Bab 3: Dendam Menyesatkan

1506 Kata
“Dendam tak berguna untuk siapa pun karena hal itu hanya akan membuat hidupmu sulit, membuatmu tersesat dan dendam tak mengubah apapun yang telah terjadi. Semua hanya akan terbuang sia-sia.”                                 *** Calista memejamkan matanya rapat-rapat, kepalanya terasa sangat pusing bukan main. Jantungnya masih berdegup kencang, dia masih belum menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Terlebih lagi dengan apa yang diinginkan sosok itu. “Cals, gue harus bagaimana? Nggak mungkin kan gue sekeluarga meninggal karena sosok itu?” tanya Agam yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dirinya benar-benar sangat takut sekarang. “Apa sebelum lo pindah ke sini, lo tahu siapa pemiliknya?” tanya Calista menatap Agam dengan serius. “Gue nggak tahu, mungkin orang tua gue tahu,” jawab Agam dengan ragu. “Ada apa, Cals? Apa dengan gue tahu siapa pemilik rumah ini sebelumnya akan membuat sosok itu nggak menginginkan nyawa lagi?” Agam penasaran dengan apa yang terjadi. Calista menghela napas, ia sandarkan tubuhnya pada sofa, dipejamkan matanya sejenak untuk mengurangi pusing dan merasakan penat dengan pikirannya. “Tunggu, kepala gue pusing. Jangan berbicara dulu.” Calista mengingatkan Agam. Agam mengangguk, ia pun mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke depan. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, pikirannya bercabang-cabang memikirkan nasibnya dan keluarganya. Apa gue harus pindah dari sini? Calista mencoba mengingat-mengingat dunia wanita itu, hingga ia akhirnya teringat tempat terakhir wanita itu. Kamar. Ya, dia harus ke kamar yang pernah di tempati sepasang suami istri itu. Calista duduk tegak. “Kamar,” celetuknya pelan, tetapi masih dapat didengar oleh Agam. Agam menoleh dan menatapnya bingung. “Apa? Kamar?” tanya Agam dengan tidak yakin. Calista mengangguk mantap. “Ya. Tempat terakhir wanita itu adalah kamar. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk di sana,” jawab Calista mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Agam berdiri dari tempat duduknya menatap Calista dengan semangat. “Yaudah, kalau gitu tunggu apalagi?” Calista mendongak, menatap Agam. “Ada berapa kamar di lantai dua?” Agam terdiam tampak berpikir dan mengingat-ingat. “Ada enam kamar, mungkin?” Calista menahan kesal karena Agam terlihat tidak yakin. “Agam, serius. Ada berapa kamar di lantai dua?” Calista mencoba bersabar menghadapi Agam.    Agam pun berdecak kesal. “Ck, gue juga serius. Gue nggak pernah menghitung ada berapa kamar.” Raut wajah Agam berubah senang saat sebuah ide muncul di kepalanya. “Bagaimana kalau kita ke atas aja? Biar lo bisa tahu kamar mana yang dimaksud sama lo itu? Pasti ada kan ciri-cirinya?” Agam menatap Calista dengan berbinar-binar.    Calista terdiam sejenak, mencoba berpikir apakah cara Agam patut dicoba atau tidak. Namun, setelah mengingat-ingat kamar yang dimasuki oleh sosok itu, akhirnya Calista mengangguk dan mencoba cara yang disarankan oleh Agam. “Boleh,” sahut Calista dan berdiri dari tempatnya.    Calista dan Agam berjalan menuju lantai dua. Calista berjalan pelan sembari mengingat kejadian yang dialami oleh sosok itu. Pigura yang dia lihat di meja sudah berganti dengan guci milik orang tua Agam dan saat sampai di lantai dua ia teringat sesuatu.    “Gue nggak melihat kamar sebanyak ini sebelumnya, apa beberapa kamar ini baru dibangun setelah lo tempati?” tanya Calista pada Agam yang berada di depannya.    Agam berbalik badan dengan dahi yang mengernyit mencoba mengingat. “Sepertinya, iya. Tiga kamar di sini tambahan yang dibuat orang tua gue,” jawab Agam setelah berhasil mengingat.    Calista mengangguk paham. “Pintu ke dua. Gue ingat, mereka masuk ke kamar yang di sana,” jawab Calista dengan menunjuk kamar  yang dimaksud.    “Itu kamar gue, Cals,” cicit Agam menatap pintu kamarnya dengan ketakutan.     “Hmm... nggak salah lagi, sih. Pantesan aja lo sering diganggu sama dia,” ucap Calista dan berjalan mendahului Agam yang masih terpaku di tempatnya.    “Cals, lo nggak bercanda ‘kan?” Agam mencoba memastikannya lagi.    “Faedahnya apa kalau gue bercanda?” Calista menatap sinis Agam.    “Siapa tahu kan lo minta ke kamar gue karena mau yang nggak-nggak?” Agam memincingkan matanya curiga. Pikiran Agam benar-benar kacau sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa tinggal di mana penghuni tak kasatmata itu mengincar nyawanya secara bersamaan?     Calista berjalan mendekati Agam. “Lo yang minta gue ke sini kan buat bantuin lo? Tapi kalau misalnya lo nggak percaya, yaudah nggak apa-apa.” Calista menghela napas. “Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa karena gue tahu apa yang sosok itu incar.” Imbuh Calista.    Agam masih terdiam. Dia masih belum bisa mempercayainya.    “Dia sosok yang jahat, dia mengincar nyawa.” Calista tersenyum pada Agam, senyum yang belum pernah dilihat oleh Agam sebelumnya. “Lo bilang waktu di mobil, mungkin kemampuan gue bisa untuk membantu orang lain ‘kan? Gue pikir ini saatnya membantu orang yang udah  baik sama gue. Tapi sepertinya gue keliru, ini bukan saatnya. Kalau begitu gue pulang aja udah sore, takutnya nyokap cariin gue.” Calista pergi melangkah meninggalkan Agam yang diam terpaku.    “Tunggu.” Agam menarik tangan Calista membuat perempuan itu menghentikan langkahnya. “Maaf, bukan bermaksud nggak mempercayai apa yang lo bilang, tapi gue takut,” ungkap Agam pada akhirnya.    Calista berbalik badan dan menatapnya. “Agam, nggak ada yang perlu lo takuti. Pada dasarnya, manusia lebih kuat dari makhluk tak kasatmata. Ya, kecuali lo sejenis mereka,” ucap Calista terselip candaan agar Agam tidak terlalu takut. Agam terkekeh mendengarnya. Lalu, ia menarik Calista ke dalam kamarnya. “Ayo, kita cari petunjuk di kamar gue. Kita usir dia.” “Agam, gue nggak bisa mengusirnya.” Calista kembali mengingatkan. Agam terkekeh, ia membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk. “Ya, setidaknya bisa menemukan sebuah petunjuk yang berguna ‘kan?” tanya Agam. Calista menganggukan kepala. “Iya.” Perempuan itu berlutut di lantai tepat di mana waniata itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. “Di sini, di lantai ini dia terjatuh dan tidak tertolong lagi,” lirih Calista. Agam mengikuti Calista, ia pun berlutut di depannya. “Terus gimana?” “Dia pantas mati, dia pantas merasakan.” Kepala Calista mendongak, dia mendengar suara wanita itu, tetapi sosoknya tidak memunculkan wujudnya lagi. “Siapa?” tanya Calista pada wanita itu dalam hati. “Lelaki di rumah ini. Semua lelaki yang hidup hanya akan membuat sengsara. Mereka jahat, mereka tidak punya perasaan!” Terdengar suara marah yang tak terbendung lagi dari sosok itu. Calista menatap Agam dengan saksama. “Dendam. Wanita itu dendam pada semua lelaki karena dirinya telah terbunuh di tangan suami yang sangat dia cintai,” kata Calista dengan panik. Agam membelalak terkejut. “A-apa? Dendam?” Agam berdiri dengan gusar. Calista memejamkan matanya. “Kamu bisa pergi dengan tenang jika tidak memikirkan tentang dendammu. Dendam tak akan membuatmu menjadi baik. Dendam hanya akan menyesatkan dirimu. Kamu terjebak di dunia ini karena dendam, sedangkan kamu seharusnya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik dari ini.” “DIAAAAMMM!!!” teriak wanita itu yang membuat telinga Calista berdengung sakit. Sontak, Calista menutup kedua telinganya dengan erat. Agam membungkuk dan mengguncang pelan tubuh Calista. “Kenapa? Dia melakukan apa lagi?” tanya Agam dengan khawatir.   Calista menghela napas dan berdiri dengan lesu. “Dia udah dikuasai sama dendam. Jalan satu-satunya lo harus bisa hubungi seseorang yang bisa mengusirnya karena gue nggak bisa. Bahkan, saat mau mulai negosiasi, sosok itu udah menolak dari awal.” Menatap Agam dengan sendu. “Sorry, gue nggak bisa bantu lo,” kata Calista dengan penyesalan yang kentara jelas. Agam tersenyum memaksakan. “Nggak apa-apa, gue tau harus ke siapa kalau situasi udah gawat dan nggak terkondisikan lagi,” ucap Agam berusaha menenangkan Calista. “Lo nggak perlu khawatir, gue sekeluarga akan baik-baik aja.” Agam menepuk pelan pundak Calista. Calista mengangguk, ia pun melirik jam berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangannya. “Agam gue pulang, ya. Udah mulai sore, nanti takut orang rumah pada cariin gue,” pamit Calista. Agam mengangguk. “Ayo, gue anter pulang,” ucap Agam. Calista mengangguk dan mengikuti langkah Agam.                             ***     Selama perjalanan menuju rumah Calista, Agam hanya terdiam. Dia berbeda dari biasanya, Agam yang cerewet berubah menjadi Agam yang pendiam. Calista yang menyadari hal itu terlihat serba salah, dia tidak tahu harus bagaimana.             “Agam, orang yang lo maksud bisa membantu lo untuk mengusir sosok itu, siapa orangnya?” tanya Calista berusaha mencairkan suasana yang terasa tidak enak.             Agam menoleh ke arahnya sekilas, sebelum akhirnya ia kembali fokus ke jalanan. “Kakak kelas yang pernah gue bilang sama lo,” jawabnya dan enggan menyebutkan nama.             Calista mengangguk mengerti. “Oke, semoga dia benar-benar bisa membantu lo, ya,” katanya berusaha untuk tetap tenang dan khawatir.             Hingga akhirnya, mereka telah sampai di depan rumah Calista. “Mau mampir sebentar?” tanya Calista yang masih setia duduk di sisi Agam.             Agam tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Lain kali aja,” jawabnya yang berbeda dari sebelumnya.             Calista hanya mengangguk dan keluar dari mobil Agam setelah mengucapkan kata terima kasih. Dia menatap mobil itu melaju meninggalkannya di depan gerbang rumah. Calista menghela napas. Agam, kemampuan setiap orang terbatas, begitu pun dengan kemampuan yang gue punya. Tapi, gue janji, gue akan berusaha untuk mencari seseorang yang bisa membantu lo untuk mengusirnya, kalau memang Kakak Kelas yang lo maksud itu juga nggak mampu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN