BLIND-THREE

1095 Kata
Doyoung kini menjadi orang pertama yang sangat peduli pada Chang Kyun atau bisa dibilang sahabat? Entahlah, Chang Kyun sendiri masih belum paham makna dari kata sahabat itu sendiri. Baru dua hari mereka berteman, tapi hubungan yang terjalin sudah seperti kenal bertahun-tahun lamanya. Tapi jujur, Chang Kyun sangat bersyukur memiliki teman sebaik Doyoung. Namun jangan terlalu berharap dengan adanya Doyoung, kehidupan Chang Kyun di sekolah akan menjadi indah. Bukankah selalu ada sosok antagonis di antara protagonis? Seperti …. Brakk! Chang Kyun tersungkur tepat saat hendak masuk ke dalam kelas. Pemuda itu merasakan ada seseorang yang sengaja mendorongnya dari belakang. “Hahaha … lihatlah kawan buta kita ini, menyedihkan.” Tawa Soony Young terdengar puas. “Sangat menyedihkan,” sahut Jin Woo mengejek. Tangan Chang Kyun meraba lantai kelas. “Tongkatku,” gumam pemuda itu dengan tangan sibuk mencari letak tongkat miliknya. “Chang Kyun!” Doyoung melesat dari tempat duduknya saat melihat Chang Kyun dipermainkan oleh dua bocah nakal di kelasnya. “Sialan! Apa maksudmu? Kau mau melukai Chang Kyun?” Keduanya hanya tersenyum dan melenggang ke dalam kelas begitu saja. Tanpa menunggu aba-aba, Doyoung mengambil tongkat Chang Kyun dan membantu pemuda itu untuk berdiri. “Kau tidak apa-apa?” tanya Doyoung memeriksa tubuh Chang Kyun dari atas sampai bawah. Chang Kyun tersenyum dengan sikap temannya yang terlalu mudah khawatir itu. Kadang ia berfikir bisakah ia mendapatkan hal serupa dari kedua kakaknya? Senyumnya meredup bersamaan dengan datangnya rasa perih di hatinya setiap mengingat hal tersebut. “Chang Kyun, kau tidak apa-apa 'kan?” Doyoung mengulang kembali pertanyaannya. “Oh? Iya, aku baik-baik saja,” Chang Kyun kembali mengembangkan senyumnya. “Baiklah, kalau begitu. Ayo kita masuk,” ujar Doyoung, tak mau menghujani temannya dengan pertanyaan yang akan membuat pemuda itu merasa tak nyaman. •°• BLIND •°• Alunan tuts piano yang indah membawa langkah kaki Chang Kyun hingga masuk ke dalam ruangan tersebut atau lebih tepatnya berdiri di depan pintu. Sosok yang sedari tadi asik memainkan jemarinya di antara tuts hitam dan putih tersebut lantas menghentikan aktivitasnya ketika menyadari kehadiran seseorang di sekitarnya. Pemuda itu memandang ke arah pintu dan tersenyum dengan cara yang sopan. “Kenapa hanya berdiri di situ saja? Masuklah,” ujar siswa tersebut yang menyadari kehadiran Chang Kyun. Chang Kyun tersentak, ia tidak tahu bahwa orang tersebut menyadari kehadirannya. “M-maaf Sunbae, aku tidak bermaksud menganggumu,” ujar Chang Kyun tegang. Bocah itu masih dilanda kecanggungan. Pemuda tersebut tersenyum dan berdiri menghampiri Chang Kyun yang masih berdiri kaku di depan pintu. “Tidak, kau tidak menganggu. m Masuklah,” ujar pemuda tersebut, menarik lengan Chang Kyun pelan dan menyuruhnya masuk. Chang Kyun menurut begitu saja. Toh, siswa tersebut sudah ramah padanya. Dengan sedikit rasa takut, bocah itu memantapkan langkah memasuki ruangan itu. Bunyi ketukan tongkat memenuhi ruangan yang sunyi itu. Pemuda asing tersebut menyuruh Chang Kyun duduk di sampingnya. Tangan mungilnya kembali beraksi di atas tuts piano. Nada-nada yang dihasilkan membuat Chang Kyun terdiam dan terlarut dalam alunan indah piano di tangan remaja tersebut. “Indah,” mulut Chang Kyun spontan berucap, membuat sosok yang tadinya fokus bermain, kini menghentikan permainannya. “Apa yang indah?” “M-maksudku, permainan piano Sunbae indah,” sahut Chang Kyun takut-takut. “Oh … terima kasih.” “Dan