Sepertinya aku berada di dunia mimpi lagi. Aku ingat tempat ini. Kebun bunga kembang kertas beraneka warna, bangunan rumah kuno yang mewah pada zamannya dan bangunan lain tempat para prajurit belanda memenggal kepala Syarif. Dengan penuh hati-hati aku melangkah memasuki rumah yang dibiarkan terbuka pintunya. Ada suara beberapa orang sedang mengobrol dari salah satu sisi rumah ini. Aku berjalan ke asal suara itu. Ruangan itu bentuknya seperti ruang makan yang menyatu dengan dapurnya. Ada dua meja besar diletakkan di sisi panjang dari dapur, salah satunya digunakan sebagai meja makan. Ada beragam makanan dan minuman di atas meja yang aku sama sekali tidak tahu jenisnya. Tampak seorang pria belanda berusia paruh baya sedang memotong roti dengan pisau yang sangat tajam hingga hanya ada sedik

