BLIND-THIRTEEN

2049 Kata
Kini Chang Kyun dan Kihyun sedang berjalan santai. Sesuai janjinya, Kihyun akan mengantarkan Chang Kyun sampai ke rumah pemuda itu. Tentu saja Chang Kyun awalnya menolak, tapi bukan Kihyun jika ia tak bisa mendesak secara halus lawan bicaranya. Alhasil Chang Kyun hanya bisa mengiyakan tawaran(?) Kihyun. Lagi pula ia juga takut jika hanya berjalan sendiri di malam hari. Itu terlalu beresiko untuknya. “Bagaimana pendapatmu tentang tteokpokki tadi?” tanya Kihyun membuka percakapan. Pasalnya sudah hampir sepuluh menit mereka berjalan namun belum satu kata pun keluar dari keduanya. Kihyun bukanlah pecinta keheningan namun ia juga bukan orang yang hiperaktif semacam Min Hyuk. “Eoh! Sangat enak,” hanya itu yang keluar dari bibir tipis Chang Kyun dan selanjutnya hening kembali. Kihyun mengernyitkan dahinya, tidak biasanya juniornya ini terlihat diam seperti ini. Apa yang terjadi? “Chang Kyun, kau baik-baik saja?” tanya Kihyun dengan wajah yang terlihat khawatir. Chang Kyun tak merespon. Sepertinya ia tengah terhanyut dalam pikirannya sendiri. Kihyun menepuk bahu Chang Kyun pelan. Dan benar saja anak itu sedikit tersentak. “Ahh ... ya?” “Kau baik-baik saja, 'kan?” tanya Kihyun dengan hati-hati. “Ya. Aku baik-baik saja, Hyung,” sahut Chang Kyun mengulum senyum. Sungguh menyebalkan melihat orang yang jelas-jelas terluka tapi masih berusaha terlihat baik-baik saja. “Kau tahu Chang Kyun?” tanya Kihyun, kali ini dengan nada serius. “Tahu apa?” Chang Kyun akan menautkan kedua alisnya. “Kau itu tidak pandai dalam menyembunyikan perasaanmu,” ucap Kihyun singkat. Chang Kyun menghentikan langkahnya secara mendadak dan sontak membuat Kihyun harus menahan langkahnya. Raut mukanya benar-benar berubah sekarang. Apa benar yang dikatakan Kihyun itu? “Apa aku terlihat begitu menyedihkan? Sampai-sampai terlihat jelas olehmu, Hyung?” tanya Chang Kyun dengan wajah sendu. Kihyun terdiam sesaat sebelum akhirnya merangkul bahu mungil Chang Kyun. “Tidak, kok. Aku memang selalu peka dengan perasaan orang lain.” Chang Kyun lagi-lagi hanya menundukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Kihyun. “Baiklah, kita sudah sampai,” ucap Kihyun tiba-tiba. Chang Kyun menggalihkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Kihyun. Ia memasang wajah herannya. “Hyung, dari mana kau tahu di mana rumahku?” Kihyun hanya tersenyum miring yang pada dasarnya tak dapat dilihat oleh Chang Kyun. Tentu saja hal yang mengejutkan bagi Chang Kyun, karena sebelumnya dia belum memberitahukan alamat rumahnya kepada Kihyun. “Tentu saja aku tahu, aku melihatmu setiap hari masuk ke dalam rumah itu,” sahut Kihyun yang membuat Chang Kyun semakin mengerutkan keningnya. Pasalnya ia sepertinya tak merasa bertetangga dengan Kihyun. “Kalau begitu Hyung juga tahu ...” Chang Kyun terlihat ragu dan sangat berhati-hati. “Kau adik Lee Joo Heon, si ketua ekskul futsal,” potong Kihyun sebelum Chang Kyun menyelesaikan kalimatnya. Tergambar dengan jelas ekspresi terkejut dan gelisah secara bersamaan di wajah Chang Kyun. Seakan Kihyun telah mengucapkan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh publik. “Seharusnya tidak begini,” ujar Chang Kyun kemudian melangkah menjauhi Kihyun. “Kenapa? Kenapa kau terlihat takut seperti itu?” Kihyun maju selangkah mendekati Chang Kyun dan kemudian meraih lengan Chang Kyun. “Joo Heon Hyung tidak akan menyukainya. Dia pasti malu. Hyung ...” "Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" "Bisakah Hyung berpura-pura tidak tahu?" Dahi Kihyun mengernyit. "Apa?" guman Kihyun. "Berpura-pura lah tidak tahu. Berpura-pura lah bahwa Hyung tidak tahu rumahku, berpura-pura lah bahwa Hyung tidak tahu tentang Joo Heon Hyung dan aku." Jujur, Kihyun mulai paham dengan apa maksud dari segala pertanyaan yang dulu bercokol di hatinya. Dan sekarang apa yang harus ia lakukan? “Tunggu, Chang Kyun!” panggil Kihyun, mencegah Chang Kyun yang sudah melangkah lagi. Chang Kyun menghentikan langkahnya, menunggu kalimat dari mulut Kihyun. “Mungkin aku terlalu lancang untuk mencari tahu tentangmu dan itu membuatmu tidak nyaman. Tapi percayalah, aku tak berniat buruk. Aku hanya tidak ingin kejadian itu terulang lagi,” ucap Kihyun dengan nada menyesal. Chang Kyun tersenyum. “Tidak apa-apa Hyung. Aku mengerti, tidak perlu merasa bersalah,” ujar Chang Kyun, terdengar tulus. Kihyun tersenyum kemudian menepuk bahu Chang Kyun pelan. “Terima kasih, sekarang pulanglah. Orang tuamu pasti khawatir,” ucap Kihyun tulus dan hanya dijawab dengan senyum tipis oleh Chang Kyun. “Aku berharap ucapanmu itu bisa menjadi nyata, Hyung,” ucap Chang Kyun lirih setelah sampai di depan pintu rumahnya. Chang Kyun menekan bel rumah. Harus menunggu sedikit lama sampai pintu itu terbuka. “Astaga, anak ini! Hari sudah larut dan kau baru sampai rumah. Dari mana saja kau, hah?!” sentak Nyonya Lee dengan suara yang memenuhi ruangan. Bahkan pintu itu belum sepenuhnya terbuka. Chang Kyun menggigit bibir bawahnya dan menunduk. “Maafkan aku, Eomma. Tadi aku bertemu teman sebentar,” jelas Chang Kyun takut-takut. Nyonya Lee menatap jengah ke arah Chang Kyun. “Cepat masuk kamar dan ganti bajumu kemudian siapkan makan malam!” perintah wanita itu yang tanpa ba-bi-bu langsung dituruti oleh Chang Kyun. “Baik, Eomma.” “Sungguh merepotkan saja,” omel Nyonya Lee di sela langkahnya menuju dapur. Chang Kyun bergegas menuju kamarnya dan mandi, kemudian mengganti baju. Semua itu ia lakukan secepat mungkin karena tak mau membuat Nyonya Lee marah padanya karena tak membantu menyiapkan makan malam. Selanjutnya Chang Kyun turun dan menuju ke dapur. Tentu saja untuk membantu Nyonya Lee. Dengan sigap Chang Kyun menata berbagai hidangan untuk makan malam di atas meja. Jangan remehkan, meskipun ia buta. Jika hanya perihal menata makanan di atas meja semacam ini, ia sudah sangat mahir melakukannya. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk membuat semua menu terhidang di meja makan. Setelah dirasa semua sudah siap, Chang Kyun segera naik ke lantai 2 dan memanggil kedua Hyung-nya. Orang pertama yang Chang Kyun datangi adalah Joo Heon. Diketuknya pintu itu dengan pelan. Tak berselang lama muncul sosok Joo Heon dengan mengenakan T-shirt orange dan celana pendek hitam. Wajahnya terlihat seperti sehabis bangun tidur. Andaikan Chang Kyun bisa melihatnya, pasti menggemaskan. “Makan malam sudah siap, Hyung,” ajak Chang Kyun sehalus mungkin. Ia agaknya takut jika Joo Heon masih marah padanya. “Hmm ....” Hanya itu yang keluar dari mulut Joo Heon sebelum akhirnya kembali masuk ke kamarnya untuk mencuci wajah bantalnya. Chang Kyun tersenyum menanggapi kecuekan yang disuguhkan Joo Heon padanya. Itu berarti Joo Heon sudah tak mempermasalahkan kejadian tadi siang. Dan itu cukup membuatnya lega. Dilanjutkan langkah kecilnya menuju ruangan paling ujung yang merupakan kamar Hyun Woo. Seperti sebelumnya, Chang Kyun mengetuk pintu tersebut dan disambut oleh pria kekar di dalamnya. “Makan malam sudah siap, Hyung.” Berbeda dengan Joo Heon, Hyun Woo justru langsung melenggang begitu saja melewati Chang Kyun. Pemuda ini memang tak suka buang-buang suara. Dan Chang Kyun paham akan hal itu, ia hanya mengekor di belakang Hyun Woo. Joo Heon sudah duduk manis di kursinya ketika Hyun Woo dan Chang Kyun tiba. Acara makan malam berjalan dengan khidmat. Tak ada yang berniat untuk berucap sampai pada akhir kegiatan yang dilanjutkan dengan perbincangan ringan keluarga. “Bagaimana sekolahmu hari ini, Joo Heon?” Nyonya Lee memulai percakapan dengan putra bungsunya. Joo Heon hanya manggut-manggut sambil meminum segelas air ditangannya hingga tandas tak tersisa. “Berjalan seperti biasa Eomma. Nothing special. Hanya saja minggu depan aku akan mengikuti petandingan futsal,” sahut Joo Heon bersemangat saat mengucap kata pertandingan. Nyonya Lee tersenyum mendapati putranya yang memang selalu bersemangat jika menyangkut masalah olahraga yang memang sudah menjadi kesenangannya sejak kecil. “Eomma mengerti. Eomma akan selalu mendukungmu, jadilah pemenang nanti, eoh?” Joo Heon tersenyum lebar hingga menampakkan dimple di kedua sisi pipinya. “Baiklah. Tenang saja Nyonya, akan aku persemabahkan kemenangan itu untukmu,” ucap Joo Heon menggebu. “Aku akan mengajakmu liburan jika kau menang.” Hyun Woo buka suara. Joo Heon menatap Hyun Woo tak percaya. Matanya membulat sempurna mendegar pernyataan kakaknya yang bahkan lebih suka bergelung dengan selimut ketika hari libur tiba. “Sungguh? Kau tidak berbohong, kan, Hyung?” Hyun Woo tersenyum. “Tentu saja tidak, lagi pula kita sudah lama, kan tidak keluar untuk sekedar liburan?” “Woahh ... jadi kau sudah bercerai dengan kasur sialanmu itu?” Nyonya Lee tertawa kecil mendengar celoteh putranya, sedangkan Hyun Woo mengacak gemas puncak surai milik Joo Heon. Lihatlah Lee Joo Heon yang sekarang. Terlihat manis, bukan? Baiklah, sampai di sini Im Chang Kyun hanya bisa menjadi seorang figuran saja atau bahkan sekedar penonton? Tapi bagaimana bisa ia disebut sebagai penonton? Tapi mungkin Chang Kyun harus bersyukur dalam keadaan ini. Karena ia buta, ia tidak akan menyaksikan secara langsung keharmonisan keluarga itu di hadapannya. Ingatlah perkataan Lee Joo Heon, 'Tinggal di rumah yang sama bukan berarti kalian bisa menjadi keluarga.' Kalimat yang menambah daftar mimpi buruk bagi Im Chang Kyun yang kini hanya bisa berdiam diri. Untuk sesaat melupakan jati dirinya sebagai seorang manusia, ketika bernapas pun rasanya harus tetap berhati-hati. Tentu saja ia takkan berani untuk bergabung dalam perbincangan keluarga ini. Jika ditanya, sudah pasti ia juga ingin ikut berbincang. Tapi, memangnya siapa dia dalam keluarga ini? Dan bungkam memang menjadi jalan satu-satunya bagi Chang Kyun agar tetap bisa berada di antara mereka. Toh jika ia berucap, hanya akan merusak suasana makan malam yang indah ini, kan? Baiklah, Chang Kyun sudah menyelesaikan makannya sementara yang lain sibuk berbincang. Seperti biasa, ia akan membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor yang baru mereka pakai. Dengan hati-hati Chang Kyun membawa tumpukan piring kotor tersebut dan mengumpulakannya ke tempat cuci, kemudian mencucinya satu persatu dengan sabar. Bahkan saat di dapur pun suara tawa mereka masih bisa didengarnya. Chang Kyun tersenyum miris. Ia juga ingin tertawa bersama dan berada di antara mereka. Tapi kapan?! Mengingat itu saja sudah membuatnya ingin menyerah sebelum berperang. “Biar aku bantu,” ucap seseorang yang sukses membuat Chang Kyun hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Beruntung tangan pemuda di sampingnya dengan sigap menangkap gelas tersebut. “Eoh ... Hyun Woo Hyung. Mengapa kau di sini?” Hyun Woo tidak menyahut dan justru meraih gelas di tangan Chang Kyun, kemudian mencucinya. Chang Kyun hanya bisa membisu menanggapi sikap Hyun Woo. “Kau duduklah, biar aku yang menyelesaikan ini,” perintah Hyun Woo yang entah mengapa Chang Kyun langsung menurut begitu saja. Chang Kyun duduk di bangku yang sudah ada di dapur tersebut dan masih diam. Ia masih tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Hyun Woo. Tapi di sisi lain ia bahagia, mungkin saat ini Hyun Woo sudah sedikit membuka hati untuknya. Dan tanpa sadar seulas senyum terukir di bibir tipis Chang Kyun. “Jangan tersenyum seolah ini hal langka. Kau membuatku terlihat seperti orang jahat,” ujar Hyun Woo tiba-tiba. Ia menyadarinya. Chang Kyun buru-buru menundukkan kepalanya. Pipinya terasa memanas dan terlihat memerah. “Maaf ... aku hanya merasa senang. Terima kasih, Hyung,” sahut Chang Kyun lirih yang masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Hyun Woo. Hyun Woo menyelesaikan kegiatan mencucinya dengan cepat kemudian meletakkan kedua tangannya ke bahu kecil Chang Kyun. “Ayo,” ajak Hyun Woo halus. “Baik.” Chang Kyun menurut dan melangkahkan kakinya menuju kamar dengan satu lengan kekar Hyun Woo yang masih bertengger di bahunya. Sesampainya di depan pintu kamar, Hyun Woo ikut merangsek masuk ke dalam dan menjatuhkan tubuhnya di kasur tanpa meminta ijin dulu pada si pemilik. Dan tentu saja itu membuat kebingungan di kepala Chang Kyun semakin menumpuk. “Aku ingin tidur di sini. Boleh, kan?” tanya Hyun Woo kemudian. Chang Kyun hanya membeku di tempatnya sebelum akhirnya mengangguk. “Jika Hyung menginginkannya, silakan,” ujar Chang Kyun, terdengar canggung dan kemudian duduk di sisi ranjangnya. Hyun Woo hanya tersenyum mendapati kebingungan yang terpancar dari wajah adiknya itu. “Kau pasti bingung dengan sikapku, 'kan?” tanya Hyun Woo yang disambut dengan anggukan oleh Chang Kyun. “Maaf.” Changkyun mengernyitkan dahinya. “A-apa maksudmu, Hyung?” Hyun Woo tiba-tiba memeluk Chang Kyun dari belakang dan membuat sang pemilik tubuh hampir terjungkal. “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu apakah adikku ini tumbuh dengan baik?” sahut Hyun Woo lalu melepaskan pelukannya. Bagaimana dengan Chang Kyun? Apa yang dilakukan oleh pemuda itu? Ia hanya bisa membuka mulutnya lebar dan mencoba mencerna maksud dari kakaknya ini. Hyun Woo mengacak pucuk surai legam Chang Kyun dengan lembut. “Selamat malam, Chang Kyun,” ujar Hyun Woo kemudian berlalu meninggalkan Chang Kyun dengan segenap rasa bingungnya. “Y-ya.” Jujur Chang Kyun sangat senang dengan sikap Hyun Woo yang peduli padanya. Mungkinkah Hyun Woo mulai membuka hati untuknya? Ya, semoga saja. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN