Winda tampak kebingungan saat ini. Dia sebenarnya memang ingin membuka hatinya untuk pria lain. Bagaimana pun dirinya memerlukan seorang pendamping hidup, yang akan menemaninya dan menjaganya. Apalagi dia memiliki seorang anak gadis yang pastinya nantinya akan mengikuti suaminya, apabila sudah menikah. Sehingga dia akan sendirian nantinya apabila tak memiliki pasangan hidup. “Win...Winda, kok malah melamun sih? Jawab dong pertanyaan saya tadi. Kapan saya bisa ke rumah kamu?” tanya Ridwan untuk ke sekian kalinya. “Eh, aduh bagaimana ya? Kok jadi bingung saya, Dok.” Winda menjawab sambil tersenyum canggung. “Nggak usah bingung. Tinggal jawab saja, iya atau nggak,” sahut Ridwan dengan senyuman. Di saat yang sama, ponsel Winda berdering. Menampilkan nama Anisa di layar. Benda pipih yang di

