BLIND-THIRTY TWO

1450 Kata
Dengan terburu, Joo Heon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu nomor di kontaknya. “…..” “Eoh, aku butuh bantuanmu, dan itu wajib. Datanglah ke taman dekat rumahku, aku akan menunggu di sana,” Joo Heon mengakhiri panggilannya kemudian menuju taman yang dimaksud dengan berjalan kaki. Sungguh, kejadian ini adalah sesuatu yqng sangat mengejutkan bagi namja itu. Dirinya merasa merasa bersalah, sangat. Andai ia tak memaksa Chang Kyun maupun kakaknya untuk menuruti keinginan konyolnya, mungkin saat ini bocah itu masih duduk manis bersama mereka. Ya, andai dan hanya andai. Karena nyatanya semua sudah terlanjur. Kau pasti tahu, jika nasi sudah menjadi bubur maka tak mungkin untuk mengembalikannya menjadi nasi lagi, apa lagi beras. “Hyung!” Panggilan yang tertuju padanya membuat Joo Heon tersadar dan menoleh ke sumber suara. Dahinya mengernyit tanda heran. Dia hanya menghubungi satu orang. Tapi kenapa sekarang ada tiga makhluk tengil berdiri di hadapannya? “Apa ini? Kenapa kalian ada di sini?” tanya Joo Heon heran. “Eoh, i-itu, kau tadi menghubungiku saat aku sedang berbelanja untuk kebutuhan berkemah. Dan mereka satu kelompok denganku, termasuk adikmu,” jelas Soon Young sembari menampilkan cengirannya. Joo Heon terdiam, sedangkan matanya memandang ketiga bocah di hadapannya satu persatu. Mengamati ketiganya dalam diam sebelum akhirnya mendesah gusar. “Aku pikir semua akan bertambah sulit sekarang,” gerutu Joo Heon. “Hyung, memangnya ada apa? Mengapa kau menyuruh Soon Young untuk menemuimu?” Doyoung bertanya heran. Sedikit informasi, bahwa dua sekawan itu akan menjadi teman satu tenda Doyoung dan Changkyiun. Dan hari ini, sama seperti yang Joo Heon lakukan, mereka sedang berbelanja untuk kebutuhan kemah besok lusa. Hanya saja mereka tak melakukannya bersama Chang Kyun, karena Joo Heon melarangnya. “Aku butuh bantuan kalian.” “Bantuan untuk apa?” Jin Woo yang diam sekarang mengajukan pertanyaan. “Menemukan Chang Kyun,” balas Joo Heon yang membuat ketiganya ternganga. “Apa? Menemukan Chang Kyun?” Soon Young tak salah dengar, kan? “Apa maksudmu, Hyung?” Doyoung sontak mendongakkan kepalanya antusias begitu nama sahabatnya disebut. Tak mau membuang waktu terlalu banyak, Joo Heon menjelaskan secara singkat apa yang terjadi. Menemukan Chang Kyun adalah tujuan utamanya. “Lalu kita harus mencari ke mana?” tanya Jin Woo begitu Joo Heon selesai berucap. Joo Heon menatap tajam pada Jin Woo. “Menemui dalang di balik semua ini,” sahutnya penuh penekanan. “Soon Young.” “Y-ya?” Soon Young mendadak gagap begitu namanya disebut dengan dingin oleh Joo Heon. “Beri tahu aku di mana dua k*****t itu tinggal. Ini sudah hampir tiga jam Chang Kyun hilang, aku tidak mau waktu terbuang semakin banyak lagi dan kita tak menemukannya.” *** “Hei! Berhentilah bertingkah seperti pecundang! Aku tahu selama ini kalianlah yang selalu berusaha mengganggunya. Katakan di mana kau menyembunyikan adikku!” Joo Heon semakin meninggikan suaranya, tak peduli jika sekarang mereka sedang berada di kediaman Keluarga Kim. “Hyung, tenangkan dirimu,” lerai Soon Young yang sama sekali tak digubris oleh Joo Heon. Sedangkan Doyoung dan Jin Woo hanya mampu meringis ngeri melihat kemarahan Joo Heon. Ini kali pertama mereka melihat namja berlesung pipi itu murka. Yah, karena dilihat dari sisi wajah, Joo Heon terlihat seperti seorang Sunbae yang menggemaskan dengan mata sipit dan lesung pipinya. Bukan hanya itu, Joo Heon juga selalu ramah saat berada di sekolah. Tuan maupun Nyonya Kim hanya ternganga melihat kejadian di hadapannya. Seorang bocah bermata sipit tengah menarik kerah baju putra sulungnya. Masalah apa lagi yang sudah diperbuat oleh dua bersaudara tersebut? “Harus aku katakan berapa kali agar kau mengerti, eoh?! Aku tidak tahu! Kami sungguh tidak tau bocah buta itu ada di mana?!” Tae Hyung menepis dengan kasar tangan Joo Heon dari kerahnya dan membuat cengkraman tersebut lepas begitu saja. “Hentikan kebohonganmu sekarang atau aku akan melaporkanmu pada polisi? Kalian pikir, kalian bisa bebas setelah melakukan banyak kekerasan pada dongsaengku, huh? Tidak akan! Akan kupastikan kalian merasakan dinginnya jeruji besi itu.” Tuan Kim sontak membulatkan matanya begitu mendengar ancaman keluar dari mulut Joo Heon. Bocah ini benar-benar tak main-main dengan ucapannya. “Hei, hei. Nak, bisa kita bicarakan secara baik-baik semua ini? Jangan membawa-bawa nama hukum,” ujarnya menenangkan. Joo Heon berdecih. “Kenapa? Apa Ahjussi takut jika dua putra kesayanganmu itu masuk penjara? Hahaha … yang benar saja. Bukankah perkara seperti itu mudah bagi kaum seperti kalian? Keluarkan beberapa tumpuk dollar dan segalanya selesai?” Bungkam, kedua orang tua itu dibuat tak berkutik dengan kalimat singkat yang baru saja meluncur bebas dari bibir Joo Heon. Suasana bahkan mendadak hening tepat setelah Jooheon mengakhiri ucapannya. Bukan karena apa, namun ucapan tersebut benar-benar menohok mereka. Kaum borjuis yang selalu mendapatkan dan melakukan segala keinginan dengan benda yang bernama uang. Joo Heon tertawa keras begitu mendapati kedua orang tua orang di ruangan tersebut diam. “Astaga, sepertinya ucapanku terlewat benar, ya? Hingga kalian tak sanggup menjawab,” ujarnya sembari menyapu air mata di sudut matanya. Tae Hyung mengepalkan tangannya erat dan siap melayangkan satu bogeman pada Joo Heon andaikan tangan orang lain tak menahannya. “Yak! Aishh ....” geramnya tertahan. “Akan aku beritahu petunjuk, namun setelah ini pergilah. Kami sudah malas ikut campur urusan ini terlalu jauh.” Han Bin berkata dengan intonasi setenang mungkin. #BLIND# Bocah itu meringkuk di lantai yang kasar dengan nafas tersengal. Pria itu kembali menarik kerah baju Chang Kyun hingga membuat bocah itu terduduk dengan benar. Entah kemana hoodie yang semula menempel di tubuhnya. Pria itu tanpa belas kasih merobek begitu saja kain tersebut hingga hanya menyisakan kaos yang berwarna senada dengan celana bocah itu. “Hei, jangan salahkan aku jika kau sedikit terluka. Sudah aku bilang untuk diam dan megikuti permainanku, tapi kau bertingkah. Maaf jika aku sedikit kasar,” ujar pria tersebut kemudian tertawa. Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Chang Kyun, bocah itu sibuk menahan tangis serta rasa ngilu di seluruh tubuhnya. Pria itu benar-benar kasar dan bisa disebut tidak waras. Ia mengajak bermain dengan mengajukan beberapa pertanyaan tak masuk akal dan jika Chang Kyun tak mampu menjawab maka ia akan memberi hukuman. Omong kosong dengan tak menyakiti karena tiap bocah itu berucap entah salah atau benar, orang itu akan melayangkan entah pukulan atau tamparan ke tubuhnya. “Andai kau berada di sebuah hutan lebat di pedalaman sss, kemudian kau tersesat di dalamnya kemudian kau bertemu dengan seekor singa kelaparan. Apa yang akan kau lakukan? Berlari atau melawan?” Lihat? Pria ini kembali melontarkan pertanyaan aneh saat nyeri di tubuhnya belum berkurang. Ia lebih memilih diam dan menggeleng, terlalu lelah untuk menanggapi ocehan tak bermanfaat dari pria aneh di hadapannya. Srett Rasa pening menyerang, begitu ujung surainya ditarik secara tidak manusiawi oleh tangan kekar pria tersebut hingga membuat bocah itu mendongak terpaksa. “Jawab!” bentaknya diikuti dengan tarikan lebih erat pada rambut Chang Kyun. Masih enggan menjawabnya, lagi-lagi Chang Kyun lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya yang mana semakin memancing emosi dari lawan bicara. Ia hanya takut jika jawaban yang diutarakannya tak memuaskan maka pria itu kembali memukulnya. “Aku bilang jawab!” Plakk Satu tamparan telak mendarat di pipi kiri Chang Kyun yang membuat bocah itu sedikit terjatuh ke samping akibat kerasnya tamparan tersebut. “A-aku tidak tahu, Paman. Sungguh, aku tidak tahu … argh .…” “Apa kau sebodoh itu, hingga menjawab pertanyaan semudah itu kau tidak mampu?” Tangan pria itu kembali terangkat dan siap untuk melayangkan satu hantaman keras untuk Chang Kyun, namun hal itu urung dilakukan ketika sebuah suara menginterupsi. “Aku rasa giliran bermainmu sudah usai, Paman.” Pria itu menoleh ke arah sumber suara, diam sesaat kemudian tersenyum menyambut kedatangan orang yang memang sudah ditunggunya. “Ya, aku rasa jika aku terus bermain dia akan rusak sebelum Tuan menyentuhnya.” Ia menggeser posisi berdirinya dan memberi ruang bagi lawan bicara untuk mendekati bocah yang kini meringkuk dengan tangan dan kaki masih terikat sempurna. “Aigoo, Chang Kyun kami yang berharga. Maaf ya, jika paman itu sedikit kasar padamu dan maaf juga karena aku harus sampai menculikmu untuk bisa membuat kita berdua bertemu,” dengan lembut pemuda itu mengusap rambut Chang Kyun yang sudah mulai lepek karena keringat. “Aku tidak bermaksud membuatmu mengalami semua ini, namun karena kau sendiri yang membuatku kesal dan menderita selama ini. Jadi maaf jika aku melakukan hal nekat ini,” lanjutnya masih dengan nada yang begitu lembut. Jantung Chang Kyun berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ia berusaha untuk kembali duduk dan menepis tangan yang bertengger di kepalanya dengan gemetar. Suara ini, sungguh dia berharap jika ia hanya salah dengar. Dia bukan orang yang ada dalam pikirannya, kan? Mungkin karena pendengaran Chang Kyun sedikit bermasalah, jadi ia salah mengenali suara orang. Dan orang di hadapannya ini bukanlah Lee Min Hyuk? #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN