Bab 18: Kejahatan Merenggut Nyawa Seseorang

1133 Kata
Dia hadir kembali dengan ajakan sesatnya dan masa lalunya yang kelam *** Calista duduk di bangkunya, suasana kelas yang sepi membuat Calista memilih untuk membaca buku. Tiba-tiba ia merasakan bulu kuduknya meremang, Calista mengusap tengkuk lehernya tanpa berani mendongak atau pun mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya. Semilir angin yang tiba-tiba datang membuat Calista bergidik ngeri, ia memberanikan diri untuk melihat sekitarnya. Dia melihat seorang perempuan memakai seragam yang sama dengannya, duduk di bangku paling belakang dan paling pojok. Rambut yang menutupi wajahnya membuat Calista tak bisa melihat wajah wanita tersebut. "Siapa dia? Bukannya di kelas ini baru gue saja yang datang?" pikir Calista, tidak mau diambil pusing, ia kembali membaca bukunya. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Oh sial! Dia pasti bukan manusia, makanya gue pusing setelah melihatnya, batin Calista. Braaak! Tiba-tiba pintu kelas Calista yang tadinya terbuka lebar, kini tertutup rapat membuat Calista tersentak kaget. "Mulai ganggu, deh," gumam Calista pura-pura tidak peduli dengan makhluk yang berada di belakang. “Tunggu, dia bukannya sosok yang waktu itu juga pernah menampakan dirinya?” tanya Calista pada dirinya sedirinya. Braaak! Kursi yang berada di sebelah Calista tiba-tiba saja terjatuh, dia kaget bukan main. Ia mulai kesal dengan makhluk yang berada di belakang. "Aduh, udah dong! Aku 'kan nggak ganggu," ucap Calista tanpa menoleh ke belakang, ia memijat pelipisnya yang mulai pening. Kita belum kenalan .... Suara yang tiba-tiba terdengar oleh Calista, berhasil membuat Calista tertegun. Aku Calista, kamu bisa pergi dari sini? Aku 'kan nggak ganggu kok. Mereka mulai berkomunikasi melalui batin. Ketika Calista mengalihkan pandangannya dari buku, ia kaget melihat wanita tersebut sudah berubah tempat. Dia berada tak jauh dari Calista. Calista beranjak keluar dari kelas, namun nahas pintu kelasnya tidak bisa di buka. Astaga! Kenapa pintunya tak bisa dibuka. Calista menggedor-gedor pintu kelasnya. "Tolong ... tolong gue ke kunci di dalam kelas, yang ada di luar tolong buka," teriak Calista. Berharap ada orang yang membantunya. Kamu nggak bisa keluar, kamu harus menemaniku .... Calista melihat ke arah wanita tersebut dengan takut. Aku nggak mau berteman dengan kamu,, kita nggak akan bisa berteman. Kita beda dunia! Perlahan wanita tersebut mendongak, Calista semakin ketakutan. Kepalanya makin lama makin pusing. Dia mendongakan kepalanya, matanya melotot menatap Calista, wajahnya pucat pasi. "Tolong … tolong …." teriak Calista sembari menggedor-gedor pintu kelasnya. Wanita itu bergerak menghampiri Calista dengan tatapan membunuhnya, Calista tidak bisa berkutik. Ia terdiam mematung, kepalanya terasa sangat pusing .... *** Calista mengerjapkan matanya berkali-kali, pertama yang dilihatnya ketika sadar adalah ruangan yang serba berwarna putih, UKS. "Akhirnya, lo sadar juga," ucap Agam mengembuskan napas lega. "Kok, gue bisa ada di sini?" "Ada anak kelas X yang nggak sengaja lewat depan kelas kita, dia mendengar ada yang teriak minta tolong. Namun, ketika dia pengin membuka pintu kelas, pintunya terkunci dan lo berteriak histeris, orang itu panik dan langsung minta pertolongan. Ketika pintu itu udah bisa dibuka, yang kita lihat adalah lo yang tergeletak di lantai, pingsan." Hening, Agam mengusap dagu layaknya orang yang sedang berpikir. "Sebentar deh, gue bingung nih. 'Kan kata kelas X pintu kelas terkunci tapi kok lo bisa masuk? Lo masuk lewat mana, Cals?" tanya Agam dengan tatapan bingungnya. Calista menggeleng cepat, "Nggak, Gam. Pintu kelas itu nggak dikunci, buktinya aja gue bisa masuk 'kan? Tapi, tadi itu ...." "Tadi itu, apa?" "Gue liat ada makhluk yang sama dengan kita, perempuan memakai seragam duduk di barisan paling belakang dan paling pojok. Dia … dia bukan manusia. Dan dia mengajak gue kenalan sekaligus bermain." "Dan lo mau main sama makhluk itu?" "Gue nggak mau, kalo gue mau ikut dia main, gue nggak bakal ada di sini. Gue bakalan ada di alam lain, Gam. Tapi, ketika gue menolak ajakannya, dia murka. Dia seakan-akan ingin membunuh gue." "Tapi, sekarang lo masih hidup?" "Ya, alhamdulillah gue masih hidup. Pasti karna tiba-tiba pintu terbuka dan banyak orang yang mau menolong gue saat itu, pertolongan yang tepat." "Lo bilang makhluk itu sama dengan kita, memakai seragam?" Calista mengangguk. "Apa mungkin Gam, di sekolah kita pernah ada yang meninggal?" "Kalo masalah itu, gue pernah dikasih tau sama tetangga gue. Dia alumnus sekolah ini." Agam menatap serius Calista. "Dia kasih tau apa ke lo? Cerita ke gue, Gam!" "Oke … oke, sabar. Jadi gini ceritanya ...." *** Seorang wanita yang pendiam sedang duduk di bangku barisan paling belakang dan paling pojok, teman-temannya menjuluki dia, nerd. Kala itu, kelas XI B mendapat giliran pulang paling akhir di antara kelas-kelas lain, karena kelas XI B sedang melaksanakan ulangan harian. Setelah bel kembali berbunyi empat kali, mereka semua langsung mengumpulkan lembar jawaban. Siswa-siswi kelas XI B berhamburan keluar kelas, mereka bernapas lega karena sudah selesai ulangan. Dan wanita kutu buku itu tidak seperti teman-temannya yang terburu-buru pulang ke rumah, ia lebih memilih untuk beristirahat di bangkunya sembari membaca sebuah novel komedi. Tiba-tiba dia merasakan ingin buang air kecil, ia beranjak keluar kelas menuju toilet perempuan. Toilet yang harus melewati lab. Komputer, di situlah keselamatan dia mulai terancam. Ketika dia berjalan melewati Lab. Komputer, tanpa sengaja matanya menangkap dua orang bertopeng sedang melakukan pencurian komputer, ia pengin menghampiri dan menghajar dua perampok itu. Namun, diurungkan niatnya karna dia tidak menguasai ilmu bela diri, bodohnya dia bukan mencari bantuan malahan berbalik arah menuju kelasnya. Saat dia baru selangkah maju, tanpa sengaja dirinya menendang sebuah kaleng minuman. Perampok tersebut berhenti melakukan aksinya, mereka menoleh ke arah luar jendela. "Siapa di sana?!" suara perampok tersebut menggelegar, si nerd terburu-buru melangkah 'kan kakinya menuju kelasnya. "Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" ucapnya pada diri sendiri, ia duduk dengan gelisah, jantung berdegub tak menentu. "Aku harus berpura-pura tak tau apa-apa, daripada nyawaku melayang." ia kembali membaca novelnya, matanya sesekali melirik ke arah pintu. "Siapa orang yang memergoki kita tadi?" suara salah satu perampok terdengar dari luar kelasnya, si nerd semakin gelisah. "Kita harus membunuhnya!" timpal teman si perampok. Nerd menelan ludah, peluh membasahi keningnya. "Bagaimana jika aku ketangkap sama mereka?" Braaak! Pintu kelas terbuka lebar, si Nerd menutupi wajahnya dengan novel. Ia berpura-pura sibuk membaca. "Jadi lo yang tadi datang ke lab. Komputer." perampok itu menyeringai membuat si nerd bergidik ngeri. "Apa maksud kamu?" suara si nerd bergetar antara menahan tangis dan ketakutan. Sepersekian detik, perampok itu mencekik perempuan tersebut dengan sekuat tenaga. "To-tolong," perempuan itu berusaha berteriak. Tangan perempuan meraba-raba meja dan bangku untuk mencari benda yang bisa untuk memukul perampok tersebut, belum sempat menemukan sesuatu perampok yang lainnya mengacungkan pisau yang tajam dan menancapkan pisau tersebut ke perut si nerd. *** "Jadi, dia meninggal di tempat, karena tusukan itu?" tanya Calista saat Agam selesai menceritakannya. Agam mengangguk. "Sepertinya iya, makanya ia menampakan diri di bangku itu." "O, pantesan, ya ya gue ngerti sekarang―o, ya, Gam lo mau 'kan nanti temenin gue ke tempat barang antik yang waktu lo beli guci? Gue mau ketemu sama penjualnya, ada yang mau gue tanyakan." "Oke, abis pulang sekolah." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN