Sudah dua hari ini aku dipindah ke kamar rawat inap. Aku bersyukur karena akhirnya bisa meninggalkan ruang ICU yang dingin dan mengerikan itu. Meski terang dan dipantau oleh beberapa petugas medis tapi tetap saja tidak nyaman. “Makan ya, Mon? Mam suapin,” tawar Mama. Aku menggeleng. Aku pengin tidur dalam kurun waktu yang sangat lama agar bisa bertemu lagi dengan Syarif. Terbesit rasa yang sulit aku ungkapkan lewat kata-kata. Ada perasaan menggebu untuk bertemu laki-laki itu lagi, lagi dan lagi. Padahal jelas-jelas dalam mimpiku dia sedang bermesraan dengan perempuan belanda itu. Wajahnya seperti tidak asing di benakku. Rasanya aku sudah sering bertemu dengan wajah itu tapi entah di mana, aku sama sekali tidak bisa mengingat apa pun soal laki-laki bernama Syarif itu. Lalu Akhza laki-la

