Bab 16: Josephine

1388 Kata
“Satu demi satu kepingan kembali muncul. Persis seperti sebuah teka-teki yang per satu harus dijawab dan diselesaikan.” *** “Hari ini, aku pergi sama Agam.” Calista memegang boneka Klarybel sambil duduk di tepi tempat tidurnya. “Kamu jangan berulah, ya. Jangan aneh-aneh lagi,” imbuh Calista membelai rambut Klarybel. Kebiasaan Calista berbicara pada benda mati tidak pernah berubah. Ia tersenyum dan bergerak meletakan Klarybel di dalam lemari. Kemudian, dia beralih duduk di depan meja riasnya. Calista sudah berpakaian rapi dengan baju model Sabrina dan celana jeans andalannya. Sesekali ia membenarkan tataan rambut di depan meja rias dan memastikan bahwa dirinya tidak terlihat jelek. Terlebih lagi di depan Agam. Ceklek …. Pintu kamar Calista terbuka dengan bersamaan munculnya seorang wanita yang memakai baju daster tetapi masih terlihat cantik. Arabella berjalan menghampiri Calista yang hanya menoleh sekilas ke arahnya dan kembali berdandan. “Anak gadis mama mau ke mana, sih?” tanya Arabella dengan senyuman menggoda yang terlihat jelas. “Mau jalan sama cowok, ya?” timpalnya lagi dan memegang bahu Calista dari belakang. Calista cemberut dengan pipi yang sudah merona. “Mama apa sih, aku cuma mau pergi sebentar doang kok,” jawabnya malu-malu. Padahal, hatinya berteriak senang karena jalan dengan Agam. Kali ini Arabella semakin gencar menggoda Calista. “Mau jalan sama siapa anak gadis, Mama?” tanyanya lagi yang belum puas mendengar jawaban anak perempuan kesayangannya. Calista menoleh dan menatap Arabella sekilas. “Sama Agam, Ma.” Calista terdiam sejenak. “Dia minta aku buat temenin ke toko barang antik, katanya sih mau beli Gucci buat gantiin punya omnya, Ma,” jawab Calista yang mencoba tenang dan tidak mengeluarkan senyuman. Arabella mengangguk mengerti. “Apa itu bagian dari alasan Agam biar bisa jalan sama kamu?” tanya Arabella menyembunyikan senyumannya. “MAMAAA!” wajah Calista benar-benar sudah merah dan Arabellah tertawa melihatnya. “Iya, iya. Mama percaya,” ucap Arabella dengan sisa tawanya. Calista menatapnya dengan cemberut. “Aku titip Klarybel. Jangan sampe Klarybel ilang lagi, aku capek carinya,” ujar Calista yang mendapat anggukan dari Mamanya. “Oke. Mau jalan aja tetap yang dipikirkan Klaryel,” goda Arabella dan tekekeh. Calista mengembuskan napasnya dengan kasar tanpa menyahut godaan Arabella. Di tahu kalau mama tersayangnya itu ditanggapi, akan semakin gencar juga godaan yang beliau keluarkan. Bel rumah Calista berbunyi, sontak kepala Calista dan mamanya menoleh ke arah pintu kamar Calista yang terbuka. Arabella mengusap bahu Calista. “Mama ke bawah dulu, jangan lama-lama dandannya, kamu sudah cantik,” kata Arabella dan bergegas meninggalkan Calista saat anaknya mengangguk patuh. *** Arabella membuka pintu dan melihat punggung lelaki yang menjulang tinggi dibalut kemeja putih dengan motif titik-titik berwarna hitam dan dengan model tangan pendek. “Agam, ya?” tanya Arabella. Lelaki itu menoleh dan tersenyum sopan. Ia menyalami tangan Arabella. “Iya, Tante. Saya Agam, Calista-nya ada, Tante?” tanyaya dengan nada yang sangat sopan didengar menurut Arabella. Arabella tersenyum dan menggeser posisinya agar Agam bisa masuk. “Ada, Nak Agam. Masuk aja dulu, nanti Calistanya Tante panggilkan,” ucap Arabella ramah. Agam mengangguk dan menuruti perintah Arabella. Mulai dari masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu, hingga meminum minuman yang telah Arabella sediakan sesuai dengan permintaan Agam. “Kamu lupa ya sama yang tadi Mama bilang?” sindiran halus dari Arabella disambut oleh Calista saat dia menginjakan kaki di ruang tamu. Calista tersenyum bersalah ke Agam. “Sorry ya, Gam,” ucap Calista. “Pasti udah nungu lama, ya?” imbuh Calista. “Ya … lumayan untuk menghabiskan segelas kopi s**u,” kata Agam dengan tawanya yang khas. “Yaudah, Ma, Calista sama Agam berangkat dulu ya,” pamit Calista dan menyalami Arabella. “Tante kami pamit dulu ya, Calista akan sampai di rumah dengan aman nanti. Tenang aja sama Agam, hehehe …,” pamit Agam dengan sedikit candaan seperti biasa, dan ikut menyalami Arabella. Arabella tertawa mendengarnya. “Hahahaha … awas yaa kalo bohong,” sahut Arabella yang menanggapi candaan Agam. *** Calista dan Agam berada di toko yang menjual barang-barang antik. Banyak barang-barang antik dan juga patung-patung menyeramkan di sana membuat Calista bergidik ngeri, ditambah lagi lagu yang diputar merupakan instrument horror. Iya, Calista yakin itu instrument horror karena dia pernah mendengarnya di youtube maupun di salah satu film horror. Calista memperhatikan barang-barang tersebut dengan saksama. "Barang yang mana, Gam, yang mau lo beli?" tanya Calista. Agam mengusap dagunya tampak berpikir. "Gue juga bingung, Cals. Orang yang jualannya mana, ya?" tanya Agam saat menyadari di toko itu hanya ada dirinya dan juga Calista. Tidak ada pengunjung yang lain, maupun pemilik toko tersebut. "Ada yang bisa dibantu?" tanya seseorang dari belakang Agam dan Calista membuat mereka berdua terlonjak kaget hingga mundur satu langkah. "Astaga!" jerit Calista dan Agam serentak, mereka mengelus d**a dan menormalkan detak jantungnya karena terkejut. "Ehmm ... jadi gini, Pak. Saya mau beli guci antik, samar-samar gambarnya tampak wanita sedang tersenyum. Apa Bapak jual guci tersebut?" tanya Agam dengan menjelaskan detail barang yang dicarinya setelah menetralkan keterkejutannya. "Oh, guci manusia. Ya, masih ada kok," jawab sang penjual tanpa senyuman dan jauh dari kata penjual yang ramah. Calista dan Agam saling menatap satu sama lain. "Guci manusia?" tanya mereka serempak. Sang penjualan mengangguk. "Iya, guci manusia. Persis seperti yang tadi kamu bilang, samar-samar gambarnya tampak seorang wanita sedang tersenyum," imbuh sang penjual. Mereka hanya mengangguk dan ber-oh-ria. Agam dan Bapak itu pun berjalan ke tempat guci yang dimaksud, sedangkan Calista berpencar. Ia berjalan mencari benda yang menurutnya menarik, mungkin nanti dia akan membelinya atau lebih tepatnya meminta Haris untuk membelikannya. Mata Calista menangkap sebuah boneka yang sama persis seperti Klarybel. Ia berjalan mendekati boneka tersebut. "Ini seperti Klarybel versi cowok," gumam Calista sambil memegang boneka dan merabanya lamat-lamat. "Ada apa kamu pegang boneka itu?" Calista terkejut karena kedatangan sang penjual yang selalu tiba-tiba. Bisa jantungan lama-lama kalo di sini. "Astaga! Bapak kenapa selalu muncul tiba-tiba!" protes Calista dengan kesal. "Ada apa kamu pegang boneka itu?" ulangnya dengan tatapan yang membuat Calista bergidik ngeri. "Apa boneka ini dijual, Pak?" tanya Calista tidak berniat menjawab pertanyaan sang penjual. "Tidak. Boneka itu tidak dijual, boneka itu berbahaya. Seharusnya, ada boneka yang versi perempuannya," jawabnya dengan mantap. “Kalau tidak dijual, kenapa dipajang?” tanya Calista penuh selidik. “Apa hakmu menanyakan hal tersebut?” sangat terlihat nada tidak suka dari sang pemilik toko tersebut. Calista merasa bagian kanan baju boneka tersebut yang dibordir. “Josephine,” batin Calista saat melihat bordiran tersebut. Tatapan Calista kembali menatap sang penjual. “Aneh aja kalo nggak dijual tapi dipajang,” katanya dan kembali meletakan boneka tersebut. "Ngomong-ngomong, ada apa emang sama versi perempuannya, Pak?” tanya Calista yang lebih santai dari sebelumnya. "Tidak apa-apa," jawab sang penjual cepat. Calista memincingkan matanya curiga. Ada sesuatu yang disembunyikan sama Bapak ini, pikir Calista. “Kalau saya bilang, saya punya versi perempuannya, apa Bapak tetap bungkam dan nggak cerita sama saya?” Calista menatapnya dengan penasaran. Ia dapat melihat ekspresi terkejut dari sang penjual, tetapi bapak tersebut tidak mengeluarkan satu kata pun. Hanya ekspresinya yang membuat Calista yakin bahwa ada sesuatu serius yang disembunyikan. "Cals, ayo pulang! Gue udah dapet nih gucinya," ajak Agam yang tiba-tiba datang. Calista mengangguk patuh. Sekarang, pikirannya terpusat kepada Klarybel. Calista dan Agam keluar dari toko tersebut dengan pikiran Calista yang mendadak kacau. Ia memikirkan apa yang terjadi selama ini akan bertambah membahayakan? “Calista! Lo kenapa melamun? Ayo, masuk!” suara Agam menyentakan lamunan Calista. Calista mengangguk dan masuk ke dalam mobil Agam. Namun, saat Calista masuk ke dalam mobil sekilas ia merasa melihat Klarybel di jok belakang. Ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat Klarybel duduk manis tepat dibelakang Agam. Segera ia lepaskan sabuk pengaman dan mencoba meraih Klarybel. “Mau ngapain lo?” tanya Agam yang kebingungan dengan tingkah Calista. “Sebentar,” ucapnya. “Nah! Dapet!” imbuhnya saat berhasil mengambil Klarybel dari jok belakang. Agam terkejut, ia mengernyitkan dahi. “Sejak kapan lo bawa boneka?” tanyanya dan melajukan mobil meninggalkan toko tersebut. Calista menggeleng, ia menatap Agam sekilas sebelum akhirnya menatap Klarybel lamat-lamat. “Lo tadi lihat kan gue ke mobil sama sekali tidak membawa apa-apa kecuali tas kecil,” ucap Calista yang mendapat anggukan dari Agam. “Terus ini kenapa bisa ada di mobil gue?” Agam kembai bertanya karena menurutnya ini aneh boneka itu tiba-tiba ada di mobilnya. Calista menggeleng pelan. Agam mengembuskan napasnya pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN