Bab 15: Cahaya Merah

1061 Kata
Dia ada, datang untuk menunjukan diri Dia ada, datang untuk memperlihatkan kekuatan Dia ada, datang sebagai ancaman *** Calista duduk di tepi tempat tidurnya, kaki yang menggantung ia gerakan ke depan dan ke belakang, tatapannya hanya terfokus kepada boneka yang memakai baju berwarna hitam. "Emang beneran ada yang aneh sama Klarybel. Kami mengalami beberapa kejadian yang berbeda," gumam Calista dengan tatapan terfokus pada boneka tersebut. Dirinya ingat sekali saat bonekanya hilang di rumah, lalu ia menghubungi Haris dan menanyakan boneka itu. Boneka yang ternyata ada di Haris. Bahkan, Haris pun benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi, Calista dapat melihat kebingungannya juga saat Haris memberikan Klarybel padanya. Beberapa kali juga Klarybel berada di tempat yang Calista yakin dia tidak pernah meletakan Klarybel di sana. "Papa dan Kak Hars merasakan lehernya ada yang mencekik, sedangkan aku melihat mata Klarybel yang bisa berkedip dan mengeluarkan cahaya berwarna merah." Calista kembali bermonolog. Kini Calista menelengkan kepala dengan pandangan yang tetap terfokus kepada Klarybel. "Hei, kenapa kamu melamun?" Haris menegur Calista, ketika tiba di kamar adiknya dan melihatnya sedang melamun menatap Klarybel. "Aku nggak melamun Kak Hars. Tetapi, aku lagi mencari sesuatu yang aneh dari Klarybel," protes Calista dengan mengarahkan dagunya ke arah lemari kaca. "Bukannya memang udah jelas ya, Cals? Kalo boneka itu memang aneh, dari kejadian yang Kakak dan Papa alami seharusnya sudah menjadi bukti bahwa boneka itu aneh," timpal Haris mencoba meyakinkan adiknya. Calista mengangguk. "Iya. Tapi, aku belum percaya itu semua karena itu nggak terjadi padaku, Kak Hars," ucap Calista dengan kejadian mencekik yang dia maksud.   "Kamu mau merasakannya terlebih dahulu? Lalu, kamu baru percaya itu semua?" Calista mengangguk, Haris mengembuskan napasnya pasrah saat Calista meng-iya-kan pertanyaannya. Benar-benar keras kepala. Haris duduk di sisi Calista. “Sekarang Kakak mau tanya sama kamu.” Mereka saling menatap. “Kenapa waktu itu kamu tiba-tiba berteriak histeris saat perjalanan pulang? Kamu juga pernah melempar Klarybel tanpa alasan yang jelas, dan kenapa Klarybel ada di tempat yang kamu sendiri nggak pernah merasakan kalau kamu meletakannya di sana. Kenapa coba?” tanya Haris menyerang Calista dengan berbagai kenyataan yang membuat Calista terdiam tidak bisa menjawab. Calista mengalihkan tatapannya dari Haris. "Kakak kapan masuknya? Kok aku nggak dengar suara pintu terbuka?" tanya Calista mengalihkan topik. “Jangan-jangan ini bukan Kak Haris,” imbuh Calista menatap Hari dengan bergidik ngeri. Haris menjitak kepala Calista yang membuat sang adik mengaduh kesakitan. “Aduh! Sakit Kak Haris,” protesnya dengan kesal dan mengusap bekas jitakan kakaknya. “Sembarangan aja kalo ngomong! Ini beneran Kakak, kamu sih terlalu serius memandangi boneka itu. Maka dari itu, kamu nggak sadar Kaka masuk ke kamar kamu," ucap Haris dan Calista mengangguk paham. "Oh, oke sorry ...," kata Calista yang merasa bersalah karena telah menuduh Haris. Haris pun teringat tujuannya datang ke kamar Calista. "No Problem. So, kita ke ruang tamu sekarang? Ada teman kamu di sana." "Eh? Teman aku? Siapa?" tanya Calista dengan alis yang menaik satu karena seingatnya dia tidak membuat janji dengan siapa pun. Bahkan, hari ini ponselnya sepi tidak ada pemberitahuan chat masuk. "Ada Agam," ucap Haris memberitahu adiknya. "Kok Kak Hars nggak bilang dari tadi sih, kalau ada teman aku datang ke rumah," maki Calista karena kesal dengan Haris yang mengulur waktu membuat sang tamu pasti terlalu lama menunggunya. Haris berdeham bermaksud untuk menggoda Calista. "Ehm, biasa aja dong nggak usah marah-marah, gitu kan Kakak tadi mau kasih tau, tapi ... nggak jadi," ledek Haris sambil tersenyum jahil. Ia suka menggoda Calista karena ekspresi adiknya itu membuatnya ingin tertawa. Calista berdecak kesal. "Ck, siapa juga yang marah-marah. Udah ah aku ke bawah dulu," ucap Calista dan berlalu meninggalkan Haris sendiri di dalam kamarnya. Haris terbahak setelah Calista pergi dari hadapannya, ia tahu kalau Calista pasti lagi menutupi malunya. Haris selalu suka ketika melihat adiknya menjadi salah tingkah atau malu di depannya, karena ia bisa melihat semburat merah jambu di pipi Calista. *** "Ada apa, Gam, ke rumah gue?" tanya Calista kepada Agam yang duduk sendiri di ruang tamu dengan makanan ringan dan minuman yang sudah tersedia di meja. "Nggak ada apa-apa. Tadi kebetulan lewat, yaudah deh gue mampir," jawabnya santai dan tersenyum. Calista memincingkan matanya curiga. Tidak seperti biasanya Agam seperti itu, pasti ada sesuatu yang diinginkannya. "Nggak ada sesuatu yang penting gitu? Ya … mungkin mau lo omongin ke gue?" Calista mencoba memancing Agam. "Hm ... ada sih,” jawab Agam yang akhirnya jujur pada Calista. “Jadi gini nih Cals, gue memecahkan koleksi barang antiknya om gue. Ya, dia sih nggak marah, tapi 'kan gue jadi merasa bersalah," imbuhnya dengan raut wajah yang bersalah. Benar kan tebakanku, pasti anak ini ada maunya. Calista mengangguk mengerti. "Oke, gue paham. Terus apa hubungannya sama gue?" "Gue minta temenin sama lo ke tempat jualan barang antik itu. Lo mau nggak? Kalo nggak mau sih ya nggak apa-apa," ajak Agam dengan ragu karena takut Calista merasa terpaksa menemaninya. Calista terdiam sejenak. Menimang-nimang ajakan Agam. "Hmm, boleh. Mau kapan? Kebetulan gue nggak ada kegiatan apa-apa, sih," ucap Calista yang berhasil membuat senyum Agam muncul lagi. "Besok, setelah pulang sekolah. Bisa nggak?" "Oke, bisa." *** Calista menyelimuti tubuhnya, lampu kamar sudah dimatikan. Namun, matanya pun belum terpejam. Ia masih berkutat dengan ponsel dan asik membaca sebuah novel horor di sebuah platform pembacaca dan penulis. Sebuah cahaya merah yang mengenai matanya membuat ia menyipitkan mata karena merasakan silau. "Cahaya dari mana ini?" gerutu Calista. Ia menyingkirkan ponsel dari hadapannya. Mata Klarybel mengeluarkan cahaya lagi? pikir Calista sambil memandang lemari koleksi bonekanya. Ia beranjak menyalakan lampu kamar, namun ketika lampu kamar menyala sinar cahaya itu pun sirna. Calista mendengus saat cahaya itu hilang, dia kembali mematikan lampu kamarnya dan beranjak tidur. "Jangan ganggu. Gue mau tidur!" ketus Calista kesal, kemudian memejamkan matanya. Ketika Calista sudah tertidur, samar-samar ia mendengar suara bel. Namun, ketika Calista ingin membuka matanya, ia merasakan ada tangan yang mencekik lehernya membuat ia sulit bernapas, mata pun tak bisa dibuka. Calista mencoba menggerakan anggota tubuhnya. Namun, tidak bisa karena semua terasa kaku. Ayo, Cals! Ada apa ini, kenapa semua terasa sulit untuk digerakan? Tak lama kemudian mata Calista bisa terbuka, samar-samar ia melihat sesosok wanita berada tepat di atasnya dengan wajah yang tak terlihat karna minimnya penerangan di kamar. Ia terpaku tak bisa berkutik saat melihat sosok itu. Dia, dia yang selalu menganggu semua orang di sini.  Dia sosok beraura negatif. Sosok jahat yang mencoba merenggut nyawa seseorang saat orang tersebut dalam keadan lemah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN