“Di setiap perjalanan, kita menemukan sebuah kenangan yang tak terlupakan. Entah itu kenangan yang baik atau buruk yang pasti kenangan itu berbekas di ingatan kita. Melekat erat hingga rasanya enggan untuk minggat.”
***
“Calistaaaaaa … cepat, Nak. Nanti kita telat!” teriak Arabella dari ruang tamu.
Arabella, Elvan, dan Haris sudah berkumpul di ruang tamu sejak lima belas menit yang lalu. Tetapi, Calista hingga detik ini pun belum juga terlihat batang hidungnya. Arabella sangat mengkhawatirkan jalanan Jakarta yang padat dan kemacetan akan membuat mereka terlambat.
Biasa tipikal Ibu Rumah Tangga pada umumnya alias cerewet dan bawel.
“Adikmu sudah bangun ‘kan, Haris?” tanya Elvan kepada Haris yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Haris mengangguk yakin. “Udah kok, Pa,” jawabnya mantap.
Arabella khawatir mereka akan ketinggalan kereta.
“Coba kamu lihat dulu sana,” perintah Arabella kepada anak lelakinya itu.
Haris menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskan napasnya secara perlahan. “Oke. Haris akan mengecek Calista dulu di kamarnya,” pamit Haris dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Di dalam kamar, Calista menyisir rambutnya dengan terburu-buru. Dia telat bangun dan perutnya sempat terasa melilit tadi pagi, alhasil dia harus semakin lama berada di kamar mandi dan membuatnya semakin kesiangan. Bukannya tidak mendengar teriakan Arabella, hanya saja Calista tidak ingin menanggapinya karena akan memperpanjang kecerewetan Mama tersayangnya itu.
Calista berbalik badan, dirinya terkejut bukan main saat melihat Haris yang menggunakan baju hitam berdiri di belakangnya dengan tatapan yang mengerikan. Ia mengelus dadanya karena terkejut. “Kenapa sih Kak Hars selalu aja bikin kaget,” omel Calista dan bergerak mencari jepitan rambutnya di atas tempat tidur. “Ih, di mana sih jedainya,” gerutu Calista dengan menyibakkan selimut dan bantalnya.
“Ini yang kamu cari?” tanya Haris dengan telapak tangan yang terbuka dengan jedai berwarna pink berada di atasnya.
Calista menoleh menatap Haris dengan ragu. “Kok bisa ada di tangan Kakak?” tanya Calista dengan berjalan pelan menghampiri Haris. Lelaki itu hanya tersenyum yang membuat bulu kuduk Calista meremang. “Kakak duduk dulu aja deh,” kata Calista dan mengambil jedainya. Kemudian berbalik menuju meja rias lagi.
Ceklek …
Pintu kamar Calista terbuka membuat gadis itu menoleh ke arah pintu. Seketika mata Calista membelalak saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dengan menggunakan kemeja putih berlengan pendek. “Kak Hars?” lirih Calista.
Haris menatapnya bingung karena ekspresi Calista yang terlihat terkejut. “Masih lama?” tanya Haris dengan ragu. “Nanti kita bisa ketinggalan kereta, Cals. Apa ada yang perlu Kakak bantu? Biar cepat,” imbuh Haris.
Calista mengangguk sedetik kemudian menggeleng.
“Kamu kenapa sih?” tanya Haris yang sudah terlalu bingung melihat Calista. Itu sangat mengganggu pandangannya. “Semua udah kamu masukin ke dalam koper?” tanya Haris dan menarik koper Calista yang berada di sudut kamar.
Lagi lagi Calista hanya mengangguk tanpa menjawabnya.
Haris mengembuskan napasnya gusar. “Kamu kok malah melamun nggak jelas gitu? Cepetan Calista! Apalagi yang masih harus kamu siapkan?” tanya Haris yang sudah mulai geregetan dengan tingkah laku adik semata wayangnya.
Calista duduk di bangku riasnya, memegang kepalanya yang mulai terasa sakit. Haris yang mulai terbiasa dengan kemampuan Calista pun bergerak mendekatinya dan meletakkan koper mini Calista begitu saja. “LIihat apalagi kamu?” tanya Haris dengan lembut, berbeda dari sebelumnya.
“Calistaaa … Harissss …,” teriak Arabella dari ruang tamu membuat Haris dilanda dilema. “KALIAN NGAPAIN DI KAMAR? KENAPA LAMA?” tanya Arabella dengan suara yang menggelegar.
“TUNGGU SEBENTAR, MA,” sahut Haris dari kamar Calista.
“Kamu melihat apa, Cals?” suara Haris melembut saat bertanya pada Calista.Suara yang bisa buat siapa saja meleleh ketika mendengarnya.
Calista menatap Haris dan menggeleng. “Aku nggak apa-apa. Ayo, kita ke bawah, Mama sama Papa pasti udah menunggu kita,” kilah Calista. Ia berdiri dan menahan rasa sakit yang dideritanya, diambilnya koper yang diletakkan oleh Haris. “Ayo, nanti kita keburu telat ‘kan?”
Haris mengamngguk dan mengikuti Calista.
Haris memegang tangan Calista yang digunakan untuk menarik kopernya. “Biar Kakak aja yang bawa,” kata Haris. Calista hendak memprotes, tetapi Haris lebih dulu mengatakan. “nggak apa-apa. Nggak usah membantah.”
Calista pun tersenyum kecil dan mengangguk.
***
"Kenapa lama? tanya Elvan saat melihat dua anaknya tiba di ruang tamu.
Haris tersentak ketika mendengar pertanyaan dari Elvan dan tatapan intimidasi yang diberikan sang ayah. "Tadi Calista ...." Haris ragu sekaligus bingung saat ingin melanjutkan kata-katanya.
Berbohong atau jujur? Kalau pun jujur pasti akan ada perkataan tajam lagi yang Papa keluarkan, beliau nggak akan percaya.
"Aku lama karena mencari jedai. Aku lupa meletakannya di mana," tukas Calista melanjutkan kata-kata Haris karena dia tahu Haris pasti dilema harus berbuat apa.
"Lalu bagaimana? Apa udah pesan taxi onlinenya?" tanya Arabella memotong arah pembicaraan sang suami sebab dia paham apa yang terjadi.
Padahal, Calista tidak sepenuhnya berbohong.
Haris mengangguk dan menunjukkan layar ponselnya. "Udah, Ma. Tenang aja. Driver-nya akan sampai sekita sepuluh menit lagi," jawab Haris menghilangkan kegundahan Mamanya.
Arabella bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu. Yaudah, kita tunggu di luar aja, ya, biar kalau driver tiba kita langsung jalan," ucap Arabella.
"Bawa barang kalian," ujar Elvan kepada Haris dan Calista.
***
Calista dan keluarganya tiba di Stasiun Gambir, tiga puluh menit sebelum jam keberangkatan kereta. Mereka langsung bersiap-siap menuju tempat boarding. Koper Arabella dibawa oleh sang suami, sedangkan Calista dibawa oleh Haris karena kakaknya itu hanya membawa satu ransel tanpa membawa tas lain membuat Calista takjub dengan kepraktisan lelaki saat melakukan perjalanan panjang.
Calista menyukai perjalanan yang jauh saat dengan Haris, karena kakak tersayangnya memanjakan dirinya. Jadi, dia tidak perlu ribet harus ini dan itu. Ya … contohnya aja sekarang dia hanya membawa tas kecil yang disampirkan di bahu kirinya. Tas yang berisikan dompet, hape, dan barang pentingnya.
“Aku duduk dekat jendela ya, Kak?” pinta Calista penuh harap.
Calista suka duduk di dekat jendela karena ia bisa melihat pemandangan yang bagus sepanjang perjalanannya dan itu tidak membuatnya bosan. Dirinya mempunyai kenangan yang indah saat perjalanan jauh dan kala itu ia duduk di dekat jendela.
“Kamu yakin?” Haris memastikan permintaan adik tersayangnya itu.
Calista mengangguk mantap.
“Nggak takut kejadian yang lalu terulang atau teringat?” Haris kembali memastikan dengan harap-harap cemas.
Dan juga kenangan buruk.