Sudah seminggu sejak Miguel ke rumahnya saat itu, sampai saat ini lelaki itu tak menunjukan batang hidungnya sedikipun pada Carel. Dan seminggu ini pula Carel menyibukan dirinya dengan beberapa cerita barunya.
Rupanya tinggal di Berlin sedikit memberikan refreshing, Carel mendapatkan beberapa inspirasi untuk tokoh dalam ceritanya nanti. Melihat Miguel seperti kemarin rasanya Carel seperti bermimpi, takut-takut kalau nanti cerita dia dengan Miguel bak seperti di novel-novel yang di tulis olehnya.
Apalagi Miguel orang berpengaruh. Otak Carel sekarang berkelana, membayangkan hal-hal di luar nalar yang hanya otaknya saja yang mengerti. Bagaimana jika kakaknya, Clavetta disembunyikan oleh Miguel? Seperti di novel-novel lain.
Buru-buru Carel menggeleng, mengusir pikiran anehnya itu. Itu tidak mungkin, berdasarkan omongan Segi yang telah mencari tahu tentang Miguel, lelaki itu bukan orang Berlin asli.
Miguel asli orang Milan, Italia, karena pusat perusahaan lelaki itu ada di sana. Dan juga berdasarkna omongan Segi lagi, Miguel datang ke Berlin untuk meresmikan perusahaan cabangnya yang baru saja berdiri di kota ini. Adapun kedatangan Miguel dan Carel ke Berlin itu berbarengan, datang pada hari yang sama.
Meskipun Carel di sini mnedapatkan sedikit refreshing, tapi wanita itu tetap tidak melupakan tujuan awalnya datang ke sini. Mencari Clavetta, kakaknya. Selepas sembuh dari sakit kemarin, Carel hanya berdiam diri di apartment, wanita itu tidak keluar karena tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
Untuk pencarian kakaknya, Carel mengandalkan anak buahnya, mereka cukup handal untuk situasi seperti ini. Jangan lupakan Segi, manager Carel itu sejak seminggu yang lalu berubah profesi menjadi babu Carel.
“Sekarang aku curiga kau kerasukan hantu apartment ini,” celetuk sebuah suara dari belakang Carel.
Carel menoleh ke belakang sekilas, itu Segi. Wanita itu baru saja kembali setelah dua jalan lamanya pergi ke supermarket untuk membeli makanan pokok sesuai kebutuhan mereka di sini. Wanita itu melemparkan tas kecilnya dengan sembarang pada sofa empuk itu. Lantas dirinya langsung pergi ke arah dapur untuk menyimpan barang belanjaannya.
Carel tersenyum kecil melihat Segi, dirinya tadi memang sedang duduk menghadap jendela dengan laptop di pangkuannya. Carel kembali memfokuskan mata dan pikirannya pada laptop itu, lantas jarinya dengan lincah begerak memencet-mencet keyboard, menulis outline untuk cerita barunya nanti.
•••
“Ada perkembangan apa hari ini?” Miguel mendongkak sekilas pada pintu ruang kerjanya yang terbuka, menampakan Melvin di sana dengan berkas di tangannya, selepas mengatakan itu Miguel kembali memfokuskan diri pada kertas-kertas yang perlu di periksanya.
Tanpa kata Melvin masuk dan duduk di hadapan Miguel setelah menarik kursi di dekat sofa, berkas yang ada di tangannya dia letakan pada meja kebesaran Miguel, menambah beban kertas yang sudah tercecer di atas meja itu.
“Kau sudah tahu kalau lima hari ini Neil Tom masuk kerja seperti biasanya. Sehari berikutnya Neil izin tidak berangkat bekerja di karenakan sakit, penyelidik kita sudah mengamati rumah Neil saat Pak tua itu di kabarkan sakit. Berdasarkan hasilnya, seharian itu Neil Tom tidak keluar rumah, hanya ada beberapa pelayan di rumahnya yang keluar. Tim kita juga ada yang mengikuti pergerakan orang yang keluar dari rumah Neil, takut-takut itu adalah orang utusan Neil. Kalau Neil melakukan itu, berarti Neil sudah menyadari kalau rumahnya diawasi. Tapi hasil mengikuti beberapa yang keluar cukup mengecewakan, mereka keluar rumah seperti biasa, untuk membeli kebutuhan yang kosong.”
Jeda sejenak, Melvin menarik nafas lagi. Opini-opini dalam kepalanya seperti berebutan minta di keluarkan. “Dan hari ini, sepertinya ini hari yang cukup sial.” Melvin mengdengkus tidak suka di akhir kalimatnya sebelum kembali melanjutkan, “Hari ini Neil Tom juga tidak ada keluar rumah. Tim curiga, dari pengawasan jarak jauh menggunakan teleskop yang mampu membesarkan dua ribu kali, Neil tidak menunjukan batang hidungnya. Setidaknya untuk membuka atau mengintip pada jendela, tapi nihil, jendela kamar Neil tertutup rapat. Kamera pengawas kita yang sudah terpasang di dalam kamar Niel mati mendadak beberapa jam yang lalu.
Berbeda dengan kamera pengawas yang di simpan di luar kamar, mereka tetap berfungsi dengan baik. Tapi satu kamera yang menyorot pintu kamar Neil membuktikan kalau Neil belum keluar kamar sejak kamera di dalam kamar itu mati.” Jeda sejenak, Melvin membuang napas pelan.
“Kau curiga dia memakai alat penghambat gelombang?” celetuk Miguel setelah telinganya menyimak, perkataan Melvin masuk ke otaknya, otaknya secara reflek bekerja untuk menyatu-nyatukan perkataan yang masuk dengan kapasitas otak Miguel.
Melvin menggeleng, “Tidak, aku tidak curiga tentang itu. Tim kita langsung melakukan pengecekan ulang terhadap alat itu, untuk melihat ada yang kurang atau hilang. Tapi tidak ada, semuanya lengkap. Kelompok kita di dunia bawah juga tidak ada yang memproduksinya lagi sejak terakhir kau memintanya. Kalaupun mereka mencoba untuk memproduksinya, itu hanya kemungkinan kecil, karena bahan-bahan yang dibutuhkan juga sangat langka.”
Mendengar itu Miguel menyeringai. “Bisa saja Neil memang menggunakannya, dia membayar orang pintar untuk membuat alat penghambat gelombang itu. Bahan-bahan yang di dapatkan langka, tapi kalau orang yang berpengaruh mencari benda itu, pasti dia akan langsung mendapatnya. Neil bukan orang berpengaruh, lagipula dari awal aku sudah curiga ada dukungan besar di belakang lelaki itu. Kalau Neil bergerak sendiri saat tahu resiko besar yang menanti, dia pasti lebih memilih mundur daripada mati.” Simpul Miguel dengan seirngainnya yang benar-benar terlihat k**i.
Miguel menatap Melvin dengan ekspresinya yang menurut Melvin terlihat sangat menjengkelkan. Ingatkan Melvin untuk memukulnya nanti, sekarang waktunya snagat tidak pas untuk sekedar bercanda. “Lalu kesimpulan apa yang kau dapat?” tanya Miguel pelan.
Tangan Miguel seolah dengan sengaja membalikan halaman berkas itu dengan pelan. Melvin sakit mata dibuatnya. Jangan lupakan kalau Melvin itu psychopath yang perfectionis, melihat sesuatu yang lambat-lambat benar-benar menyiksa batinnya. Dan sekarang bosnya itu seolah dengan sengaja melakukan itu untuk memanasinya.
Melvin menghela nafas pelan, sabar-sabar. “Yang aku simpulkan Neil Tom tidak memiliki alat itu. Lelaki itu seolah sudah mengetahui kalau rumahnya sedang diawasi. Dan untuk kenapa Neil tidak kunjung kelaur rumah, aku curiga di dalam kamarnya terdapat pintu rahasia yang dapat menghubungkannya dengan dunia luar,” jelas Melvin.
Miguel menganguk-nganggukan kepalanya ringan, “Bisa jadi,” katanya cuh tak acuh, lelaki itu mendongkak, menatap Melvin dengan tatapan serius. “kalau ya memang seperti itu, suruh anak buahmu untuk melakukan penyisiran pada tetangga-tetangga terdekat. Bisa jadi pintu itu menghubungkan kamar Neil dengan suatu tempat.”
Jeda sejenak, “atau---,”
Sial, Melvin berdecak. Bosnya menggantungkan ucapannya, dan itu membuatnya kesal. “Atau apa?” tanya Melvin dengan nada suara satu oktaf lebih tinggi. Ah, rupanya Melvin mulai kesal. Miguel menyeringai, seringaian yang terlihat menyebalkan di mata Melvin.
“Kalau pintu yang menghubungkan itu tak kunjung di temukan, kita cari cara yang lain. Geledah rumah itu secraa terang-terangan misalnya?” di akhir kalimatnya Miguel menyunggikan bibirnya.
•••
Miguel melirik pada jam kecil yang ada di atas mejanya, sudah tengah malam dan dirinya baru menyelesaikan pekerjaannya. Huh, seperti inilah kegiatan Miguel seminggu ini, dia bahkan tak sempat untuk menemui Carel. Sisa waktunya menjelang dini hari ini akan Miguel lanjutkan dengan tidur, setidaknya untuk mengistirahatkan mata dan lengannya. Badannya pun pegal, b****g apalagi, panas karena duduk terus-menerus.
Lelaki itu menghela nafas, kursi kebesarannya yang menghadap meja dia putar ke belakang. Sekarang Miguel melihat pemandnagan malam kota Berlin yang terlihat begitu indah.
Ruangan Miguel memang berada pada lantai kedua dari atas, dan ada dinding jendela yang full kaca, memperlihatkan pemandangan kota Berlin. Kalau siang hari, jendela akan di tutupi oleh tirai karena cuaca panas. Dan ketika malam hari akan dibiarkan terbuka, memperlihatkan gemerlap dan warna-warni lampu yang menyala terang.
Pikiran Miguel berkelana, “Bagaimana kabar Carel sekarang?” gumamnya pelan. s**l, seminggu ini Miguel benar-benar tersiksa karena tak dapat melihat Carel secara langsung. Waktunya banyak di sita oleh pekerjaannya.
Tapi meskipun begitu, Miguel tetap menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Carel dari jarak jauh, setidaknya memastikan Carel aman dan Carel masih dalam jangkauannya.