Ep. 12 : Dalang Tersembunyi

1612 Kata
Miguel melepaskan ciumannya, cowok itu tersenyum senang karena telah berhasil mencium Carel. Ya, walaupun dengan sedikit paksaan. Rasanya dia merindukan bibir manis itu. “Pergi saja kau dari sini!” titah Carel kesal. Dengan tubuhnya yang masih lemas, Carel berusaha mendorong Miguel supaya turun dari kasurnya. Lebih bagus lagi kalau lelaki itu terjatuh dari ranjangnya, yang itu bonus. Tapi apa daya, dorongan kecil Carel bahkan tak dapat menggeser posisi Miguel satu cm-pun. “Kenapa kau berat sekali,” gerutu Carel kesal. Tak menyerah, wanita itu masih berusaha mengusir Miguel dari tempatnya sekarang. Miguel terkekeh kecil mendengar gerutuan Carel, “Aku yang berat atau kau yang tidak punya tenaga?” sindirnya. Carel mendelikkan matanya sinis, “Kau sudah tahu kalau aku sakit. Aku tak punya tenaga! Untuk apa kau masih bertanya?” ujarnya garang. Carel menghela nafas, wanita itu tidak berusaha mengusir Miguel lagi. “Siapa yang bertanya? Aku sedang menyindirmu,” ujarnya santai, tak sabar ingin melihat ekspresi kesal Carel yang dilihat dari matanya terlihat sangat menggemaskan. Selimutnya yang merosot Carel bungkuskan lagi pada tubuhnya yang mulai merasa kedinginan. Meskipun tidak bisa mengusir Migel, setidaknya ada selimut ini yang bisa menutupi tubuhnya. Carel jelas tahu pantangan-pantangan yang bisa membuat laki-laki gelap mata. Meskipun di balik selimut dirinya masih memakai baju, tapi tetap saja, apalagi mengetahui perilaku Miguel yang sepertinya mudah menggelap ketika bersamanya. “Ya, terserah kau saja. Aku sudah tidak peduli lagi denganmu.” Kata Carel pelan. Wanita itu dengan lemas membaringkan kembali tubuhnya. Sekarang kepalanya kembali pening. Mata Miguel menyiratkan sedikit kekhawatiran, pikirannya yang ingin melihat ekspresi kesal Carel sekarang sudah terlupakan. Yang ada dipikirannya saat ini, sekarang Carel kenapa? Tangan Carel terulur untuk memijat pelipisnya sendiri, tapi saat baru saja tangan itu mendarat di keningnya, Miguel menahannya. “Biar aku saja,” katanya ikut membantu. Tangan Carel dengan hati-hati dia tempatkan kembali ke posisinya semula. Langsung saja Miguel mecoba memijat pelipis Carel. Ini pertama kalinya bagi Miguel memijat pelipis seseorang, dan orang itu adalah Carel. Wanita yang belakangan ini selalu menganggu hati dan pikirannya. Sedangkan yang Carel rasakan, meskipun pijatan Miguel tidak dapat dikatakan baik, tapi ini masih terbilang lumayan. Tak apa, Carel hanya ingin keningnya ada yang memijat saja. Lama-kelamaan kantuk datang mendera dirinya, Carel menguap pelan, matanya tertutup sempurna, yang dilihatnya sekarang hanya ada kegelapan. Melihat Carel yang sudah tertidur pulas, Miguel tersenyum tipis. Tangan kekar lelaki itu mengelus pelan pipi Carel yang begitu lembut. Setelah merasa puas, Miguel menghentikan gerakannya. Lelaki itu turun dari ranjang, lalu meraih kemeja serta jas kerjanya, tanpa kata dan tanpa suara sedikitpun, Miguel memakai kembali pakaiannya dengan tenang. Setelah ini Miguel akan kembali ke perusahaannya, tentunya bekerja. Dia bukan orang pengangguran yang hanya bisa menemani Carel setiap masa, Miguel tidak seperti itu. Lagipula, Miguel hanya menganggap Carel sebagai teman tidur saja. Tapi apakah benar hatinya menganggap itu? Sebelum keluar, Miguel menatap Carel sejenak. Wanita tampak tenang dalam tidurnya, beberapa kali Miguel melihat Carel seperti menahan sakit. Mungkin sakit kepalanya yang benar-benar. Tanpa kata, lelaki itu keluar dari Carel. Orang suruhan Miguel akan menelepon Segi nanti, guna menemani Carel. Sebab Miguel tak yakin Carel bisa melakukan aktivitas kecilnya sendiri, dalam keadaan sakit seperti ini. Dering ponsel menyadarkan Miguel, lelaki yang sedang berada di dalam lift itu merogoh ponselnya. Nama Melvin tertera di layar, sebagai pemanggil. Tanpa kata, lelaki itu mengangkat panggilannya. “Aku akan membunuhmu jika ini tidak penting,” celetuk Miguel tegas. Alih-alih menyapa atau apa, lelaki itu justru mengancam Melvin di sana. “Ini penting,” sahut Melvin. Jeda sejenak, “cepat kembali ke ruanganmu karena aku tak bisa mengatakannya lewat ponsel.” Kata Melvin, lelaki itu langsung menutup panggilan ponselnya tanpa membiarkan Miguel membalas perkataannya. Kalau Melvin sudah berbicara seperti itu, Miguel yakin ada sesuatu yang terjadi. Melvin pantang mengatakan hal-hal yang penting lewat telepon, refleknya ketika menjaga rahasia. Takut-takut kalau ponselnya di sadap ---ya, walaupun kemungkinannya kecil. ••• Begitu sampai di perusahaan cabangnya yang ada di Berlin, Miguel segera melangkah dengan tegas dan berwibawa menuju ruangannya. Hari sudah sore, para karyawan sudah pulang lebih awal. Tidak ada karyawan yang kembur, karena di Louis Corp. karyawan lembur diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa membagi waktu dengan baik. Miguel melangkah ke ruangannya di temani oleh beberapa pengawal yang senantiasa mengawalnya. Hanya saja tadi saat pergi ke kediaman Carel, Mguel menyuruh para pengawalnya berbaur dengan lingkungan, bersembunyi secara diam-diam daripada menonjolkan diri begitu terang-terangan. Lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangannya. Pintu terbuka, menampilkan Melvin yang sedang duduk di sofa, sedangkan mata lelaki itu fokus pada layar laptop di hadapannya. Menyadari Tuannya sudah masuk, Melvin lantas menekan tombol yang ada di remote controlnya. Remote berukuran kecil yang hanya terdapat satu tombol merah di atasnya. Begitu tombol ditekan, tirai-tirai jendela yang terbuka langsung tertutup secara perlahan, menyisakan satu tirai terbuka sebagai penerangan. Alat yang dapat menghambat gelombang energi listrik atau komunikasi diaktifkan. AC yang dingin yang berada di sudut ruangan mati sementara, CCTV atau apapun alat yang bersifat elektronik mati. Termasuk laptop yang berada pada pangkuan Melvin. Alat penghambat itu memang diciptakan oleh kelompok dunia bawahnya, dan termasuk ilegal karena belum terdaftar dalam negara. Kalaupun nanti sudah terdaftar, harga jualnya akan sangat tinggi, mengingat fungsi alat tersebut yang begitu berguna. Para petinggi perusahaan yang membutuhkan pasti langsung ingin membeli alat itu tanpa peduli harga. Stock nya terbatas, ada puluhan yang sudah dibuat, dan itu sudah disebarkan ke berbagai perusahaan pusat ataupun cabang yang sering Miguel datangi. “Kau bisa bicara sekarang,” Miguel duduk dengan tenang di kursi kebesarannya. Ruangan itu tampak remang, sumber cahaya satu-satunya hanya ada pada satu tirai jendela yang terbuka. Lampu juga ikut mati. “Neil Tom, dia adalah Ketua divisi pemasaran mulai dari tiga tahun lalu. Karena kerja kerasnya yang terlampau giat dan sangat terampil, Neil yang tadinya hanya karyawan biasa di angkat menjadi ketua setelah dua tahun kerjanya. Sekarang kurang lebih, Neil Tom telah bekerja lima tahun pada Louis Corp. Menurut data yang sudah diselidiki. Setahun belakangan ini Neil mencoba merusak privasimu. Terbukti dengan pengetahuannya mengenai dirimu yang merupakan ketua di dunia bawah. Selain itu, saat tim menggeledah rumahnya secara rahasia, mereka banyak menemukan photomu yang bertebaran di ruang kerja Neil. Bukan hanya itu, setiap gambar yang terdapat kau di dalamnya, akan tertusuk oleh jaruk penusuk sticky notes.” Jelas Mlevin dengan serius. Lelaki itu berusaha megumpulkan informasi yang belum di sampaikannya. Tanpa melihat sama sekali, beruntung Melvin memiliki ingtaan yang cukup bagus. “Selain itu, dalang dibalik transaksi kita yang gagal beberapa hari lalu sampai agent negara ikut meyediliki, Neil di balik semua itu. Neil sudah bergerak lebih dulu memberitahu pihak Berlin kalau akan ada yang melakukan transaksi di negaranya.” Lanjut Melvin lagi. Miguel menanggapinya dengan datar, sedangkan otaknya dalam waktu singkat langsung menarik kesimpulan. “Di atas dia ada siapa? Transaksi kita di Berlin hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Bahkan kau bisa menghitungnya dengan jari. Neil tidak mungkin menyelundup secara sembunyi-sembunyi, mengingat sistem keamanan yang begitu ketat. Kecuali ada orang dalam yang membocorkannya,” tutur Miguel, lelaki itu menyeringai k**i. “Ya, kau benar. Dan itu masih dalam penyelidikan sekarang. Termasuk tim juga harus mengetahui ada siapa di belakang Neil Tom yang bersedia membantunya. Tidak mungkin Pak tua itu bergerak sendiri, kalau iya, berarti kenekatannya terlalu berani. Selain itu, kita juga belum mengetahui apa motif Neil Tom melakukan ini,” jelas Mlevin. Lelaki itu menghela nafas pelan, punggungnya dia sandarkan pada sandaran sofa yang empuk itu. “Kurasa itu saja yang perlu dibicarakan. Semoga harimu melelahkan,” katanya tak sopan. Melvin menonaktifkan alat penghambat gelombang itu. Lampu-lampu menyala, AC pun turut mengikuti. Sedangkan tirai, walaupun hari sudah sore, di biarkan terbuka guna melihat pemandangan langit malam yang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN