Winda yang tahu arti tatapan anaknya, lantas tersenyum. Anisa lantas membalas senyuman sang mama. Dia pun sadar kalau mamanya perlu pendamping hidup. Semenjak perceraian dengan papanya, Anisa melihat kalau sang mama lebih fokus pada pekerjaan. Terlebih lagi saat papanya masuk penjara, otomatis seluruh keperluan Anisa menjadi tanggung jawab mamanya, karena Haris-sang papa, tak menghasilkan uang sebab reputasinya sebagai seorang pengacara telah hancur. “Jadi bagaimana, Nisa?” tanya Ridwan untuk yang kedua kalinya. “Kalau saya sih terserah Mama saja, Om, yang penting Mama bahagia. Selama ini Mama sudah hidup cukup menderita, karena disakiti oleh papa. Saya harap kalau Om Ridwan memang serius, tolong buat Mama bahagia dan selalu tersenyum. Jangan buat Mama menangis ya, Om,” sahut Anisa ser

