BLIND-TWENTY NINE

1878 Kata
Brakkkk! Gebrakan meja cukup keras membuat seisi kelas menoleh ke arah namja yang tengah berdiri dengan raut penuh amarah, bahkan namja itu masuk ke kelas mereka tanpa mengucap salam sedikit pun. Mata sipitnya tertuju pada dua orang yang tengah sibuk dengan ponsel di genggamannya. Keduanya terlonjak begitu meja di hadapannya digebrak begitu keras. Mereka saling bertukar tatapan sebelum akhirnya menatap heran orang di hadapan mereka. Sedangkan penghuni kelas yang sudah mulai ramai hanya bisa berbisik-bisik tentang apa yang terjadi. “What’s wrong, Man?” Han Bin memulai pertanyaan. “Kalian orang-orang lemah, dengarkan aku baik-baik.” Joo Heon menghela nafas sejenak dan memandang Han Bin dan Tae Hyung secara bergantian. Tae Hyung menaikkan sebelah alisnya heran. Heol, apa tadi dia bilang? Orang-orang lemah? Apa dia tidak salah dengar? “Berhenti mengganggu Im Chang Kyun, jauhi dia jika kalian tidak mau menyesal,” tegas Joo Heon dengan penuh penekanan di setia kata yang dia ucapkannya. Kedua Kim hanya saling bertukar pandangan sejenak kemudian tertawa seakan sedang dihadapkan pada hal yang sangat lucu. Tae Hyung berdiri lantas menyisir rambut yang sedikit menutupi dahi dengan tangan kanannya. “Aigoo, sungguh aku bingung harus berkata apa padamu, Bung. Kau yang tiba-tiba datang menggebrak meja kami, kemudian mengatai kami orang lemah dan meminta untuk tidak mengganggu Chang Kyun. Hei, kau pikir kau siapa dengan seenaknya mengatakan hal itu pada kami?” Joo Heon tersenyum miring. “Aku hanyalah seorang kakak yang tidak suka melihat adiknya terluka dan kalian adalah pengecut yang mengandalkan harta untuk melakukan dan mendapatkan apa yang kalian inginkan,” terangnya yang mengundang decak kagum beberapa siswa di kelas tersebut. Bagaimana tidak? Baru kali ini ada yang berani berbicara lancang dan terkesan mengejek pada kedua anak Tuan Kim tersebut. Siapa pun tidak ada yang mau mencari masalah dengan dua orang berjiwa psikopat tersebut. Mereka itu licin seperti belut dan berbisa seperti ular. Tidak ada yang bisa lolos jika sudah berbuat masalah dengan mereka sedangkan mereka dapat dengan mudah terbebas dari hukum yang menjeratnya. Jadi pada intinya, tidak ada yang mau membuat masalah dengan dua orang tersebut dan memilih menganut aliran ‘lebih baik mencegah dari pada mengobati.’ “Yak! Beraninya kau.” Tae Hyung yang tersulut emosi lantas menarik kerah seragam Joo Heon membuat namja itu sedikit tertarik ke depan. Bukannya takut, Joo Heon justru berdecih dan menepis tangan Tae Hyung dari kerahnya. Ia tertawa. “Hahaha … kenapa? Mengapa aku harus takut padamu? Hei, sadarkah kau jika terlepas dari semua harta yang kalian miliki, kita sama-sama manusia? Aku memakan apa yang kau makan, dan kau menghirup apa yang ku hirup. Kita sama-sama hidup di bumi dan kita sama-sama makhluk fana yang pada akhirnya akan mati.” Joo Heon menjeda kalimatnya dan menepuk bahu Tae Hyung. “Jadi intinya tidak ada alasan bagiku untuk takut pada manusia bertingkah hewan seperti kalian. Dan aku jamin kalian akan mendapat hukuman setimpal atas apa yang kalian perbuat,” ancamnya kemudian berlalu meninggalkan Tae Hyung yang dikuasai oleh amarahnya. “Yak! Sialan,” teriak Tae Hyung emosi, hendak mengejar Joo Heon yang sudah keluar dari kelasnya namun beruntung Han Bin berhasil menahannya. “Hyung, hentikan!” “Ya! Mengapa kau menghentikan aku? Aku ingin memberi pelajaran pada si mulut besar itu!” sentak Tae Hyung. “Tidak, justru itu. Aku punya ide yang kurasa lebih berguna dari pada memberi pelajaran padanya,” sahut Han Bin diikuti senyum culasnya. Tae Hyung diam tak menggubris ucapan dari saudaranya. Hancur sudah suasana hatinya di pagi hari yang mendadak terasa terik ini. #BLIND# Sesuai janjinya pagi tadi, Joo Heon sekarang tengah berdiri di dekat kelas Chang Kyun, menunggu bocah itu menyelesaikan kelas tambahannya sembari menikmati sekotak s**u pisang. Oh, tentang gosip yang tiba-tiba beredar tentang kedekatannya dengan Chang Kyun, Joo Heon sebenarnya dengar namun ia lebih suka menulikan pendengarannya dan lebih memilih fokus untuk menjaga Chang Kyun. Dan masalah Kim bersaudara tadi, jujur sekarang Joo Heon menyesal sudah bertingkah sok pahlawan dengan mendatangi kelas mereka dan mengancam akan membuat perhitungan pada mereka, padahal dia tidak punya bukti untuk menarik mereka ke jalur hukum. Yah, anggap saja itu kebodohanya. Ia terlalu dikuasai emosi hingga lupa bahwa dia hanya seujung kuku dibanding dengan dua penguasa tersebut. Kau ceroboh Lee Joo Heon. Tuk Tuk Tuk Ujung sepatunya ia pertemukan dengan lantai hingga membentuk bunyi berirama. Rasa bosan mulai menguasai Joo Heon sekarang. Dia masih belum terbiasa dengan menunggu, jadi wajar baru setengah jam ia duduk -kadang berdiri- di sana ia sudah merasa lelah luar biasa. Sepertinya bersabar bukan keahliannya. Srroootttt srrrooottt “Heishhh …” gerutu Joo Heon kesal saat isi dari kotak tersebut sudah tandas dan bergerak melemparnya ke dalam tempat sampah. Kala ia dirundung kesal karena s**u pisangnya habis, seseorang datang dengan menyodorkan sekotak s**u pisang padanya. Joo Heon mengernyit menatap s**u di hadapannya. “Untukmu, ambilah,” ujar pemuda itu ramah. “Sunbae, apa yang kau lakukan di sini?” Tak menerima uluran s**u di tangan Min Hyuk, Joo Heon malah melontarkan pertanyaan. Min Hyuk mengendikkan bahunya. “Aku hendak menjemput Chang Kyun,” sahutnya kemudian menancapkan sedotan ke dalam s**u tersebut dan mengulurkannya lagi pada Joo Heon. Apa? Menjemput Chang Kyun dia bilang? Joo Heon tidak salah dengar, kan? Joo Heon sedikit bingung dengan jawaban Min Hyuk namun tangannya terulur untuk mengambil s**u di tangan pemuda itu dan menyedotnya perlahan. Sekedar informasi, Joo Heon kenal dengan Min Hyuk karena dulu ia pernah beberapa kali bekerja sama dengan pemuda itu saat mempersiapkan pesta ulang tahun sekolah, namun mereka tak terlalu dekat. “Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung? Jangan-jangan kau tidak tahu jika hari ini Chang Kyun akan datang melihat Kihyun bermain piano?” tanya Min Hyuk heran. Joo Heon menjawab dengan gelengan kepala yang membuat Min Hyuk membuka mulutnya lebar. “Apa maksudmu dengan pertunjukan piano?” “Tunggu, jangan-jangan kau juga tidak tahu jika Chang Kyun bisa bermain piano?” Joo Heon kembali menggeleng. “Aigoo, apa ini yang disebut dengan seorang kakak? Ck ck ck ... kau bahkan tidak tahu hal kecil tentang adikmu,” ejek Min Hyuk yang membuat Joo Heon sedikit memanas. Hei, ayolah, Joo Heon baru saja akan memperbaiki hubungannya dengan Chang Kyun hari ini. Mana dia tahu jika bocah itu punya bakat seni macam itu. Lagi pula apa-apaan subaenya ini, tiba-tiba datang dan mengatakan hal yang tidak ia ketahui tentang Chang Kyun. Mau membuatnya terlihat sebagai kakak yang buruk, eoh? “Chang Kyun!” Chang Kyun lantas menoleh ke sumber suara kala namanya disebut oleh seseorang yang sudah tak asing lagi baginya. Mengacuhkan Joo Heon, Min Hyuk berlari kecil menghampiri Chang Kyun yang sudah keluar dari kelas bersama Doyoung di sampingnya. Pemuda bergigi kelinci itu ikut menoleh ketika nama kawannya disebut. “Ya? Min Hyuk Hyung, ada apa?” Chang Kyun bisa mendengar langkah penuh semangat mendekat ke arahnya. Merangkul pundak Chang Kyun, Min Hyuk berkata, “Kau tidak lupa tentang penampilan Kihyun, kan, Chang Kyun? Hari ini, tidak, maksudku sore ini dia akan tampil.” Ahh, benar juga yang diucapkan Min Hyuk. Hari ini Kihyun akan menampilkan kebolehannya bermain pianonya dan ia sudah berjanji untuk datang. Chang Kyun benar-benar lupa. “Maafkan aku, Hyung, aku lupa,” ujar Chang Kyun penuh penyesalan. Min Hyuk mengernyit, sedikit bingung dengan ucapan Chang Kyun namun pada akhirnya ia terkekeh dan menepuk bahu Chang Kyun pelan. “Astaga, Im Chang Kyun. Kenapa meminta maaf padaku? Kau tidak salah apa-apa. Lagi pula ini masih belum terlambat untuk datang.” “Dan maksudku ke sini adalah aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Bagaimana?” Lanjutnya lantas memandang Chang Kyun untuk menanti jawaban anak tersebut. “Tidak boleh!” Sorak Joo Heon dan Doyoung secara bersamaan. Mereka yang sedari tadi menjadi penonton adegan tersebut langsung menolak tegas tawaran Min Hyuk yang sebenarnya ditujukan pada Chang Kyun. Min Hyuk terlonjak, terkejut dengan koor dua pemuda yang sedari tadi diacuhkannya. Begitu juga dengan Chang Kyun, bocah itu menoleh kesana-kemari saat mendengar suara Joo Heon, ia baru tahu jika Hyung-nya juga ada di sana. “Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa tidak boleh? Dan kenapa kalian yang menyahut?” sungut Min Hyuk, ia merasa tidak dihormati sebagai senior karena di bentak oleh dua juniornya. “Aku akan mengajak Chang Kyun makan odeng panas setelah pulang sekolah,” sahut Doyoung menggebu. “Tidak! Chang Kyun akan pulang bersamaku! Aku akan membelikannya eskrim!” Joo Heon angkat bicara. “Tidak bisa! Chang Kyun harus pergi bersamaku. Kita sudah mengaturnya satu bulan yang lalu!” Min Hyuk kembali berujar tak terima. Ketiganya nyaris beradu mulut jika saja Chang Kyun tidak menengahinya. “Aku mohon jangan bertengkar.” Kalimat singkat itu cukup untuk membuat ketiganya kembali mengatupkan mulut rapat-rapat. “Doyoung. Aku tidak tahu jika kau mengajakku makan odeng sepulang sekolah. Joo Heon hyung, Eomma melarangmu makan es krim karena tenggorokanmu sedang sakit dan Min Hyuk Hyung, bulan lalu kau tidak mengatakan padaku jika kita akan pergi bersama,” lanjut bocah itu diiringi dengusan kecil. Entah mereka salah dengar atau ini hanya mimpi. Ini pertama kali mereka melihat Chang Kyun berucap kesal. Dan sekarang mereka terlihat seperti orang bodoh di hadapan Chang Kyun karena mengatakan omong kosong. “Aku sudah berjanji pada Kihyun Hyung untuk datang. Jadi aku akan datang, namun jika Joo Heon Hyung tidak mengijinkan, maka aku juga tidak memaksa. Dan Doyoung, maaf. Bisa kita pergi lain kali saja?” Semua masih diam mematung mendengar kata demi kata meluncur dari bibir Chang Kyun. “Eo … aku mengerti, lain kali saja kita pergi. Supirku sudah datang, sampai jumpa,” Doyoung berlalu begitu saja setelah mendapat panggilan masuk di ponselnya yang tak lain adalah sang sopir. “Bagaimana? Apa aku boleh pergi, Hyung?” kali ini Chang Kyun berucap lirih, sedikit takut saat mendegar dengusan tak suka yang ia yakin adalah Joo Heon. Pemud itu menunduk. Sementara Min Hyuk terus bergerak kesana-kemari sembari melirik jam di pergelangan tangannya dan Chang Kyun yang nampak takut-takut menanti jawaban, Joo Heon malah terdiam dan mengernyitkan dahinya. Ahh, bukannya berfikir keras antara memberi ijin atau tidak. Tentu dia mengijinkan, hanya saja ia merasa khawatir jika Chang Kyun pergi bersama orang asing yang nyatanya adalah Sunbae-nya sendiri. Lagi pula ia tahu Sunbae yang satu ini baik, kelewat baik malah sampai-sampai banyak guru dan siswi yang memujinya ditambah lagi dia orang yang ramah dan ceria sehingga banyak yang ingin berteman dengannya. Tapi hal itu tak mengurangi kekhawatiran di hati Joo Heon. Mengingat hal buruk baru saja menimpa Chang Kyun dan luka di tubuh bocah itu bahkan sama sekali belum pulih. Ia tak mau ambil resiko Chang Kyun terluka lagi. “Ya! Lee Joo Heon. Sampai kapan kau akan berfikir? Astaga empat puluh lima menit lagi acaranya mulai,” desak Min Hyuk tak sabaran, pemuda itu berulang kali melirik arloji di tangannya. Ayolah, jarak dari sekolah ke tempat tersebut lumayan jauh. Suara Min Hyuk menarik Joo Heon keluar dari lamunannya dan memberi keputusan bahwa. “Aku akan ikut. Ya, aku akan ikut menemani Chang Kyun datang ke acara itu,” finalnya. Chang Kyun mengangkat kepalanya yang semula menunduk sedangkan Min Hyuk hanya memutar bola matanya malas. “Terserah, terserahlah, Bung. Waktu kita tidak banyak dan tempatnya cukup jauh, ayo.” Tanpa aba-aba, Min Hyuk menarik tangan Chang Kyun dan membawa bocah itu pergi bersamanya yang menimbulkan protes dari Joo Heon. Baiklah, pendekatan hari ini sepertinya tidak akan lancar gara-gara seniornya. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN