Kebahagiaanku terenggut
Maut datang menjemput
***
Calista turun dari mobil, ia telah sampai di rumah Agam. Namun, bangunan rumah dihadapannya membuatnya menatap takjub rumah Agam. Megah kata yang tepat saat melihatnya dari luar, entah di dalamnya akan semewah dan semegah apa. Sebelum masuk ke halaman rumah Agam, terdapat pos yang di jaga oleh dua orang satpam.
Apa memang Agam sekaya itu, ya, sampai dijagain sama dua orang satpam?
“Calista, lo kenapa? Takjub ya lihat rumah gue?” Agam telah berdiri di sampingnya, menatap Calista denga jenaka.
Agam salah satu lelaki yang mempunyai percaya diri yang tinggi, tetapi penakut. Benar-benar saling melengkapi antara dirinya dan Calista. Penakut dan pemberani, optimis dan pesimis, tampan dan cantik.
“Agam, lo sebenarnya anak siapa?” Calista menatap Agam dengan polos membuat Agam gemas melihatnya. Ingin sekali rasanya menangkup wajah yang menggemaskan itu dengan tangannya, tetapi Calista pasti akan memarahinya abis-abisan tanpa ampun.
Emang dasar si Nyai galaknya nggak ketolongan.
Agam menatapnya dengan jenaka. “Kenapa emang? Mau kenal sama bokap dan nyokap gue?” tanya Agam dengan candaan bermaksud untuk menggoda Calista.
Mata Calista membelalak terkejut. “Gue serius, Agam! Anak pejabat lo, ya?” Calista memincingkan matanya curiga.
Agam tertawa terbahak mendengarnya. “Hahahaha ... udah ah kebanyakan pengin tahu lo mah. Ayo, masukkk,” ucap Agam dan berjalan mendahului Calista.
Calista mengikuti langkah Agam dari belakang, ia melangkah dengan pelan dan ragu. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi yang pasti pikirannya mendadak penuh. Ini ada apa?
“Cals, ayo! Kok malah melamun, sih,” ujar Agam saat melihat Calista hanya terdiam di depan pintu, sedangkan Agam sudah berada di dalam rumah.
Calista tersentak saat mendengar suara Agam. Dia pun mengangguk dan berjalan masuk mengikuti Agam. Calista menatap sekililingnya, rumah lelaki itu benar-benar terlihat mewah dan megah. Di sisi kanan ada tangga yang melingkar menuju lantai dua, pajangan-pajangan yang berwarna keemasan semakin membuat kesan mewah terlihat nyata.
Ketakjuban Calista tergantikan saat dirinya merasakan ada hawa aneh di sekitarnya―di rumah Agam, tetapi dia bersyukur karena sampai saat ini dirinya belum bisa melihat apapun yang ada di rumah Agam atau mungkin penghuni tak kasamatmata itu belum ingin menampakkan dirinya?
Kau mencariku gadis kecil?
Suara itu ... entah datang dari mana. Namun, terekam jelas oleh indra pendengar Calista. Ia memperhatikan sekelilingnya, berharap bahwa ada orang lain selain dirinya dan Agam, tetapi ternyata tidak ada satu orang pun di rumah Agam, kecuali dia dan Agam.
"Gam, ada siapa di rumah ini selain kita?" tanya Calista.
Agam menatap Calista heran. "Nggak ada siapa-siapa, kenapa?" jawab Agam dengan bingung. “Bokap sama nyokap lagi nggak di rumah, pembantu gue tadi pagi izin pulang ke rumah karena anaknya sakit,” imbuh Agam secara detail.
Calista menggelengkan kepalanya, dirinya sudah mulai cemas. Di rumah Agam tidak ada siapa-siapa, berarti itu bertanda bahwa sosok yang dimaksud oleh Agam ada di sekitar mereka. Calista menundukan kepalanya dalam-dalam, mencoba mengatur napas dengan tenang. Dia harus siap menghadapinya, mau bagaimana pun bentuknya ia tidak boleh takut.
Aku tidak mencarimu. Siapa pun kamu bisa keluar dari tempatmu? Kenapa kamu mengganggu temenku?
Calista mengucapkannya dalam hati, itulah yang dikatakan Calista berkomunikasi dengan makhluk yang berbeda alam dengannya. Dia kembali menatap sekelilingnya dengan waspada, tetapi masih terlihat tenang dan terkendali.
“Cals, lo nggak mau duduk?” Agam menatap heran Calista, karena dia merasa bahwa Calista seperti asik dengan dunianya, sehingga Agam melihat Calista hanya terdiam. Dia tidak tahu, kalau temannya sedang berusaha berkomunikasi dengan makhluk lain.
Calista seakan tersadar kalau Agam masih berada di dekatnya, ia tersenyum pada Agam dan mengangguk. Dia berjalan menyusul Agam yang sudah duduk di sofa ruang tamunya. Calista memilih posisi tepat di samping Agam, ia mengempaskan dirinya di sofa. “Eh? Iya, maaf,” ucap Calista.
Agam tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya takjub dengan kelakuan Calisa. “Terlalu asik sama dunia lain, heh?” ledek Agam membuat Calista cengar-cengir karena tebakannya benar. “Tunggu sebentar, ya, gue mau ambil minum dulu.”
Calista mengangguk.
Saat Agam baru melangkah, ia teringat belum menanyakan pada Calista. Dirinya berbalik dan menatap Calista yang juga sedang menatapnya dengan bingung. “Lupa tanya, hehehe. Mau minum apa?” tanya Agam dengan cengiran.
“Apa aja yang ada keluarin,” jawab Calista dengan candaan.
“Perasaan gue ke lo dikeluarin juga nggak?” tanya Agam yang kembali menggoda Calista. Salah satu hobi Agam adalah menggoda Calista karena perempuan itu seperti orang yang mempunyai penyakit darah tinggi, kerjaannya marah-marah mulu. Agam menyukai itu.
Calista menatapnya serius. “Agam, jangan bikin fokus gue buyar,” ucap Calista menahan rasa kesalnya terhadap Agam.
Agam tertawa melihat ekspresi Calista. “Iya, iya. Yaudah hati-hati lo sendirian di sini, nanti takutnya tiba-tiba ada sosok yang muncul, hiiiii serem.” Agam kembali meledeknya.
Calista menghela napas. “Lo yang harus hati-hati, perasaan gue nggak enak soalnya,” kata Calista.
Agam menelan salivanya, bulu kuduknya meremang. “O-oke,” balas Agam dengan gugup. Ia pun melangkah menuju dapur dengan rasa ketakutan dan mencoba melawan ketakutannya. Nggak boleh takut, nggak boleh.
Sepeninggal-nya Agam, Calista duduk terdiam mencoba kembali berinteraksi dengan sosok yang tadi mencoba berkomunikasi dengannya. Namun, ia tidak mendengar apapun, lagi-lagi Calista mengembuskan napasnya pasrah, disandarkan kepalanya di punggung sofa, matanya pun ikut terpejam. Ia sangat lelah hari ini.
“Udah nggak bisa lagi sepertinya,” gumam Calista pada dirinya sendiri.
“Ehm!” Agam berdeham tepat di sebelah Calista, membuatnya terlonjak kaget dan menatap Agam dengan raut wajah yang menurut Agam terlihat lucu sekaligus menggemaskan.
“Agam? Kok udah di sini aja, perasaan lo baru banget ke dapur,” ujar Calista yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Agam menunjukkan camilan dan minuman yang berada di atas meja dengan dagunya. “Kan cuma mau ambil itu aja, ngapain lama-lama di dapur. Kalau gue masak dulu, ya baru lama atuh, Neng.” Agam membuka stoples kaca yang tutupnya berwarna keemasan sama seperti pajangan yang berada di ruang tamu.
“Perasaan cepat banget lo ambilnya.” Calista menatap bingung Agam.
“Lo mah pake perasaan mulu, hati-hati nanti jadi baper sama gue kan bahaya,” ledek Agam dengan senyum jenaka.
Calista mendengus kesal, diliriknya Agam dengan sinis. “Tadi gue sempat berinteraksi sama makluk yang ada di sini,” kata Calista dengan serius, tetapi masih kentara jelas kalau dirinya masih kesal sama Agam.
Seketika Agam langsung duduk dengan tegak saat mendengarnya, kini matanya menatap serius ke arah Calista. “Terus gimana, Cals? Apa dia selalu mengganggu gue? Atau dia terusik dengan kehadiran gue?” tanya Agam bertubi-tubi.
Calista mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Antara dia yang nggak menjawab atau emang guenya udah mulai nggak bisa lagi berinteraksi sama dia,” jawab Calista membuat Agam mendesah kecewa.
Kau masih penasaran denganku, Gadis kecil?
Calista mengernyitkan dahinya ketika ia mendengar suara itu lagi, Agam menelengkan kepalanya untuk melihat wajah Calista lebih jelas lagi. Ia melihat Calista seperti terusik dengan sesuatu. Dahinya yang mengernyit dengan mata yang menyipit.
“Cals, ada apa?”
“Gue bisa lagi berinteraksi,” jawab Calista yang terdengar seperti bisikan. Napas Calista memburu karena dirinya seperti diberi tanda bahwa ia akan menghadapi sesuatu yang membuat tubuhnya merasakan kesakitan.
Tiba-tiba napas Calista tercekat, ia pun menegang di tempatnya, ketika melihat makhluk berparas cantik menggunakan gaun pengantin yang berlumuran darah dengan lehernya yang juga terus mengeluarkan darah, sosok itu berjalan mengambang tepat di hadapannya. Sosok yang mencoba berkomunikasi dengannya, telah muncul.
Makhluk pengantin tersebut memutarkan kepalanya secara perlahan, hingga mata mereka bertemu. Dia menatap Calista dengan tatapan yang kosong, hampa, layaknya makhluk yang tidak bernyawa. Sedangkan Calista, terkejut bukan main, rasanya ia lupa bagaimana caranya bernapas, ketika melihat makluk tersebut juga tersenyum menyeramkan ke arah Calista. Senyum yang menyeringai mengerikan.
Calista berkeringat dingin melihatnya, seluruh anggota tubuhnya seakan-akan tidak berfungsi. Agam pun ikut menegang di tempat, wajahnya memucat ketika melihat reaksi Calista yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
***
Calista melihat Agam dan dirinya sedang duduk berdua, Agam terlihat khawatir terhadap dirinya. Kemudian, dirinya merasakan tertarik ke belakang hingga menjauh dari tubuhnya dan Agam. Kemudian, menghilang.
Calista melihat bangunan megah dan mewah di hadapannya. “Ini kan rumahnya Agam,” kata Calista pelan. Dirinya melangkah dengan pelan menuju pintu rumah tersebut.
Matanya tertuju pada mobil asing yang terparkir di halaman rumah tersebut. “Itu bukan mobil Agam. Apa itu mobil orang tuanya?” tebak Calista karena tidak melihat mobil Agam yang terparkir di sana.
Calista membuka pintu rumah tersebut. Dahinya mengernyit saat melihat apa yang di dalam rumah itu berbeda dengan rumah Agam. Rumah itu bernuansa hitam-putih terlihat lebih minimalis tetapi mewah karena bangunannya. Ini bukan rumah Agam. Lalu, ini rumah siapa?
Calista melihat pigura yang berada di meja seorang lelaki dan perempuan terlihat sangat berbahagia. Lelaki setengah berlutut dengan kotak kecil yang terbuka di hadapan perempuan yang tersipu malu dan juga senyum bahagia terlihat jelas.
“Mereka siapa?” Calista mulai terlihat linglung saat melihat satu persatu pigura yang berada di sana, tetapi ia tidak mengenalnya.
Suara mobil yang berderum dari luar mengalihkan fokus Calista, ia menatap pintu rumah yang masih tertutup. Namun, tak lama kemudian pintu itu terbuka bersamaan dengan munculnya dua orang yang berpakaian seperti pengantin. Tunggu, Pengantin?
“Jadi, sosok itu yang membawaku ke sini?”
Calista melihat mereka beranjak ke lantai dua, tanpa Calista sadari langkah kakinya pun mengikuti mereka. Dua orang berpakaian pengantin itu berjalan menuju kamar yang berpintu putih membukanya dan memasuki kamar yang juga bernuansa hitam-putih.
Lelaki itu tersenyum melihat wanita di hadapannya susah membuka gaun pengantin yang dikenakannya. “Mau kubantu membukanya?” tanya seorang lelaki yang sudah sah menjadi suami wanita itu.
Wanita itu tersenyum malu-malu dan mengangguk bertanda dia menyetujui tawaran lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya beberapa jam lalu.
Aduh, mati aku! Ini kenapa ada adegan begini segala, sih.
Lelaki itu tersenyum lebar dan berjalan semakin dekat. Saat jarak mereka sudah dekat, sang suami memeluknya dan merogoh saku celananya seperti mencari sesuatu yang tersimpan. Calista terkejut bukan main saat melihat apa yang dikeluarkan lelaki itu.
“Kamu akan tersiksa dengan ini, Sayang.” Lelaki itu menurunkan resleting gaun dan melancarkan aksinya.
“Aw! Sakit,” rintih wanita itu saat benda tipis, tajam, dan dingin menyentuh kulitnya yang putih dan halus.
Calista terkejut melihat apa yang terjadi di depannya, cairan merah berwarna pekat itu terus mengalir di punggung mulus wanita tersebut. Ini gila! Dia berencana membunuh wanita yang baru saja menjadi istrinya beberapa jam yang lalu?
“Tunggu dulu, Sayang. Gaunmu belum kubuka,” cegah lelaki itu saat wanita tersebut ingin melepaskan pelukannya. “Rasa sakit itu nggak ada, itu perasaan kamu aja.”
“Nggak, ini beneran rasanya sakit, Say—“
“Sssttt ... tunggu sebentar lagi, Sayang,” bisik lelaki itu dengan dekapan yang semakin erat dan seringaian yang tercetak di wajahnya yang terlihat tampan sekaligus terlihat sadis.
“Selamat tinggal,” bisikan s*****l dan mengerikan itu terdengar dari bibir lelaki itu dan sedetik kemudian terdengar jeritan yang melengking dari bibir sang wanita saat pisau menusuk lehernya. Ketika semakin dalam suara teriakan itu berganti dengan suara tawa dari lelaki itu.
Sang lelaki melepaskan pelukannya saat merasakan wanitanya sudah tidak bernapas lagi. Ia semakin terbahak ketika melihat wanita tersebut tergeletak di lantai dengan mulut yang terbuka dan mata yang membelalak.
Psyco, lelaki itu psyco.
Calista menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Diaaaa akan matiiiiiiii,” teriakan yang berada tepat di telinga kiri Calista membuatnya terkejut sekaligus ketakutan.
***
Dengan takut Agam menepuk pundak Calista. “Cals?”
“Calsss, lo dengar gue’kan?” Agam semakin panik karena Calista sama sekali tidak menanggapinya.
“Cals, lo jangan bikin panik dong,” ucap Agam yang semakin khawatir.
Calista tidak berkedip, bahkan tidak bergerak sedikit pun persis seperti patung.
“Ya Tuhan, lo masih hidup kan, Cals?” Agam mengusap wajahnya dengan gusar.
“Gam,” lirih Calista. Reaksi yang ditunjukkan Calista masih tidak berubah, hanya saja sekarang ia bisa berbicara. “Dia ada di hadapan gue,” imbuh Calista dengan suara yang teramat pelan.
“Ja-jangan bercanda!” Ketakutan mulai menguasai Agam.
“Dia jahat,” cicit Calista tanpa mengalihkan pandangannya.
Agam semakin menegang dan ketakutan, ia mengikuti arah pandang Calista. Namun, dia tidak melihat apapun yang menakutkan, tetapi tetap saja ketakutan menyergap dirinya. “A-apa yang dia mau?” tanya Agam dengan ketakutan yang luar biasa.
“Nyawa,” jawab Calista menatap Agam dengan tatapan sendu.