Bab 14: Perbuatan Keji

1091 Kata
“Di mana ada kamu, selalu ada masalah yang datang menghampiri. Apa ini bertanda tidak baik?” *** Elvan tertidur pulas di kasurnya, hingga akhirnya ia terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk bernapas. Sesuatu yang mencengkram lehernya begitu kuat. Dia berusaha membuka matanya, tetapi tidak bisa dia lakukan. Ada apa ini Tuhan, kenapa sulit bernapas. Siapa yang mencekikku, batin Elvan menjerit kesakitan. Elvan merasakan ada tangan yang mencekik lehernya semakin kencang, ia berusaha menggerakan anggota tubuhnya, tetapi percuma saja sekeras apapun usahanya, tetap tidak bisa. Ma, bangun! Tolong Papa, Ma!!! ia menjerit dalam hati berharap jeritannya bisa terdengar oleh sang Istri yang masih tertidur pulas di sisi. Elvan merasakan semakin lama cekikan itu semakin kuat, ia seperti berada di detik-detik nyawanya akan menghilang. Dan... "Astaga!!!!" jerit Elvan yang langsung bangkit dari posisinya menjadi duduk. Napasnya tak beraturan keringat pun membasahi dahinya, ia melirik Arabella yang masih tertidur pulas di sisinya. Benar-benar kebo sekali istrinya tidur. Kedua mata Elvan menatap ke setiap sudut ruangan, dia tidak melihat seorang pun di kamarnya. Rasa penasaran masih ada di dalam dirinya, ia beranjak menuju ke kamar mandi, siapa tahu penjahatnya bersembunyi di sana? Ketika dirinya sudah berada di dalam kamar mandi, ia tidak melihat siapa-siapa di sana. Diteguknya saliva dengan susah payah, tubuhnya menegang, lalu siapa yang berbuat keji seperti tadi? Lalu, apa motifnya ingin membunuh dirinya? *** Calista, Haris dan kedua orang tuanya sedang berkumpul di ruang tamu menikmati hari libur mereka. Menceritakan sesuatu yang membuat mereka tertawa bahagia, walaupun nada tidak suka Elvan masih kentara jelas, tetapi tidak megurangi kebahagiaan tersebut. Sampai pada akhirnya ucapan Calista membuat mereka menatap Calista bingung. "Kak, si Klarybel hilang. Masa pas aku bangun tidur tadi si Klarybel udah nggak ada di lemari," ujar Calista dengan nada merajuk sekaligus sedih. “Boneka itu kenapa ya suka sekali menghilang?” gumam Calista yang bingung sekaligus sedih. Haris menatapnya bingung. "Lho, kok bisa? Emang sebelumnya kamu letakan di mana?" tanya Haris yang merupakan pertanyaan retorik. Dia sudah tahu jawabannya. "Di lemari tapi nggak ada," jawab Calista dan mengembuskan napasnya dengan pasrah. “Kamu lupa kali Cals bonekanya letakin di mana,” ujar Arabella dengan lembut dan mencoba berpikir positif. Elvan berdeham membuat dirinya menjadi sorot perhatian. "Ehm! Semalam ada kejadian aneh. Ketika Papa tertidur, Papa merasakan ada seseorang yang mencekik kuat leher Papa. Tetapi itu bukan mimpi, kejadian itu terasa nyata," celetuk Papanya mengalihkan topik. “Apa Papa yakin?” tanya Haris yang bingung karena Elvan tiba-tiba berbicara seperti itu, hal yang tidak pernah ia duga. Elvan mengangguk mantap. “Semua terasa nyata,” ucap Elvan meyakinkan. “Mungkin itu halusinasi Papa doang,” celetuk Calista yang membuat Elvan menatapnya tajam. “Eh, maksudku itu Papa bermimpi yang terasa nyata,” ralat Calista saat menyadari dirinya membalikan kata-kata Elvan. “Papa bisa membedakan mana yang bermimpi, mana yang bukan mimpi,” ujar Elvan yang masih kekeuh dengan apa yang dirasakannya. “Apa sekarang Papa akan percaya dengan kejadian yang tidak masuk akal?” tanya Calista dengan hati-hati. Pertanyaan yang membuat bibir Elvan bungkam, tidak bisa menjawab. Semua terdiam menatap Elvan dengan penuh tanda tanya. Haris teringat sesuatu, ia pernah mengalaminya dan di saat itu juga ada si Klarybel yang tiba-tiba berada di kamarnya. Papa merasakan apa yang gue rasakan, batin Haris. "Cals, kamu bilang Klarybel hilang 'kan? Mungkin ada di kamar Papa, Cals.” Haris menyuarakan kecurigaan terhadap Klarybel. Benda mati yang tidak mungkin berbuat keji. "Haris kamu aneh-aneh saja. Mana mungkin boneka ada di kamar Papa," sahut Arabella dengan ketidaksetujuan yang menurutnya tidak logi kalau ada Klarybel di sana. "Tau nih Kak Hars ngaco banget kalo ngomong. Masa iya Mama masih main boneka," timpal Calista sembari terkekeh membayangkan Mamanya masih bermain boneka seperti anak kecil. "Kakak pernah merasakan apa yang Papa rasakan tadi malam dan di saat itu tiba-tiba Klarybel ada di kamar Kakak. Kamu ingat Cals? Yang kamu temui si Klarybel di kolong tempat tidur Kakak? Nah! Malamnya Kakak mengalami kejadian yang serupa dengan Papa," tutur Haris. Semua terdiam memikirkan penuturan dari Haris. Antara percaya atau tidak. Haris menghela napas berat ketika keluarganya tidak ada yang percaya. Padahal, apa yang dikatakannya benar adanya. "Coba aja kamu cek di kamar Papa kalau kamu nggak percaya sama Kakak," saran Haris mencoba meyakinkan dan sudah kesal karena tidak ada yang percaya dengan kata-katanya. Calista beranjak menuju kamar Papanya yang diikuti oleh Haris dan kedua orang tuanya. Sesampainya di kamar, Calista menatap sekeliling mencoba mencari keberadaan Klarybel. "Mana? Nggak ada, Kak." Mereka mencoba mencari boneka itu dari kolong tempat tidur, lemari, hingga kamar mandi. Namun, tidak ada hasilnya. "Tuh 'kan nggak ada! Kakak sih sok tau," cibir Calista menatap sebal Haris. "Ada di kamar kamu mungkin, Cals. Dan bisa juga kamu lupa di letakan di mana si Klarybel, nggak mungkin kok Klarybel menghilang secara tiba-tiba," celetuk Arabella. Mereka bergegas munuju kamar Calista. Ketika Calista membuka pintu kamarnya, ia sangat terkejut bukan main. "Nggak! Nggak mungkin! Aku nggak pernah letakan boneka di sini," ucap Calista syok saat melihat bonekanya berada di atas meja belajar. Calista benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Tapi itu 'kan ada di meja kamu, Sayang. Mungkin kamu lupa, Cals." “Calista, Papa nggak akan percaya dengan hal-hal mistis atau hal yang tidak masuk akal yang kamu buat dengan kehaluan kamu,” ucap Elvan yang merasa Calista mencari kesempatan agar dirinya percaya dengan hal-hal mistis. Calista menggelengkan kepalanya dan menatap nanar sang ayah. “Demi Tuhan! Aku nggak bermaksud seperti itu, Pa. Klarybel memang benar nggak ada di kamar tadi,” ucap Calista mencoba meyakinkan Elvan. "Aneh," gumam Haris dengan tatapan terarah ke arah Klarybel. "Cals, sebaiknya boneka itu kamu kasih ke orang lain aja. Demi kebaikan kita bersama,” ucap Elvan. “Ehm! Maafkan Papa, Haris … Papa harus bilang seperti itu," celetuk Elvan menatap Haris dengan tatapan bersalahnya. Ia berpikir ini kehaluan Calista semakin menjadi-jadi saat adanya keberadaan boneka itu. Elvan mengembuskan napasnya berat. “Calista, kamu sepertinya harus diperiksa ke dokter. Papa takut mental atau psikis kamu terganggu,” ucap Elvan yang berhasil membuat semua menatapnya dengan terkejut. “Elvan!” “Papa!” Sontak Calista menatap tajam ke arah Elvan. "Nggak! Aku nggak mau! Boneka itu harus tetap di sini dan jadi milik aku,” jerit Calista. Ia menatap Elvan dengan sendu. “Aku sehat lahir dan batin,” ucapnya dengan bergetar. Calista menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. “Boneka itu lucu, langka dan juga ... misterius." Calista berujar lirih saat di akhir kalimat. Yap! Misterius ... yang entah mengapa aku merasakan ada yang beda dari boneka itu, batin Calista.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN