Bab 6: Kenangan Terburuk

1169 Kata
Terkadang, ada sebuah rahasia yang harus disimpan rapat-rapat untuk memperbaiki keadaan atau memang keadaan yang tidak mendukungmu untuk mengetahuinya.     ***     Seorang anak perempuan berumur 5 tahun kala itu mengikuti keluarganya untuk berlibur di Jawa Timur. Perjalanan yang menggunakan kereta api itu memakan waktu lebih lama, alasan mereka lebih memilih menggunakan transportasi tersebut cukup sederhana yaitu agar lebih menikmati perjalanan mereka saat liburan.  Anak kecil yang tidak tahu-menahu hanya menuruti saja apa yang dikatakan kedua orang tuanya dan kakak tersayangnya.      “Kamu duduk sama Mama, ya,” ucap wanita berambut hitam panjang sebahu itu. “Biar Kakak sama Papa,” imbuhnya pada anak perempuan yang berdiri di sampingnya dengan memeluk erat boneka kesayangannya.     Anak perempuannya memasang wajah cemberut, menatap wanita yang berdiri menjulang dengan tatapan tidak suka. “Aku nggak mau! Aku maunya sama Kakak,” protesnya dengan kesal.     Wanita yang mendengar protesan dari anak perempuannya menghela napas. “Kalian kan masih kecil, Mama sama Papa nggak bisa membiarkan kalian berdua.” Wanita itu mendudukkan anaknya di kursi dekat dengan jendela.      “Tapi kan Mama sama Papa tetap bisa memantau kami dari sana.” Anak kecil itu menunjuk dua kursi yang tidak jauh dan masih terjangkau. “Kursinya kan bersebelahan bukannya lebih mudah buat kalian memantau kami?” Anak perempuan itu tetap masih kekeh mempertahankan keinginannya.     Ia menggelengkan kepala melihat betapa keras kepala anaknya. Sang ibu membelai rambut anaknya. “Sayang ….”      “Nggak apa-apa, biar aku yang di sini.” Suara anak lelaki mengejutkannya.     Wanita itu menoleh dan mengusap dadanya. “Astaga! Kenapa kamu di sini? Duduk lagi aja, adik kamu biar Mama yang urus,” katanya dan melirik sekilas ke arah anak perempuannya yang sudah membuang muka ke jendela.     “Ma …,” panggilnya dengan suara pelan.     Akhirnya, wanita itu mengalah ia berdiri dan bergegas menuju kursi yang di mana seharusnya anak lelaki itu tempati, sedangkan anak laki-lakinya duduk di kursi tepat sebelahan dengan adiknya. Ia menghela napas dan mengelus rambut adiknya. “Calista …,” panggilnya dengan lembut.     Calista kecil menoleh dan tersenyum senang saat mengetahui mamanya mengalah dan membiarkan kakaknya duduk bersamanya.  “Kakkk Harissss …,” pekiknya dan menghambur di pelukan Haris. “Aku kan maunya sama kakak biar ada teman buat bercanda,” rengek Calista dengan manja. Biasa khas anak kecil.      Haris melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu Calista. “Adik kakak yang cantik, dengar baik-baik ya,” ucap Haris membuat Calista menatapnya dengan penasaran dan muka polosnya. “Kamu nggak boleh seperti tadi, kamu harus turuti apa kata orang tua karena orang tua juga khawatir dengan keselamatan anaknya. Mama sayang sama kamu, makanya mama khawatir sama kamu,” imbuh Haris.     “Berarti itu tandanya mama nggak percaya dong sama Kak Hars untuk menjaga aku?” Tanya dengan polos.     Haris tersenyum. “Bukannya nggak percaya, tapi belum saatnya. Apalagi, ini di transportasi umum, banyak orang asing di sini yang tingkat bahayanya nggak bisa diprediksi,” ucap Haris dengan lembut mencoba untuk memberi pengertian kepada Calista.     Calista menelengkan kepalanya. “Apa itu perekdisi?” Tanya Calista dengan bingung.     Haris tertawa mendengarnya. “Hahaha … prediksi, Sayang, bukan perekdisi,” ralat Haris.     Calista cemberut dan memalingkan wajahnya ke jendela. “Aku nggak ngerti sama bahasanya orang dewasa,” katanya dengan kesal.     Haris terkekeh mendengarnya. “Yaudah, kamu tidur aja.” Haris membelai rambut adiknya. “Jangan lihat ke jendela terus karena ini sudah malam dan kalo udah lewatin sawah gitu akan gelap gulita, serem,” kata Haris memperingati.     Calista menoleh sekilas ke arah Haris dengan wajahnya yang masih cemberut. “Aku nggak takut,” sahutnya dengan ketus.     Haris tertawa. “Haahaha … yaudah kalo nggak percaya,” ucap Haris.     Suasana kala itu mulai hening karena sudah malam dan sebagian penumpang tertidur atau bermain ponsel, termasuk Haris yang sibuk dengan permainan di ponsel. Calista masih sibuk memandangi jendela karena ia masih dalam tahap mengambek. Di luar jendela sudah gelap, tidak ada lagi pemandangan indah yang sebelumnya bisa dinikmati. Dahi Calista mengernyit saat melihat dari jauh seperti ada siluet makhluk yang dibungkus mirip permen yang suka dimakannya. Siluet itu semakin dekat, semakin dekat, dan menempel pada kaca jendela. Wajah yang gosong dan hancur dengan mata yang bolong.     “MAMAAAAA …,” Calista menjerit ketakutan dan memeluk erat Haris sambil terus menangis beberapa penumpang terbangun dan terkejut. Begitu pun dengan Haris, Arabella dan Elvan seketika panik dan menghampiri anak-anaknya.                 ***     Calista tersenyum pada Haris dan langsung duduk di dekat jendela. “Aku nggak takut. Lagi pula, ketakutan itu harus dilawan bukan untuk dihindari,” ucap Calista berusaha bijak dan menguatkan diri.     Haris tertawa dan ikut duduk di samping Calista. “Hahaha … sok-sokan ya kamu sekarang. Dulu aja, nggak mau duduk dekat jendela. Nggak mau ambil perjalanan malam juga,” ledek Haris.     Calista ikut tertawa juga mendengarnya. “Hahahah … puas banget ya Kak Hars meledek aku mulu,” ucap Calista dengan pura-pura kesal. Raut wajah Calista berubah serius dan menatap Haris. “Kak, tau nggak?” Tanya Calista dengan serius.     Haris menatapnya tanpa menjawab.     “Sebelum Kak Haris ke kamar aku, ada sesosok yang masuk ke dalam kamarku,” kata Calista menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. “Dia menyamar menjadi Kakak,” ucapnya pelan dan terdengar ragu.     Haris mengernyitkan dahinya. “Sosok yang menyerupai Kakak?” Tanya Haris dengan tidak percaya.     Calista mengangguk. “Iya, makanya aku kaget pas Kakak datang,” jawab Calista. “Hm, Kak kira-kira kalo aku tanya sesuatu apa Kakak akan kasih aku jawaban?” Tanya Calista dengan ragu.     Haris terheran-heran dengan Calista, ia merasakan firasat buruk saat ini. “Tergantung,” jawab Haris. “Mau Tanya tentang apa emang?” Tanya Haris menatap Calista sekilas.      “Masa laluku,” jawab Calista.     Haris tidak mengerti dengan arah obrolan Calista. Ia terdiam menunggu adiknya itu kembali membuka suara.     “Siapa orang yang sudah membuatku menjadi sekarang? Menjadi Calista yang mempunyai kemampuan, tetapi musibah untuk dirinya,” Tanya Calista yang sudah lelah menerka-nerka.     Haris terdiam cukup lama. Memikirkan apa yang harus dia katakana pada Calista.     “Haris, kamu ingat di mana Mama menyimpan power bank?” suara Arabella dari belakang kursi menyadarkan Haris. Haris dan Calista saling menatap.     Haris memiringkan badannya dan menoleh ke arah Arabella yang duduk tepat di belakangnya. “Aku nggak tahu, Ma,” jawab Haris.      Namun, Arabella memajukan kepalanya dan menggeleng. “Belum saatnya,” bisik Arabella pada Haris.     Haris yang paham maksud dari Mamanya, akhirnya mengangguk. Dia mengerti, pertanyaan tentang powerbank hanya akal-akalan Arabella untuk memberitahu dan mencegahnya. Sekarang yang dipikirkannya bagaimana cara dia mengelak untuk menjawab.     Calista menepuk pundak Haris membuat kakanya itu tersentak. “Kenapa, Cals?”     Calista menghela napas. “Aku tanya malah nggak dijawab.”     Haris bangkit dari duduknya membuat kepala Calista mendongak ke atas. “Mau ke mana? Pasti mau menghindar deh,” tanyanya yang mulai kesal dengan Haris.      “Mau ke toilet, Neng,” jawab Haris dengan tekekeh kecil di akhir.     Sepeninggal Haris, Calista pun memeluk boneka Olivenya dan memejamkan mata.     Apa ada yang  salah dari pertanyaanku? Bukannya aku juga berhak tahu mengenai hal yang menyangkut tentang diriku sendiri?                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN