Bab 4: Hari Terberat

2220 Kata
    Aku tahu, semua orang pasti pernah melalui hari terberatnya. Hari di mana rasanya ingin dilewati saja tanpa mau merasakannya. Hari di mana membuat seseorang lemah dan membutuhkan orang lain untuk menguatkan diri agar tetap bertahan. Kamu harus tahu, bahwa kamu adalah salah satu orang hebat karena bisa melewati hari terberat itu. Tak bisa dipungkiri, kamu masih bisa bertahan hingga detik ini.                             ***     Calista duduk di tempat tidur sambil bersandar, ia merasakan sangat pusing setelah kejadian di rumah Agam. Hari ini benar-benar menguras tenaganya, makhluk yang menampakan dirinya lebih dari satu kali atau lebih tepatnya bukan hanya satu yang dijumpai oleh Calista.     Calista yang menceritakan makhluk apa saja yang dilihatnya ketika di rumah Agam, membuat lelaki itu sempat ketakutan saat mengetahuinya atau mungkin sampai detik ini dirinya masih dihantui oleh rasa takut? Entahlah Calista benar-benar tidak tahu.     Calista mengambil ponselnya yang berada di dalam tas sekolahnya. Kemudian, mencari kontak Agam. Dia ingin berusaha menenangkan Agam, hanya itu yang dia inginkan sekarang. Senyum Calista terbit saat menemukan kontak Agam. Untuk Agam,  Gam, nggak usah terlalu takut, ya? Karena ketika lo takut, berarti lo membuktikan bahwa dia lebih kuat dari lo. Bukan hanya dia yang ada di rumah lo, masih ada sosok lain yang tinggal di sana, ada kok yang baik tapi juga ada yang jahat. Dan dia nggak akan mengganggu kalau nggak diganggu, seperti halnya manusia, yang akan marah jika dirinya diusik ketenangannya. Send.     Calista berharap semoga aja Agam bisa merasa sedikit tenang setelah membaca pesannya … mungkin?     "Cals!" Haris memanggilnya dari ambang pintu.     Calista menatapnya dengan tatapan sendu. "Ada apa, Kak?" tanya Calista yang memperhatikan Haris berjalan mendekat.     "Kaka mau pergi ke Jogja. Kamu mau ikut atau tinggal di sini aja?" tanyanya sambil menatap nanar Calista.     “Kakak ke Jogja sendiri?” Calista heran dengan Haris yang tiba-tiba saja menawarinya untuk ikut. Pasti Hari pergi bersama Elvan dan Arabella, maka dari itu dia juga mengajak Calista.     Haris menggeleng. Ia pun memilih duduk di tepi tempat tidur Calista. “Nggak dong,” jawab Haris dengan senyuman yang membuat Calista kesal. Pasti Haris mau meledeknya.     Calista ingin memastikan bahwa tebakannya benar. "Sama Mama dan juga Papa, Kak?”     “Iya … eh, tapi ‘kan kamu sekolah, Cals. Kalau gitu kamu nggak bisa ikut, nggak mungkin kamu bolos sekolah,” ledek Haris dengan tawa yang ditahannya.      Tuh kan, benar. Haris hanya ingin meledeknya.     Calista mengembuskan napasnya berat, dirinya kesal dengan Haris yang selalu suka meledeknya. Ditatapnya Haris yang sedang meledeknya. “Untung selama tiga hari sekolahku libur, karena guru yang mengajar sedang melakukan seminar di luar kota. Jadi, nggak ada alasan untuk aku nggak ikut,” sahut Calista dengan senyuman lebar yang membuatnya seperti orang i***t.     Haris tertawa ketika melihat raut wajah kesal Calista, namun ada yang menarik perhatiannya. Calista dari tadi terus-menerus memijat pelipisnya. "Kenapa dengan kepalamu, Cals? Dari tadi kaka lihat kamu terus memijatnya," tanya Haris dengan alis yang menaik satu. Calista tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Kaka pasti tau kenapa aku seperti ini."     Haris berdecak kesal. "Ck, kenapa kamu selalu maksain untuk melihat mereka? Kalau pada akhirnya kepala kamu menjadi sakit, Cals!" Haris menatap Calista dengan tidak suka. Ia memang tidak menyukainya ketika melihat Calista selalu sakit, setelah melihat makhluk halus.     "Kak! Aku juga nggak mau seperti ini, tapi mau diapain lagi? Tiba-tiba aku bisa melihat mereka, tapi kemudian nggak bisa melihatnya lagi. Entahlah aku bingung, dikatakan Indigo? Bukan, karena aku nggak selalu bisa menggunakan kemampuan melihatku seterusnya, hanya di waktu tertentu saja," ucap Calista mengusap wajahnya dengan gusar.     Haris menghela napas pasrah. "Itu karena wanita sinting yang memilih kamu untuk mempunyai kemampuan yang sama dengannya, Cals," ujar Haris kemudian keluar dari kamar Calista.     “Siapa, Kak?” tanya Calista pada Haris yang sudah ingin menutup pintu.     Haris menatapnya sejenak. “Cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahuinya,” jawab Haris sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.     Calista tercengang mendengar perkataan Haris, dia terdiam sejanak sembari menelaah ucapan Haris. Jadi, karena seseorang aku bisa seperti ini? Seseorang yang memberikanku kemampuan ini?                             ***     Calista bergegas menuju ruang makan saat namanya sudah diteriaki oleh Arabella untuk segera ikut bergabung makan malam. Dirinya berjalan sambil bersenandung kecil, moodnya sedikit lebih baik saat dia beristirahat di kamarnya. Hibernasi satu jam, lumayan bisa membuat moodnya berubah menjadi baik.     “Asik ... masakan kesukaanku,” ujar Calista dengan riangnya dan duduk di tempatnya—di samping Haris.     Haris menggelengkan kepala melihat tingkah laku Calista yang seperti anak kecil. Sedangkan Arabella, hanya tertawa melihat wajah bahagia Calista. Arabella sangat menyayangi Calista, dirinya akan ikut merasakan sedih saat melihat anak gadisnya itu sedang bersedih.     “Kamu besok ikut kan ke Jogja?” tanya Arabella setelah meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk pauk untuk Elvan.     “Ikut dong, kan sekolahku lagi libur,” jawab Calista dengan riang.      Dia pun memakan makanannya dengan lahap.     “Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Elvan dengan suaranya yang berat dan tegas mampu mengubah suasana di sekitar menjadi tegang dan tidak sehangat beberapa detik yang lalu.     Calista meliriknya sekilas. “Biasa aja, nggak ada apa-apa,” jawab Calista sekenanya karena dirinya tidak tahu harus menjawab apa.     Elvan mengangguk. Arabella dan Haris bernapas lega karena Elvan tidak menyinggung hal lain yang akan membuat pertengkaran lagi di meja makan. Namun, tidak lama kemudian, sindiran halus keluar dari mulut Elvan. “Kalau dengan imajinasimu? Apa ada yang menarik?”     Calista menatap Elvan dengan bingung. Imajinasi?      “Aku nggak pernah berimajinasi, Pa,” sahut Calista dengan bingung.     “Bukannya setiap hari kamu berimajinasi?” tanya Elvan menatap Calista yang sedang kebingungan ke mana arah pembicaraan Papanya. “Kamu seakan-akan melihat mereka yang tidak bisa kami lihat,” imbuh Elvan.     Calista yang mengerti arah perbincangan Elvan, hanya bisa menahan kesabarannya karena dia tahu sekeras apapun dirinya meyakinkan Elvan, lelaki itu tetap tidak akan mempercayainya. “Ya, terserah Papa mau anggap aku imajinasi atau orang gila. Terserah,” ucap Calista pada akhirnya.      Sekali nggak menyudutkanku tentang hal ini bisa, Pa?     Haris yang megerti situasi sudah tidak mendukung, akhirnya mencoba mengalihkan pembiacaraan. “Besok kita berangkat pagi ya untuk menghindar dari kemacetan Jakarta, takutnya ketinggalan kereta.” Haris menatap satu per satu yang ada di ruang makan.      Calista hanya mengangguk dan kembali menyantap makanannya.     “Mama ikut aja, mau jam berapa bebas karena kan kamu yang tahu dan kamu juga yang mngurusnya. Tiket untuk Calista udah kamu pesan, Hars?” tanya Arabella karena teringat tiket.     Haris mengangguk sembari menyantap makanannya. "Udah, aku beli sekalian untuk kita semua karena walaupun Calista sekolah, ia juga harus tetap ikut. Ya kali Calista ditinggal sendirian di rumah, Ma," jawab Haris yang mendapatkan anggukan dari Arabella.      “Calista.” Suara berat Elvan membuat Calista menoleh ke arahnya. “Kamu jangan pernah bertingkah seperti orang aneh di tempat umum. Cukup di rumah aja kamu bertingkah aneh dan berimajinasi,” ucap Elvan mengingatkan Calista.      d**a Calista rasanya sesak mendengar ucapan Elvan. Benar-benar selalu menyakitkan hati dirinya. Calista berusaha kuat untuk tidak menangis di depan keluarganya karena itu sangat memalukan.     Calista mengalihkan tatapannya. “Iya, Pa,” cicit Calista.      Mendadak suasana di ruang makan hening.                                     ***      Calista tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menutup pintu kamar dan pertahanannya runtuh. Ia menitikan air mata, berusaha untuk tidak terdengar isakan tangisnya. Calista menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan, ia mengulanginya beberapa kali guna mengontrol emosi yang menyesakkan dadanya.     “Nggak boleh lemah, Calista kan udah biasa dapet perlakuan seperti itu dari Papa,” ucapnya pada diri sendiri. Calista menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Nggak boleh nangis! Lebih baik kita berkemas untuk perjalanan besok ke Bandung,” kata Calista berusaha untuk tersenyum.     Calista berdiri di depan lemarinya yang terbuka, memilih-milih baju yang sekiranya cocok untuk dipakai di Bandung. Dia melirik tempat tidurnya yang sudah ada empat pasang baju. Cukup nggak, ya?     “Ah, bawa aja yang banyak, biar bisa foto-foto dengan baju yang berbeda,” ucap Calista sambil terkekeh membayangkannya. Seketika dirinya melupakan masalah antara dirinya dengan Elvan.     Tok ... tok ... tok ....     Suara ketukan pintu kamar Calista membuat fokusnya teralihkan. “Masuk aja, nggak dikunci,” teriak Calista tanpa beranjak dari tempatnya.     Ceklek ....     Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Haris. “Kamu lagi berkemas?” Calista mengangguk. “Mau bawa baju berapa banyak emang kamu?” tanya Haris saat melihat baju Calista yang di tempat tidur, tetapi Calista masih sibuk memilih-milih yang lain.      Calista mengendikan bahunya acuh tak acuh. “Aku nggak tahu. Aku bawa yang banyak aja, biar bisa ganti-ganti baju buat foto, hehehe,” jawab Calista yang membuat Haris menggelengkan kepalanya takjub.     “Cals, untuk masalah tadi, kamu nggakapa-apa kan? Omongan Papa jangan dimasukin ke hati, ya?” Haris menatap kawatir Calista. Dirinya tahu persis apa yang dirasakan adiknya saat ini.     Calista berbalik badan dan duduk di tepi tempat tidur sambil memasukan pakaian dan perlengkapannya ke dalam koper. Haris pun ikut duduk di tempat tidur dengan menghadap ke Calista.     “Aku bingung. Kayaknya aku salah ya, Kak, punya kemampuan ini? Kayaknya kemampuanku ini hanya akan membawa masalah untuk keluarga kita?” Calista menatap nanar Haris.     Haris mengelus puncak kepala Calista. “Nggak ada yang salah kok. Kamu nggak salah, kan bukan mau kamu juga untuk mempunyai kemampuan ini. Papa seperti itu karena kamu tahu kan Papa orangnya bagaimana? Papa orang yang selalu mengandalkan logikanya, jadi kalau menurut dia nggak masuk di akal yaa ... dia nggak akan percaya,” jawab Haris dengan lembut.     Calista mengangguk mengerti. “Tapi kenapa Papa selalu menyudutkan aku? Seolah-olah aku ini orang yang paling bersalah di dunia? Dan aku seperti seorang pembunuh yang terus dicap salah,” tanya Calista sambil merapikan barang-barangnya di dalam koper.     Haris tersenyum menenangkan. “Papa hanya perlu pembuktian. Mungkin kamu bisa membuat Papa bisa melihat makhluk halus agar Papa percaya bahwa kehadira mereka itu benar-benar ada di sekitar kita?” Haris mencoba memberi saran.      Calista menggelengkan kepalanya. Dirinya pun menolak, “itu bukan ide yang bagus. Melihat makhluk yang tak pernah kita lihat sebelumnya itu hanya akan membuat kita setres, trauma, atau bahkan gila. Aku nggak akan membiarkan itu terjadi pada Papa.”      Haris mengangguk paham. “Hmmm ... kalau gitu terserah kamu mau membuktikannya bagaimana ke Papa. Tapi, Kakak percaya suatu saat Papa akan mempercayai kamu dan kemampuan kamu,” ucap Haris.     Calista tersenyum tulus pada Haris. “Aku beruntung mempunyai kalian di hidupku,” ungkap Calista dan memeluk erat Haris.      Haris membalas pelukan Calista. “Apapun yang terjadi, Kakak akan melindungi kamu sebagaimana seorang Kakak berperan,” ucap Haris membuat Calista terenyuh mendengarnya.     “Terima kasih, Kak.” Calista tak kuasa menahan air matanya yang terharu pada kebaikan Haris.     Haris mengusap air mata Calista. “Nggak usah sedih lagi, ya. Jangan nangis, sayang air mata kamu.” Haris tersenyum dan bangkit dari tempatnya. “Kakak tinggal ya? Kamu udah nggak apa-apa kan? Kakak mau berkemas buat besok juga,” ujar Haris.     Calista tersenyum dan mengangguk. “Aku udah jauh lebih baik saat Kakak ke sini dan mendengarkan curhatan aku,” ungkap Calista.     Haris terkekeh mendengarnya. “Baiklah, Adik kecil. Selamat malam dan jangan kesiangan!”     Sepeninggal Haris, Calista bergegas menuju lemari kaca yang terdapat koleksi boneka-bonekanya. Ia mengambil boneka Olive yang memakai baju berwarna merah. “Olive, hari ini aku benar-benar merasakan hari yang berat untuk aku jalani. Mereka sekaan berkerjasama untuk membuatku tertekan. Tapi, aku juga beruntung, mempunyai orang-orang yang selalu ada untukku dan selalu mendukungku.”     Calista menutup kembali lemari kaca itu dan memeluk boneka Olive dengan erat. Dirinya seketika teringat tentang Agam, gimana ya dia? Apa masih ketakutan? Atau ternyata sosok itu membuatnya tidak tenang walaupun berada di rumah?      Calista mengambil ponselnya dan melihat notifikasi dari Agam. Teruntuk Calista Dari Agam makasih udah khawatir dan mengingatkan. Semoga kita semua dalam keadaan baik-baik aja seterusnya. Maaf udah buat lo jadi kerepotan.     Calista tersenyum membacanya. Dia pun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu yang berada di atas nakas. “Selamat malam, Olive,” ucap Calista tersenyum dan tidur memeluk boneka itu.                         ***     “Haris, apa Mama boleh masuk?” tanya Arabella yang menyembulkan kepalanya di balik pintu yang sedikit terbuka.      Haris yang sedang menutup koper pun menoleh ke arah pintu dan tersenyum melihat Mamanya. “Boleh, Ma, masuk aja.”       Arabella masuk ke dalam kamar Hari dan kembali menutup pintu. “Bagaimana keadaan Calista?” tanya Arabella dan memilih duduk di tempat tidur Haris.      Arabella sengaja bertanya kepada Haris karena kalau Arabella yang bertanya langsung kepada Calista, anak gadisnya itu pasti tidak akan terbuka dengannya karena Calista hanya akrab dengan Kakak tersayangnya itu.     Haris menghela napas berat dan ikut duduk di tempat tidur. “Dia lebih sedih dari sebelumnya. Aku pikir, kali ini Papa sudah keterlaluan. Calista tertekan, Ma. Dia tertekan dengan kemampuan yang dimilikinya, ditambah lagi Papa yang terus menerus membebaninya,” jawab Haris dengan kesal tetapi masih terlihat tenang.     Arabella mengehela napas frustrasi. “Seandainya wanita itu tidak memilih Calista, pasti Calista bisa hidup lebih tenang dan menjalani rutinitas seperti manusia pada umumnya tanpa membayangkan hal-hal menakutkan yang akan dilihatnya,” ucap Arabella.     “Aku membenci wanita itu, Ma. Dia yang membuat Calista menderita seumur hidup. Dia yang membawa malapetaka,” geram Haris dengan tangan yang terkepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih.     Arabella mengelus lengan Haris. “Jangan emosi, untuk masalah itu, Mama yang akan mengatasinya. Kamu jangan khawatir. Cukup jagain adik kamu, jangan sampai dia melakukan hal-hal yang membahayakan,” pinta Arabella.     Haris mengangguk mantap. “Pasti, Ma. Haris akan menjaga Calista tanpa Mama pinta sekali pun,” sahut Haris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN