Bab 19: Toko Barang Antik

1221 Kata
“Semua yang terjadi di luar logika manusia. Percaya atau pun tidak, memang itu kenyataannya.” *** Calista dan Agam menuju tempat jual barang antik yang beberapa waktu lalu mereka kunjungi. Agam maupun Calista bingung saat tidak menemukan letak toko tersebut. "Cals, kita udah tiga kali bolak-balik daerah sini. Tapi, kok nggak ada tokonya, ya?" Agam memperlambat laju mobilnya. Sesekali kepala Agam menoleh ke kanan dan ke kiri, begitu pun dengan Calista. "Iya, Gam. Aneh. Padahal 'kan tokonya itu daerah sini, gue masih inget banget kok," timpal Calista yang juga ikut kebingungan mencari toko barang antik tersebut. Agam memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap Calista dengan frustrasi dan lelah. "Kita tanya aja, yuk? Dari pada muter-muter nggak jelas," saran Agam yang akhirnya putus asa. Calista menganggu setuju. "Gue aja yang tanya, lo diem di sini," kata Calista sembari melepaskan sabuk pengaman. Agam mengangguk setuju tanpa protes seperti biasa.  Calista melihat bapak-bapak sedang mengobrol di sebuah pos yang mana tertempel papan bertuliskan pangkalan ojeg. Dia menghampiri. "Permisi … maaf mengganggu waktunya sebentar, saya mau bertanya sesuatu, boleh?” izin Calista berusaha untuk terlihat sopan. Jujur, Calista sebenarnya takut karena dia tidak pernah bergaul dengan banyak lelaki, sedangkan sekarang banyak lelaki yang sedang duduk di pos tersebut. Agam yang berada di dalam mobil pun tetap mengawasi Calista, ia hanya tidak mau terjadi sesuatu pada Calista. "Oh, iya. Mau tanya apa, Neng?" salah satu di antara lelaki itu membuka suara. Menatap Calista dengan sopan, tidak ada tatapan genit atau menggoda yang diberikan kepada Calista. "Bapak tau toko barang antik sekitar sini nggak?” tanya Calista menatap satu per satu orang yang berada di sana. “Kira-kira ada di mana, ya? Saya dan teman dari tadi mencari-cari, tapi nggak ketemu," imbuh Calista dengan tatapan sendu. Mereka saling tatap satu sama lain. Raut wajahnya pun terlihat kebingungan membuat Calista dilanda penasaran. "Toko barang antik? Bertahun-tahun saya ojeg di sini nggak ada toko itu, Mba," jawab bapak tersebut. “Kami malah baru tahu dari Mba,” timpal lelaki yang lain. Calista terdiam, ia bingung. Kenapa mereka tidak tahu toko tersebut? "Mba, pernah berkunjung ke toko itu emang?" tanya lelaki yang berambut poni. Calista mengangguk. "Pernah, beberapa waktu lalu saya ke sana. Tapi, saya bingung, kenapa toko itu sekarang nggak ada. Seinget saya toko tersebut bersebelahan dengan toko barang bekas yang ada di sana." Calista menunjuk toko yang tidak jauh dari tempat pangkalan ojeg. Sontak mereka yang ada di sana mengikuti arah yang ditunjuk oleh Calista. "Wah! Mba toko yang di sebelahnya mah bisa berubah sendiri," ucap bapak-bapak yang dari tadi hanya menyimak. Calista mengernyitkan dahinya, dia benar-benar bingung sekarang. "Maksudnya bisa berubah sendiri giamana ya, Pak?" tanya Calista yang tidak mengerti maksud lelaki tersebut. "Ya ... toko itu nanti bisa jadi toko kembang orang meninggal, bisa jadi toko kotak music. Bisa berubah hanya dalam sekejap,” jawabnya dengan menggebu-gebu. “Padahal mah aslinya, itu kios kosong. Aneh memang Mba, tapi ya … memang kayak gitu kenyatannya," tambahnya yang mengerti ketidakmasuk akalan yang Calista tidak mengerti. Calista menelan saliva dengan susah payah, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Namun, apa daya mereka lebih mengetahui dari pada dirinya. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Calista bergegas menuju mobil Agam dengan langkah cepat dan pikirannya yang penuh. Calista masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru, ia langsung memakai kembali sabuk pengamannya dengan terburu-buru.  Agam terkejut melihat Calista. "Heh, lo kenapa? Kok kayak orang ketakutan gitu?" Agam memerhatikan Calista yang sedang mencengkram erat sabuk pengaman. “Mereka ngak macam-macam sama lo kan?” tanya Agam dengan kilatan marah di matanya. Calista menggeleng cepat. "Ta-tau nggak? Ternyata toko antik itu … ssebenernya nggak ada," jawab Calista dengan ketakutan. Agam mengernyit bingung, "Maksudnya apa sih, Cals? Gue nggak ngerti. Coba lo jelasin secara detail, tapi tenangin diri lo dulu deh," ucap Agam yang sedikit lega karena dugaannya salah. Calista memejamkan mata dan mengatur napas. Ia kembali membuka matanya dan menatap Agam. "Toko antik itu ternyata kios kosong yang hanya dalam sekejap bisa berubah dengan sendirinya.” Calista terdiam, ia memperhatikan Agam yang masih belum mengerti ucapannya. “Jadi gini, kemarin bisa jadi toko barang antik, nggak lama kemudian bisa jadi toko bunga orang meninggal, dan toko kotak musik. Benar-benar di luar logika, tapi memang itu kenyataannya.” Calista memperjelas agar Agam mengerti maksudnya. Agam yang akhirnya mengerti penjelasan dari Calista pun membelalakan matanya terkejut. "Lo serius?” tanyanya yang benar-benar tidak percaya. Calista mengangguk. “Wah ada yang nggak beres nih, Cals. Kita harus pulang sekarang!" perintah Agam tak terbantahkan. "Tapi Gam, gue harus ketemu bapak yang menjual barang-barang itu. Pleas, kita cari sampe ketemu, ya? Soalnya ada yang pengin gue tanyakan ke dia," cegah Calista. “Ini benar-benar penting, Agam.” Calista memohon pada Agam dengan tatapannya yang bisa saja membuat orang melunak saat melihatnya. Namun, Agam tidak luluh dengan tatapan Calista. Ia menggeleng dan melajukan mobil meninggalkan daerah yang menurutnya, aneh. "Gue nggak mau kita terjadi apa-apa. Jadi, dari pada ada sesuatu yang terjadi lebih baik kita hindarin," ucap Agam tak terbantahkan. “Agaammm …,” rengek Calista yang baru pertama kali merengek pada seseorang selain Haris. Agam menatapnya sekilas dengan kedua alis yang terangkat. Calista diam-diam gemas dengan ekspresi yang Agam keluarkan. “Nyai lagi merengek?” tanya Agam tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Calista menghela napas dengan kasar. “Agam gue serius,” ucapnya yang mulai kesal karena Agam ingin meledeknya atau memang sedang meledeknya? Agam terkekeh mendengarnya. “Nyai udah mulai mode darah tingi alias marah-marah mulu,” ledek Agam yang mendapat tatapan kesal dari Calista. “Gam, nggak bisa balik ke tempat tadi? Gue mau tanyain tentang boneka yang waktu itu gue pegang.” Calista menatap dengan tatapan memohon saat mobil Agam sudah melaju jauh meninggalkan daerah tempat toko tersebut. Agam menggeleng lagi. Kali ini menampilkan wajah seriusnya. “Demi keselamatan kita berdua.” Nada tegas Agam membuat Calista tidak berkutik meminta kembali lagi ke tempat tersebut. “Nyai, kok diem?” tanya Agam melirik sekilas ke arah Calista yang sedang melamun. Calista menoleh, menatap Agam serius. “Boneka yang ada di tempat penjual itu sama dengan boneka yang gue punya, tapi gue versi ceweknya.” Calista memperhatikan Agam yang sepertinya menyimak ucapannya. “Dia bilang boneka itu tidak bisa dipisahkan karena berbahaya,” cicit Calista. “Boneka yang mana?” tanya Agam penasaran. “Boneka yang waktu itu tiba-tiba ada di mobil lo.” “Sekarang boneka lo ada di mana?” Calista terdiam sejenak. “Ada di sepupu gue. Semenjak boneka itu nggak ada, semua memang terasa aman. Beda sama yang sebelum boneka itu ada di rumah,” tutur Calista. “Mau minta bantuan kakak kelas yang waktu itu membantu gue nggak?” tawar Agam. “Nanti aja, Gam. Gue masih ada satu orang yang mungkin bisa gue andalkan dalam masalah ini,” tolak Calista secara halus. “Lo tolak saran gue bukan karena lo cemburu kan?” tanya Agam yang berhasil membuat jantung Calista berdebar. “Agam, kita cuma teman kan?” Calista menatap Agam dengan tatapan yang sulit diartikan. Agam menoleh cepat ke arah Calista saat mendengar pertanyaan dari perempuan itu. Ia terdiam cukup lama membuat jantung Calista semakin berdebar tidak menentu. “Iya,” jawab Agam terdengar seperti cicitan. Sialnya, Calista mendengar jawaban Agam. Dia menghela napas pasrah dan memalingkan wajahnya. Benar-benar sulit bagi Calista.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN