Menyingkirkanmu untuk hari ini dan seterusnya sepertinya adalah keputusan yang tepat.
Sebab, kami ingin hidup tenang tanpa adanya gangguan dan ancaman untuk nyawa kami.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, sebagian siswa/siswi berhamburan keluar kelas. Calista merogoh saku baju saat merasakan getaran, ia menatap laya ponselnya yang menyala dengan nama Mama terpampang di layar.
“Hallo, Ma, ada apa?” sapa Calista ketika sudah tersambung.
“Kamu udah di mana, Sayang? Masih di sekolah kah?” tanya Arabella dengan gaduh.
Calista berjalan keluar kelas dengan dahi yang mengernyit. “Iya, ini baru mau pulang. Ada apa? Kok terdengar ramai di rumah?”
“Hari ini Liska mau ke rumah. Kamu cepat pulang yaa biar dia nggak cariin kamu mulu dan bawel. Mama pusing kalo dia mulai rusuh,” adu Arabella. “Papa sama Haris ada di rumah, mereka lagi menonton televisi makanya terdengar ramai,” imbuh Arabella.
Calista terkekeh mendengarnya. Pasti Mamanya sudah pusing membayangkan kerusuhan Liska kalau tidak ada dirinya di rumah.
“Iya, Ma. Siap!” sahut Calista.
Setelah Arabella berpamitan dan mengucapkan hati-hati, sambungan terputus. Calista mendongak menatap langit yang sudah mulai menggelap. Ia mengembuskannya dengan berat, kemudian melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah sebelum hujan turun.
Tiiin … Tinnn …
Suara klakson dari belakang Calista membuatnya terlonjak kaget. Ia menyingkir dan menatap sebal mobil yang sekarang berada di hadapannya. Benar-benar sehari tidak membuat orang kesal itu tidak enak bagi Agam.
“Ayo! Gue anter lo pulang,” teriaknya dari dalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka.
Calista mendengus kesal. “Gue pulang naik bus aja,” tolaknya dan berbalik meninggalkan Agam.
Bukan Agam namanya kalau tidak mengganggu Calista.
Ia melajukan mobilnya dengan jendela yang masih terbuka. “Nyai! Ayo, naik! Nanti keburu hujan,” teriaknya lagi. Kali ini dengan desakan.
Calista berbalik badan, menatapnya dengan kesal. “Lo mah sekali nggak buat orang kesel nggak bisa, ya!” protesnya dan berjalan masuk ke dalam mobil Agam.
Agam tertawa melihatnya. “Kesel, kesel tapi lo masuk juga,” ledek Agam dan melajukan mobilnya menuju rumah Calista.
Calista mendelik kesal. “Ya … daripada lo maksa terus dan itu mengganggu,” elak Calista yang sejujurnya dia senang karena bisa diantar pulang oleh Agam.
“See? Baru jalan sebentar aja hujan udah turun,” kata Agam yang disetujui oleh Calista.
***
Setelah sampai rumah, Calista langsung ke kamar mandi dan berganti baju agar saat Liska datang, ia masih terlihat segar. Calista duduk di tepi tempat tidurnya dengan rambut yang dibalut handuk dan digulung ke atas, tatapannya terfokus kepada boneka yang memakai baju warna hitam. "Maksud dari Bapak-bapak waktu itu apa, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia masih belum bisa melupakan kejadian yang membuatnya penasaran hingga detik ini.
"Kaaaak Calssss ...." teriak seorang anak perempuan dari ambang pintu dengan suaranya yang melengking memekakkan telinga. Anak perempuan yang berumur 11 tahun tersebut berlari dan memeluk erat Calista.
Calista terkejut, dirinya sedikit limbung saat sepupunya yang kecil tiba-tiba memeluknya. "Eh? Hai Liska. Kapan kamu datang? Kok aku nggak tahu," tanya Calista sambil mengusap puncak kepala Liska.
"Aku baru datang dan langsung ke kamar Kakak," jawab Liska dan menyengir lebar membuat Calista gemas sendiri melihatnya.
Liska adalah sepupu Calista yang tinggalnya di daerah Bogor, Mamanya Liska adalah adik perempuan yang Arabella punya. Mereka jarang sekali berkunjung ke rumah Calista, saat berkunjung pun Liska tidak pernah menginap. Entah karena apa.
"Menginap atau pulang, Lis?" Tanya Calista saat Liska melepaskan pelukannya.
Padahal, dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Pulang Kak, biasalah Papa banyak kerjaan mana mau dia menginap," jawab Liska dengan nada merajuk. Pipinya mengembung gemas, bibirnya mecebik kesal.
Tepat, benar kan dugaan Calista.
Liska menoleh ke arah lemari boneka Calista. Matanya berbinar melihat salah satu boneka yang belum dia lihat sebelumnya. "Kaka punya boneka baru lagi?" Liska memekik girang saat melihat Klarybel.
Ia menyentuh pintu kaca tersebut, menatap boneka itu penuh minat.
Calista mengangguk. "Iya, Lis. Kenapa emang? Kamu suka sama boneka itu?" tanyanya saat melihat Liska yang bersemangat saat mengetahui keberadaan boneka tersebut.
Liska menoleh dan menatap Calista dengan semangat. "Suka, Kak! Bonekanya lucu," jawabnya dengan mata yang berbinar-binar.
Calista tersenyum miris. Iya, itu juga kesan pertamaku saat melihat boneka itu. Tapi, sayang boneka itu di luar dugaanku.
"Kamu mau memilikinya, Lis?" tanya Calista menatap Liska.
Ia bergerak mendekat menuju lemari boneka. Liska menggeser posisi berdirinya saat mengerti kalau Calista ingin mengambil boneka yang menarik hatinya itu.
Liska mengangguk antusias. "Mau banget, Kak!" pekiknya girang.
Calista membuka pintunya dan mengambil Klarybel dari lemari kaca, Liska manatapnya bingung saat Calista mengulurkan boneka tersebut kepadanya. "Ini untuk aku, Kak Cals?" tanya Liska sembari mengambil alih Klarybel dari tangannya.
Calista mengangguk dan tersenyum. "Iya, itu untukmu, Sayang," jawab Calista dengan senyuman hangat yang membuat Liska semakin senang.
Liska mengangkat Klarybel tinggi-tinggi dan memeluk erat Calista. "AAA!!! Makasih Kak Cals! Kakak memang yang terbaik dan mengerti mau aku ...." Liska memekik senang membuat Calista tertawa mendengarnya.
"MAMA AKU DIKASIH BONEKA SAMA KAK CALISTA!" teriak Liska dengan antusias sambil berlari menuju ruang tamu dan meninggalkan Calista di kamarnya.
Terlepas dari Liska yang senang mendapatkan boneka, Calista menghembuskan napas dengan gusar. Semoga saja ini yang terbaik dan boneka itu tidak mengganggu Liska dan keluarganya. Maafkan Kakak ya, Liska.
***
Saat Calista ke ruang tamu, di sana sudah berkumpul keluarganya dengan keluarga Liska. Bahkan, Liska seolah lupa kedatangannya ke rumah untuk melepas rindu pada Calista karena adanya keberadaan Klarybel di dekatnya. Anak itu sedang asik bermain dengan boneka barunya.
“Calista, Liska maksa kamu ya buat kasih boneka lucu itu?” tanya Tantenya saat melihat sang anak asik bermain dengan boneka yang baru saja diberikan oleh Calista.
Calista menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Nggak, Tante. Itu emang akunya mau kasih boneka untuk Liska. Koleksi boneka aku di kamar udah penuh lemarinya,” jawab Calista mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
Haris yang kebetulan duduk di samping Calista pun berbisik, “kamu yakin? Bukannya kamu melarang boneka itu dikasih ke orang lain?” tanya Haris yang bingung dengan keputusan adiknya itu.
Calista menggangguk. “Kakak nggak marah kan sama aku?” Calista menatap Haris dengan tatapan bersalahnya.
Haris menggeleng, ia tersenyum dan mengacak rambut adiknya. “Kakak nggak marah, malahan Kakak sedikit lega karena boneka itu sudah nggak di sini lagi,” jawab Haris yang membuat Calista akhirnya bernapas lega. “Tapi, apa kamu yakin keluarga Liska akan aman? Mereka bisa tetap menjalani hidup seperti biasanya?” imbuh Haris.
Calista terdiam, menatap Liska yang masih fokus bermain dengan bonekanya.
“Ayo, dong, keluarkan lagi cahaya itu dari mata kamu,” celoteh Liska pada boneka itu tanpa ada yang menyadari, kecuali Calista.
Calista seakan lupa caranya bernapas ketika mendengar celotehan Liska. Anak itu benar-benar tidak tahu ada yang salah dengan bonekanya.