Duka masih menyelimuti keluarga besar. Namun yang paling terpuruk merasakan kepergian itu, tentulah anak-anak yang ditinggalkan. Sehari, dua hari, tiga hari, terlihat jelas Glen yang matanya selalu basah. Doa selalu tercurah untuk mereka. Namun Glen belum mampu untuk mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Teman-teman, sahabat, semua orang yang kenal dengannya datang untuk memberi kekuatan. Pria yang sebelumnya selalu tampak ceria itu sungguh sedang bersedih. Tidak ada sesuatu yang paling menyakitkan baginya, selain perginya mama dan papa. Glen merasa sangat bersalah, dia tidak ada di samping mereka untuk terakhir kali. Ucapan-ucapan terakhir mereka, juga nasihat-nasihat mereka padanya, kini bergema dalam kehampaan. "Aku mau sekolah di sekolahan biasa aja, Pah. Kak Gilang aja gak a

