“Cepat katakan, dok!” ucap Tabah dengan tidak sabaran. Dokter itu tersenyum kecil mengerti dengan ketidaksabaran Tabah. “Saya akan memberikan kepada Anda kabar gembira. Anda beruntung tidak tertular penyakit tersebut, walaupun Anda berhubungan dengan pasangan Anda.” Tabah merasa lega mendengarnya, ia merasa terselamatkan dengan pengaman yang selalu dipakainya, bahkan ketika ia sudah menikah dengan Desi tidak pernah dirinya lupa. “Terima kasih, dok!” Tabah menjabat erat tangan dokter yang memeriksanya. Ia keluar dari ruangan dokter dengan air mata bahagia. Dengan cepat diusapnya air mata itu, ketika ia memasuki ruang rawat Desi. “Kamu pergi kemana, lama sekali?” Tanya Desi dengan raut wajah sedih. Tabah mengambil kursi yang ada di kamar rawat Desi, lalu menariknya hingga berada tepat