tak usah takut seperti itu padaku, apa aku terlihat seperti orang jahat?” tanya pemuda asing itu kemudian. “T-tidak, tidak. Bukan begitu Sunbae,” Chang Kyun semakin geragapan. ‘Menggemaskan,’ pikir pemuda tersebut. “Hahaha … tak apa, maafkan aku sudah membuatmu tak nyaman,” siswa tersebut menepuk bahu Chang Kyun pelan sebagai pertanda bahwa dia tidak tersinggung. “Aku Yoo Kihyun, kelas 3-1. Kau?” Tanya Kihyun mencoba membuat suasana agar lebih rileks. “Aku Im Chang Kyun, kelas 1-1.” “Baiklah, Im Chang Kyun. Karena kau sekarang sudah tahu siapa aku, mulai sekarang jangan panggil aku Sunbae. Panggil saja aku Hyung,” ujar Kihyun lembut. "Apa ... itu akan baik-baik saja?" Chang Kyun berucap dengan ragu. "Tentu saja, memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh dekat-dekat denganmu?" "Tidak, bukan begitu." "Kalau begitu jangan ragu untuk memanggilku." “Baik, K-kihyun Hyung,” sahut Chang Kyun malu-malu. Kihyun memperhatikan Chang Kyun. Seperti ada yang janggal, tapi apa? Mungkinkah? Pikirnya. “Jangan melihatku seperti itu Hyung, aku memang buta,” ucap Chang Kyun yang merasa tengah diperhatikan. “Ah … maaf, aku tidak bermaksud.” Benar saja, bocah itu tadi menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan. “Tak apa, itu sudah biasa terjadi, tak usah minta maaf Hyung,” Chang Kyun memotong ucapan Kihyun cepat. Kihyun menggaruk tengkuknya kikuk. Ia lupa bahwa sudah bukan hal aneh lagi jika di SMA Monggi terdapat beberapa siswa berkebutuhan khusus seperti Chang Kyun. “Permainan pianomu sangat indah Hyung,” Chang Kyun kembali mengagumi kelihaian Kihyun dalan bermain piano. “Benarkah? Apakah sebagus itu? Aku masih belajar, Bung.” Kihyun menyahut dengan seulas senyum yang mengembangkan di wajahnya. “Sungguh, kau sangat hebat, Hyung. Aku tak bohong,” sahut Chang Kyun dengan ekspresi yang meyakinkan. Kihyun tertawa dan tangannya mengacak surai hitam Chang Kyun dengan gemas. ‘Benar-benar bocah menggemaskan,' batin Kihyun. “Apa kau menyukainya?” tanya Kihyun kemudian. Chang Kyun mengerutkan dahinya. Tak paham maksud Kihyun. “Maksudku, piano. Apa kau menyukai permainanku?” Tanpa berfikir dua kali, Chang Kyun menganggukkan kepalanya mantap. “Aku sangat menyukainya,” sahutnya mantap. “Kalau begitu bermainlah dengan jarimu sendiri.” Mendengar ucapan Kihyun yang tak pernah disangkanya, Chang Kyun menundukkan kepalanya. Ucapan Kihyun tadi membuatnya murung. “Mengapa? Kenapa kau diam?” Kihyun menyadari perubahan ekpresi Chang Kyun. “Apa aku bisa?” lirih Chang Kyun. Kihyun tersenyum, ia paham maksud Chang Kyun. Tangannya kemudian menepuk bahu Chang Kyun pelan. “Kenapa tidak? Bukankah di mana ada kemauan, maka di situ akan ada jalan?” Chang Kyun memalingkan wajahnya menghadap Kihyun seakan-akan dia sedang menatap sosok yang lebih tua itu. “Jika kau mau, akulah yang akan menuntunmu menuju jalan itu,” lanjut Kihyun yang berhasil membuat Chang Kyun berfikir beberapa saat. “Hyung,” panggilnya pada Kihyun yang sudah kembali asik memainkan piano. “Ya?” “Aku ingin bisa sepertimu,” lanjut Chang Kyun kemudian yang sukses membuat Kihyun tersenyum lebar. “Jika kau ingin bisa hebat bermain piano, jangan menjadi sepertiku.” “Lalu aku harus seperti siapa?” Chang Kyun kembali tak paham dengan ucapan Kihyun. “Kau tak perlu menjadi seperti siapa pun untuk menjadi hebat, karena kau hanya perlu jadi diri sendiri.” Sebuah kalimat penuh makna yang mampu menyihir Chang Kyun dan mengembalikan rasa percaya dirinya. #BLIND# Sunbae : Senior
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN