"Apa? Dia kabur, Bos?!"
Tora pun sampai tersentak saat mendapat kabar dari Max kalau Kanaya susah kabur meninggalkan hotel.
"Ya! Lo tahu, Tora?! Sikap p*****r lo itu udah bikin gue merasa terhina! Sial!" Max masih dongkol dan marah-marah.
"Maaf, maafkan kami sekali lagi! Ini adalah kali pertama kamu mendapat layanan tapi malah kacau begini keadaannya, maafkan kami ya, Bos!" Tora begitu takut Max akan kecewa berat dan marah.
"Cari dia! Dan kasih dia pelajaran!"
"Baik, Bos! Gampang, Bos! Dia pasti gak akan kabur kemana-mana! Dia pasti masih berkeliaran di jalanan, saya akan segera mencarinya!" kata Tora dengan sigap.
Max mematikan sambungan telponnya karena kesal. Harusnya Max peka dan sadar kalau Kanaya bersikap menolak adalah karena dia memang tak menginginkan pekerjaannya ini. Harusnya Max balik peduli dan sadar kalau Kanaya hanyalah korban human traficking. Tapi, karena semalam Mas sedang dalam suasana hati yang buruk, maka ia pun menjadi seseorang yang teramat sangat egois.
"Dasar jalang sialan!!!" Max terus merutuki Kanaya. Max benar-benar kesal.
***
"b******k! Si Kanaya kabur!"
Bukan hanya Max yang murka, Tora pun marah dengan kaburnya Kanaya malam ini. Selain karena ia kehilangan satu aset berharga, Tora juga jadi malu pada Max.
"Kabur? Kabur gimana, Bos?" tanya Rado yang juga tak kalah panik.
"Sialan! Cepat cari dia! Pasti dia masih ada di sekitar hotel itu! Lo bilang dia gak punya kerabat di Jakarta?! Sudah pasti dia kebingungan saat ini! Cepat temukan dia dan seret ke hadapan gue lagi!" Tora begitu murka dan menginstruksikan para bodyguard-nya untuk mencari Kanaya.
"Baik, Bos!" Dua bodyguard tinggi besar menyeramkan dengan sigap melaksanakan perintah Tora yang masih marah dengan kejadian ini.
"Lo juga, Rado! Ngapain lo masih diam disini?! Buruan cari dia! Jangan pernah balik sebelum lo menemukan dia!" titah Tora pada Rado kemudian.
"O-oke, Bos!" Rado melaksanakan perintah Tora. Rado pun jengkel pada Kanaya yang kabur dan membuat masalah besar untuknya. 'Sialan kau, Kanaya! Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti padamu!' gerutu Rado dalam hati dan siap mencari Kanaya dengan hati berapi-api.
***
Untungnya, saat ini Kanaya sudah aman berada di dalam sebuah indekos yang Alana sewakan untuknya.
Kanaya bersyukur sampai dia menangis karena merasa lega. Setidaknya, saat ini Kanaya bisa menepikan tubuhnya yang lelah setelah melayani Max yang beringas dan buas beberapa jam yang lalu.
"Max Jerome! Bastard yang gak akan aku lupakan untuk seumur hidupku! Aku benci dia!" gumam Kanaya dan sesekali mengingat wajah Max yamg dingin tapi mempesona.
Saat ini, Kanaya hanya memiliki tas selempang yang berisi sisa uang, sisa tabungan dan juga kalung emas yang Abdi berikan. Bahkan, pakaian juga hanya minidress yang saat ini melekat di tubuhnya.
Dia tak boleh seperti ini terus, Kanaya harus bangkit dan memulai hidup baru. Mungkin besok dia bisa pergi ke toko baju dan membeli beberapa potong pakaian yang sopan dan layak pakai. Selain itu, Kanaya juga harus memberi kebutuhan-kebutuhan penting lainnya karena mulai malam ini, dia akan benar-benar tinggal di kos-kosan milik kerabat Alana ini.
"Ayo Kanaya! Lupakan kenangan buruk malam ini! Life must go on! Kamu pasti bisa! Kamu pasti bisa!" Kanaya menyemangati dirinya sendiri. Kata 'terpuruk' tak ada dalam kamus hidupnya, dia harus tetap kuat dan melanjutkan hidup.
***
Semalaman Alana tetap tak bisa tidur tenang karena hatinya tetap teringat pada Max apa lagi Max tetap tak bisa dihubungi. Alana galau, dia galau berat.
Setelah matahari mulai terbit di ufuk timur, Alana pamit pada Ira dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena ayahnya juga terus mengkhawatirkannya.
"Tante, aku pulang yaa!" pamit Alana pada Ira.
"Sarapan dulu, Alana! Lihat, tante masak banyak loh pagi ini!" kata Ira yang sedang sibuk memasak menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Ayah udah nelpon terus, Tante! Terima kasih banyak ya! Oh iya, aku titip Kanaya, dia sedang ada dalam masalah sekarang, kalau boleh ... kasih dia sarapan, pagi ini saja, Tan!" pinta Alana, dia masih begitu mencemaskan Kanaya.
"Heum, jadi ... dia itu Lady karaoke yang kabur?" Ira masih agak meragukan sosok Kanaya meskipun Alana sudah mengatakan kalau Kanaya adalah penyelamat dari aksi begal semalam.
"Ya semacam itu, Tan. Kasihan banget dia, mana dia itu dari luar kota, luar pulau pula! Maybe nanti siang aku akan kesini lagi bawain dia pakaian yang layak pakai!"
"Baik banget hati kamu, Alana!"
"Gak gitu juga Tan, aku masih coba ngebayangin aja gimana kalau semalam gak ada dia! Mungkin aku udah kehilangan barang berharga atau bahkan sudah terluka parah!"
"Iya juga sih! Ya udah, nanti tante akan bawakan dia sepiring sarapan!"
"Oke, makasih banyak ya tante!"
"Iya, sama-sama Alana!"
"Aku pulang ya, byee!"
"Hati-hati di jalan, kamu masih bisa mengemudi dengan baik kan?"
"Bisa dong, aku udah tenang kok!"
Setelah berpamitan, Alana pergi menuju mobilnya yang ada di halaman parkir yang tak terlalu luas itu. Alana ingin pamit pada Kanaya, tapi Alana pikir mungkin Kanaya sedang menikmati waktu istirahatnya. Alana pun mengurungkan niatnya itu.
'Terima kasih banyak, Kanaya! Semoga kamu tetap ada dalam situasi aman!' batin Alana sembari menatap ke kamar di pojok lantai dua bangunan itu.
***
Max kembali ke rumahnya. Saat dia masuk ke dalam kamar, dia baru ingat kalau sebelum pergi ke club semalam, dia telah menghancurkan handphone-nya sendiri.
"Sialan!" rutuknya lalu ia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan harinya yang suntuk.
Max melepaskan semua pakaiannya lalu mengguyur dirinya di bawah shower. Tiba-tiba ia teringat akan momen semalam.
Kanaya memang berontak, Max juga ada dalam keadaan mabuk, tapi dia masih ingat bagaimana Max merobek keperawanan Kanaya semalam. Hal itu tak akan bisa ia lupakan saking nikmatnya, tapi sialnya, Kanaya malah kabur dan itu membuat Max merasa sangat terhina.
'Dia gak boleh sampai melayani lelaki lain! Aaah, cengkramannya ... gue gak akan lupa itu!' batin Max agak meracau, dia merasa turn on lagi tiba-tiba saat ia ingat momen semalam.
"Sialnya dia malam kabur! Apa dia gak tahu kalau banyak gadis-gadis lain yang berharap dapat sentuhan dari gue?! Sial!" Max masih saja menggerutu, dia kesal karena Kanaya kabur.
Max tak tahu kalau Kanaya telah menyelamatkan Alana dari begal. Dan Max tak tahu kalau saat ini Kanaya berada di indekos milik tantenya Alana. Entah apa yang akan terjadi jika kelak mereka bertiga dipertemukan dalam satu frame.