Bab 7: Ketakutan Itu Ada, Tapi Kusembunyikan

1255 Kata
    Banyak yang bilang manusia lebih kuat daripada mereka yang tak bernyawa. Itu memang benar adanya. Tapi, siapa yang bisa mencegah ketakutan yang datang dengan sendirinya? Seberaninya seseorang pasti ada rasa ketakutannya, minimal 1% yang dirasakan.             ***     Keluarga Calista sudah tiba di Jogja, mereka dijemput di stasiun oleh pihak hotel yang dipesan Haris. Calista dan Haris menempati kamar yang sama dengan dua tempat tidur single bed, Elvan dan Arabella menempati kamar yang berada tepat di samping kamar anaknya. Bahkan, antara kamar Calista dengan kamar orang tuanya terdapat pintu penghubung yang memudahkan mereka untuk berinteraksi.     “Ih, bagussss!” pekik Calista senang saat berada di kamar hotel. Ia menatap sekelilingnya dengan takjub. Seisi kamarnya benar-benar terlihat mewah. Calista berjalan menuju jendela dan semakin kagum karena bisa melihat pemandangan jalanan di Jogja.     “Kamu nggak usah jadi orang norak gitu, Cals,” ledek Haris sembari meletakkan tasnya di dalam lemari yang tersedia. “Kamu mau memasukkan pakaian yang di dalam koper ke lemari atau nggak?” Tanya Haris yang meletakkan koper Calista di sisi lemari.     Calista menatapnya sebal. “Kan aku udah lama nggak liburan semenjak kejadian di kereta itu. Makanya, sekarang aku terlalu senang,” kata Calista dan menghampiri Haris. “Biar aku aja yang merapikan,” imbuhnya dan duduk di depan lemari.     Haris bergeser memberi kesempatan untuk Calista merapikan pakaiannya. “Yaudah, Kakak mau ke kamar Mama dulu, ya.” Haris pun pergi meninggalkan Calista seorang diri melalui pintu penghubung.     Calista mengembuskan napas dan menghentikan kegiatannya sejenak. Rasanya benar-benar lelah tapi senang karena pada akhirnya aku bisa kembali menikmati liburan yang tak pernah kurasakan setelah kejadian mengerikan itu.     Calista merasakan ada kepala seseorang yang mengintip dari kamar mandi yang terbuka. Ia menoleh dan tidak menemukan siapa pun. Bahkan, pintu penghubung pun tertutup. Apa hanya halusinasi aja?     Bukan Calista namanya kalau tidak penasaran atau kepo, dia pun bergerak mendekati pintu kamar mandi yang terbuka. Menyelisik apakah benar di dalam kamar mandi ada orang atau tidak. Sialnya, di dalam kamar mandi itu terdapat ruang transparan berbentuk tabung dengan shower di dalamnya.     “Siapa di sana?” Tanya Calista dari ambang pintu kamar mandi saat melihat siluet manusia di dalam ruang berbentuk tabung yang berembun seperti seseorang telah selesai mandi.     Tidak ada jawaban dari dalam sana, tetapi shower terus menyala.     Calista melirik ke kaca besar yang berada di wastafel, ia tidak melihat apa pun dari kaca. Bahkan, siluet yang sebelumnya dia lihat pun tidak ada, ruangan tabung itu juga tidak berembun. Calista kembali melirik langsung ruangan tabung itu dan ia kemali melihat siluet itu. Benar-benar membuatnya merinding dan jantungnya berdegup kencang.     “Mau mandi, Cals?” Suara Haris membuat  Calista tersentak.     Calista menggeleng, ia menutup pintu kamar mandi dan bergerak menuju tempat tidurnya. Dia pun langsung merebahkan tubuhnya dengan kepala yang ditindih oleh bantal. Dirinya pusing, tetapi dia harus menyembunyikan kesakitannya agar Haris tidak khawatir.     Sialan, baru datang dapat sambutan, Calista merutuk dalam hati.     “Oh, kirain mau mandi,” ujar Haris santai dan tidak mengetahui Calista mati-matian menyembunyikan rasa sakit dibalik bantal. “Kalo mau mandi jangan malam-malam. Nggak baik untuk tubuh,” cerocos Haris.     Calista hanya diam tidak menjawab. Haris memilih untuk bermain game di ponselnya dan menyalakan televisi, sekadar agar tidak hening di dalam kamar. Apalagi, Calista memilih tidur daripada mengobrol dengannya, mungkin?     Calista mencoba mengatur napasnya dan memejamkan matanya. “Nggak boleh lemah, ini lagi liburan dan jangan mengacaukannya,” batin Calista memperingati. Dirinya harus bisa dan tidak boleh lemah hanya karena rasa sakit.     Calista mengubah posisinya menjadi duduk dan bersadar. Dia harus baik-baik saja. "Kak!" Calista memanggil Haris yag masih asik berkutat dengan ponselnya.     "Apa, Cals?" sahut Haris menatapnya sekilas dan kembali fokus pada permainannya. “Bukannya tadi kamu tidur? Kok malah bangun?” Tanya Haris bingung.     Calista terdiam sejenak dan mencoba mencerna perkataan Haris. Oh, jadi Kak Haris berpikir aku tidur? Syukurlah, dia nggak curiga.     Calista pun pura-pura cemberut. “Aku nggak bisa tidur.” Mengembuskan napas secara perlahan. “Padaha, aku capek banget karena udah lama nggak pernah perjalanan jauh,” imbuhnya dengan sedih yang dibuat-buat, tetapi Haris tidak menyadari.     “Yah, kalah!” seru Haris dengan kesal saat mendengar suara defeat dari ponselnya, bertanda bahwa timnya kalah. Akhirnya, Haris meletakkan ponsel di atas nakas dan menatap Calista. “Kenapa nggak bisa tidur?” Tanya Haris.     Calista mengedikkan bahunya acuh tak acuh. “Kak Hars, pernah ketakutan karena hantu nggak?” Calista benar-benar penasaran karena tidak pernah melihat ekspresi ketakutan Haris.     Haris menggeleng. “Kita ‘kan lebih kuat dari mereka yang tidak bernyawa,” jawab Haris dengan tenang dan tanpa ragu. Benar-benar gentleman.     Calista mengangguk mengerti. “Kata Papa, kampus Kakak 'kan agak seram. Kakak pernah mengalami sesuatu nggak yang menurut Kak Hars nggak masuk akal atau di luar logika kakak gitu?” Calista mengubah posisinya menjadi duduk saling berhadapan dengan Haris.     "Kakak nggak pernah mengalamiya, tapi teman-teman Kakak sering. Kejadian yang paling sering itu di elevator katanya," jawab Haris sambil menatap lurus ke depan seperti sedang menerawang.     "Ada yang pernah meninggal di sana. Kakak jangan pernah naik elevator sendirian, kalau nggak mau digangguin sama makhluk itu," ujar Calista tanpa sadar, spontan Haris menatapnya.     "Maksud kamu, Cals?" Haris mencoba meyakinkan dirinya kalau apa yang didengarnya tidak salah. Namun sayang, malah membuat Calista panik untuk menjawabnya.     "Ha? Engga Kak, bukan apa-apa. Oh ya, Kakak 'kan sering praktik dengan organ-organ tubuh orang meninggal, pernah merasakan ada yang ngga beres gitu, nggak Kak?" Calista pun mengalihkan pembicaraan tentang kampus Kakaknya.     "Sampe sekarang sih nggak ada dan jangan sampe ada," jawab Haris.     Ya, Haris memang masuk ke salah satu Universitas terkenal di Jakarta, ia mengambil fakultas kedokteran seperti papa-nya dulu. Sedangkan Calista, tidak berminat sama sekali mengikuti jejak Elvan maupun Haris.     "Aku aneh kadang kalau lihat Kak Haris, seperti bukan Kakak. Tapi kayak ada orang lain yang ada di dalam tubuhmu, Kak. Paham nggak maksud aku?" kata Calista datar yang berhasil membuat Haris terkejut.     "Ja-jangan ngomong yang macem-macem deh kamu, Cals!" wajah Haris mulai memucat, ia menatap Calista dengan ekspresi yang tak pernah Calista lihat sebelumnya. Cukup menarik bagi Calista.     “Kak Hars takut?” Tanya Calista dengan menelengkan kepalanya.     Haris memalingkan wajahnya dari Calista. Bukan takut, hanya merasakan apaaa yaa … ya kalian taulah rasanya gimana ‘kan?     Ceklek ….     Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, sontak membuat Calista dan Haris menengok dan terdiam mematung. Jantung Haris berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia belum pernah merasakan hal-hal seperti ini.     "Cals i-itu siapa yang buka pintu kamar mandi?" tanya Haris menatap Calista lekat-lekat.     “Entah, Kak. Aku nggak bisa melihatnya," jawab Calista dengan suara yang pelan seperti bisikan, ia mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.     "Jangan ganggu dong, ya? Kita nggak akan ganggu kok," ucap Calista tenang walaupun dia sendiri mulai merasa ketakutan saat mengingat kejadian yang tadi dia alami.     Haris yang melihat adiknya seperti itu langsung berkeringat dingin dan berdiam mematung. Ia selalu ketakutan kalau melihat adiknya berbicara sendiri atau melihat sesuatu yang tidak dilihatnya tapi dia berhasil menutupinya di depan Calista. Tapi tidak untuk hari ini.     "Dek jangan …."     Braak!     Pintu kamar mandi tertutup dengan kencang membuat mereka berdua tersentak kaget. Calista berdiam tak berkutik, ia sudah mulai sangat takut. Tubuh Calista menegang saat dia melihat makhluk berbadan besar hitam dan berbulu.     "Di-dia mur-murka ...." kedua matanya Calista masih tertuju ke arah pintu kamar mandi.     Makhluk itu menatap Calista dengan matanya yang merah, membuat Calista seakan sulit untuk bernapas dan Haris mencengkram kuat bantal yang ada di pangkuannya.     “Cals,” lirih Haris. Dia benar-benar lemas sekarang.     “Di-dia murka.” Calista menatap Haris dengan wajahnya yang masih terkejut     Dia benar-benar murka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN