19. Mitos Prambanan

2302 Kata

Matahari bersinar hangat hari ini. Ditambah lagi dengan jamuan sarapan super enak yang jarang banget dimasak emak, membuat pagi gue bercahaya bak pelita surga. Satu suap nasi plus dendeng masuk ke mulut dengan lancar, nikmat. Ini satu-satunya masakan khas emak yang paling gue suka. "Udah siap, Nan?" Suara emak yang baru masuk dapur. Dia meletakkan plastik hitam di dekat kompor. "Udah, Ma. Mama dari mana?" "Dari warung. Gimana, enak?" tanyanya sembari duduk di kursi hadapan. Dengan mulut yang masih mengunyah, gue mengangguk mantap. Masakan emak tak perlu diragukan lagi, sudah pasti nikmatnya terasa sampai ujung jari kaki. Emak gue tersenyum, manis banget, jarang dia seperti itu. Entah apa yang telah membuat hatinya merekah. "Yaudah diabisin. Oh, iya, di depan ada Glen sama kawannya,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN