Tubuhku terasa lemas mendengar kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh Akhza. Aku tak kuasa menopang berat tubuhku sendiri. Perlahan Akhza membantuku merebahkan tubuh di atas ranjang. Akhza menarik selimut untuk kami berdua dan memelukku dari belakang. Kemudian aku terlelap begitu saja dalam pelukan Akhza. Entah di pukul berapa tiba-tiba aku terbangun karena tangan kiriku tiba-tiba terasa sakit. Sambil meringis menahan sakit aku membuka secara perlahan. Saat membuka mata tatapanku langsung tertuju pada sorot mata tajam Janice yang sedang tidur dengan posisi menyamping di hadapanku. Jantungku hampir berhenti berdetak saking terkejutnya melihat kehadiran Janice. Aku sempat menahan napas selama beberapa detik. Upayaku agar tidak menjerit histeris dan membangunkan semua orang di rumah ini

