“Mengapa aku tidak boleh datang ke sini? Bukankah, kau juga akan memperkenalkanku kepada orang-orang? Aku tidak mau disembunyikan! Aku lelah dipandang sebelah mata” Teriak Desi. Tabah menyisir rambutnya dengan kedua jarinya dengan kasar, sampai menjadi berantakkan. Namun, ia tidak peduli dengan hal itu. Dipandanginya Desi, yang menatapnya balik dengan wajah cemberut. Dalam hatinya, Tabah tidak habis mengerti, bagaimana caranya Desi mengetahui rumahnya, karena ia tidak pernah membawanya ke sini. “Bagaimana, kau bisa sampai di sini?” Tanya Tabah dingin. Desi berjalan mendekati Tabah, lalu menunjuk dadanya dengan kepalan tangan. “Kenapa? Kau tidak mau aku datang ke sini? Kau merasa malu, hah? Apa gunanya, kau mengeluarkanku dari tempat pelacuran itu?” Desi memukuli d**a Tabah berulang ka

