Mengharapkan Ketenangan

323 Kata
Pagi ini lytha jalani seperti biasa sarapan pagi dengan keluarganya. Lynna dan Lytha menaiki bus bersama, lytha turun terlebih dahulu sedangkan lynna tetap di dalam bus melanjutkan perjalanannya. Suasana bus yang memang selalu penuh di jam-jam sibuk dimana orang-orang memulai aktifitas mereka entah itu menuju kantor dan sekolah. Lytha merasakan bisa bernafas lega saat menuruni bus, dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan selama 10 menit dari halte bus untuk sampai ke sekolahnya. "pagi ta" sapaan merry teman sebangku lytha.  "pagi mer, ini aku mimpi ga sih liat kamu jam segini sudah dikelas"  Walaupun lytha tidak mempunyai sahabat dikelas paling tidak merry teman yang masih mau menyapanya walau tidak seakrab teman pada umumnya. Lytha tidak pernah bergaul akrab dengan teman-teman sekelasnya bukan karena dia sombong, tapi karena memang tidak ada yang mau akrab dengannya mungkin karena lytha yang hidup serba kekurangan dan hanya dia dikelasnya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Tapi lytha juga menyadari bahwa diapun tidak dapat mengimbangi gaya hidup teman-temannya, yang terpenting lytha tetap bersikap ramah walau kadang teman-temannya sering mengerjainya. "awwww" lytha mengelus-elus pipinya yang baru saja dicubit ringan oleh merry "sakit kan, berarti lo ga mimpi" merry tertawa kemudian melanjutkan perkataannya "hari ini akan ada murid baru loh, katanya ganteng tingkat artis hollywood. makanya gw dateng pagian, ga mau ketinggalan issue terbaru dong" "oh" lytha hanya menganggukkan kepalanya "ih lo ga ada excitednya sih, sebel deh" merry mengerucutkan bibirnya sebal  Rasa excited lytha akan adanya teman baru yang akan mewarnai harinya sudah ia kubur 2 tahun lalu saat ia masuk sekolah ini karena beasiswa yang didapatkannya. Menyadari bahwa perbedaan kasta dirinya dengan teman-temannya membuat dia sulit dekat dengan mereka. Dia tidak berani untuk berharap akan cerita masa-masa SMA nya yang penuh cerita tentang cinta pertama maupun kekonyolan anak-anak seusianya di masa sekolah mereka. Lytha hanya berharap siapapun murid baru itu tidak akan menjadi penambah dukanya. Lytha hanya butuh ketenangan sampai nanti dia akan keluar dari sekolah yang dirasa bagai neraka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN