu pekerjanya." Oceh Rindi yang langsung berjalan lagi dengan Abbas menuju ruangan Arfian, tak lama kemudian mereka pun sampai disana "Morning Sayang." Sapa Rindi yang mencium kening Lita begitupan Abbas yang berjabat tangan dengan Arfian. "Morning juga mah, ko mamah sama papah tumben ke kantor mas Arfian?"Tanya Lita heran. "Ya biasalah sayang ada urusan."Sahut Arfian yang ikut berbicara. "Iyaa dan sekalian papah juga mau lihat lihat ruangan kantor ini, udah lama papah sama mamah gak kesini,"Sahut Abbas yang berdiri didepan pintu masuk. "Iya apalagi kan sebentar lagi Arfian mau diresmikan jadi pemilik sah Bimantara jadi ya mama pikir perlu ada perubahan baru juga dikantor ini,"Ujar Rindi. "Iya mah Arfian setuju."Sahut Afian menuruti mertuanya. "Oh iya Arfian, kenapa kamu masih pekerjakan asisten baru itu?kamu pecat aja dia!gak sopan dia sama saya."Ujarnya kesal karena kejadian tadi. "Maksud mamah Rahelia?ketemu dimana sama dia?"Tanya Arfian penasaran. "Didepan, masa dia tabrak mamah minta maaf nya gak ada kesopanan?"Sambung nya kesal. "Dia udah minta maaf ko, cuma mamahnya aja yang marah marah."Sambung Abbas membela Rahelia. "Ko papah malah belain dia sih?"Tanya Rindi yang menjadi geremet pada suaminya. "Udahh mah, Rahel gak kaya gitu ko orangnya. Dia baik ramah sopan pula, mungkin karena mamah belum ngobrol sama dia jadi gak tau dia kaya gimana."Ujar Lita yang memberi penjelasan. "Ya bisa jadi sih sayang." "Katanya mau liat seisi kantor, aku juga mau langsung pulang."ujar Lita mengingatkan. "Oh iya sampe lupa papah." "Yaudah aku panggil Andre ya pah, Andre."panggil Arfian pada pegawainya. "Iya pak."Jawab Andre yang langsung datang. "Tolong antar pak Abbas dan Ibu Rindi melihat lihat kantor ini ya." "Baik pak, mari pak Abbas bu Rindi saya temani."ujar Andre. "Yaudah mamah kesana dulu ya, kamu pulangnya hati hati."Ujar Rindi yang mencium kening Lita lagi. "Iya mah." Abbas dan Rindi pun keluar dari ruangan tersebut menyisakan Arfian dan Lita. "Yaudah mas antar kamu kedepan ya." "Iya mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN