"Mbak Alana, kenapa keluar rumah malam-malam sendirian?" tanya Kanaya untuk menghangatkan situasi antara dirinya dan Alana yang masih mencoba menyetir dengan tenang. Karena jujur saja, dia masih agak shock gemetaran.
"Saya ...." Alana malah tak tuntas menjawab. Malam ini dia teringat pada kekasihnya dan hendak mencarinya ke rumahnya langsung karena nomor telponnya tetap tak bisa dihubungi.
'Max ... kamu dimana? Lihat aku! Aku hampir celaka karena nyari-nyari kamu! Kamu dimana sih??? Maafin aku ....' lirih Alana dalam hati, dia sepertinya belum siap jika mengatakan hal itu pada Kanaya.
Sungguh ironis memang! Sesungguhnya, pria yang Alana cari-cari baru saja menghabiskan malam yang panas dengan perempuan yang saat ini duduk di mobilnya.
Entah bagaimana reaksi Alana andai dia tahu kalau gadis seksi yang saat ini sedang berada dengannya adalah perempuan yang baru dijamah oleh Max. Dunia sungguh terasa begitu sempir.
"Heum, kamu sendiri? Ma-maaf, saya gak bermaksud menyinggung profesi kamu, maksud saya ... kenapa kamu berjalan di jalanan yang sepi dengan penampilan kayak gini ...." Alana balik bertanya, tapi kemudian dia merasa risih saat sadar kalau Kanaya adalah seorang wanita malam, setidaknya itu lah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Sebenarnya ... saya bekerja di club malam Diamond yang terletak sekitar 200 meter dari titik kejadian tadi, Mbak. Saya ... saya kabur dari sana!" Kanaya berkata jujur, lagi pula dia memang ingin mengatakan hal itu sejak tadi.
"Ya ampun! Kamu ... baru aja kabur dari tempat kerja kamu? Kenapa? Apa ... kamu dipaksa kerja disana???" tanya Alana penuh atensi.
"Iya, Mbak ...." jawab Kanaya pelan. Seketika Alana merasakan simpati yang mendalam untuk Kanaya. Alana yakin kalau Kanaya tak mungkin berbohong, Alana yakin kalau Kanaya adalah gadis baik-baik.
"Astagaaa, terus ... kamu mau pulang kemana?"
"Tadinya saya mau ke kantor Dinas sosial untuk minta perlindungan, tapi saya baru sadar kalau ini sudah tengah malam. Tadi saya gak berpikir apa-apa, saya hanya ingin pergi meninggalkan club itu cepat-cepat!" Kanaya menuturkan, setidaknya dia merasa lega setelah bercerita pada Alana.
Alana makin simpati pada Kanaya. Alana yakin kalau Kanaya memanglah korban dari penjualan manusia. Alana benar-benar merasa iba dengan Kanaya.
"Kamu mau pulang ke tempat asal kamu? Ya sudah, setelah dari klinik kamu nginep aja di rumah saya, besok saya antar kamu ke Kantor Dinas Sosial yaa! Oh iya, memangnya kamu berasal dari mana?"
"Dari Batam, Mbak."
"Astaga! Jauhnya ...."
"Tapi ... saya gak bisa pulang kesana."
"Why? Kenapa?"
"Saya sudah memutuskan untuk merantau pergi kemari, Mbak. Lagi pula saya sudah gak punya sanak saudara disana, jadi ... gak jadi deh ke Dinas Sosialnya ... saya takut, kalau saya mengadu dan sindikat mereka terbongkar ... mereka akan makin marah pada saya!" Kanaya mulai dilema, antara melapor atau tidak?!
Jika Kanaya melapor, Kanaya takut nantinya Rado dan Tora malah semakin beringas mencari dirinya karena dianggap sebagai pengadu. Kanaya sungguh tak tahu harus bagaimana.
"Ya sudah, kita gak usah pikirkan itu dulu ya ... sekarang yang penting luka kamu diobati, biar kamu bisa istirahat dengan nyaman!" kata Alana, mereka sudah sampai di depan sebuah klinik kecil yang buka 24 jam.
Kanaya lega. Dia tak menduga kalau malam ini setidaknya dia aman dari jalanan yang sepi dan menyeramkan. Setelah ia menyelamatkan Alana, setidaknya Kanaya memiliki jaminan keamanan sampai esok pagi.
Kanaya sampai merem dan tak mau melihat kala kulitnya yang tersayat cukup dalam ditautkan dengan jarum dan benang khusus. Dia harus mendapat 7 jahitan di lengan kirinya.
"Sudah selesai! Untuk membuat lukanya cepat kering, perbanyak konsumsi protein yaa, rebus telur lebih baik!" kata dokter yang menangani lukanya itu.
"Terima kasih banyak, dok!"
"Saya siapkan dulu resep obatnya yaa!" Dokter itu beranjak meninggalkan Kanaya dan Alana berdua di ruang tindakan itu.
"Kanaya, kamu nginep di rumah saya malam ini ya!" ajak Alana, Kanaya malah merasa tidak enak apa lagi saat ini dia masih berpenampilan seperti seorang p*****r.
"Heum, Mbak Alana ... kalau boleh, saya ingin menginap di klinik ini saja malam ini, saya malu sama keluarga Mbak Alana, pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak."
"Tapi Kanaya ...."
"Maafkan saya, bukannya saya menolak kebaikan Mbak Alana, tapi saya pikir lebih baik saya disini saja sampai besok. Besok saya akan mulai mencari rumah kontrakan!"
Alana tak tahu harus bagaimana membujuk Kanaya agar mau memenuhi ajakannya. Alana sangat mengkhawatirkan keadaan Kanaya saat ini.
"Oh iya, saya punya kerabat yang memiliki indekos, mungkin ada kamar kosong disana. Kalau memang kamu gak mau ke rumah saya, kita langsung ke Indekos itu saja ya!"
"Baik, Mbak. Maaf ya merepotkan."
"Gak lah, saya yang sudah lebih dulu merepotkan kamu sampai kamu terluka begini!"
Alana dan Kanaya semakin akrab malam itu. Pengorbanan Kanaya, akan Alana balas dengan jaminan keamanan dan kenyamanan.
Selepas dari Klinik, Alana langsung meluncur menuju sebuah bangunan berpagar hitam. Bangunan itu merupakan kamar-kamar yang disewakan dan kebetulan itu milik kerabat Alana.
"Halo Tante ... maaf ya ganggu malam-malam!" Alana langsung menyapa dan memberi salam pada perempuan 40 tahunan yang masih tampak ngantuk itu. Namanya Tante Ira.
"Tante kira kamu bercanda mau datang kesini dini hari begini, Alana! Ada apa ini?" tanya Ira lalu memicingkan matanya pada Kanaya, pandangannya sudah pasti menyimpulkan kalau Kanaya adalah seorang wanita malam.
"Ini lho Tante ... aku mau carter satu kamar buat temanku ini, masih ada yang kosong kan?"
Ira masih memindai Kanaya, tatapannya adalah tatapan jijik yang lama-lama membuat Kanaya risih.
"Tante ... Please, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu tentang Kanaya ... dia ini gadis baik-baik yang terjebak di sebuah club malam! Please, percayalah! Bahkan malam ini dia mengorbankan lengannya sampai terluka buat menyelamatkan aku dari begal!" Alana mencoba meyakinkan.
"Ya ampun, kamu dibegal? Dimana? Terus apa yang hilang?!" Ira begitu kaget saat dengar cerita Alana.
"Gak ada yang hilang! Aku juga gak terluka sama sekali karena Kanaya menyelamatkan aku di waktu yang tepat!"
Sekali lagi Ira menatap Kanaya, dan dia masih terlihat meragu. Tapi, karena Alana yang meminta, maka Ira akan memberikan satu kamar kos yang masih kosong untuk disewa oleh Kanaya.
"Baiklah, kamar yang paling pojok di lantai dua itu masih kosong! Kamu boleh menyewanya!"
"Terima kasih banyak!" kata Kanaya dengan sopan.
"Makasih banyak tante, nanti aku transfer uang sewanya yaa, aku akan bayar untuk sewa 3 bulan ke depan!" kata Alana.
"Gak perlu Mbak Alana, saya masih ada bekal uang kok, cukup untuk bayar sewa kos!" Kanaya mencoba mencegah kebaikan Alana.
"Udah, kamu jangan nolak ya! Ini semua gak akan sebanding dengan pengorbanan kamu, Kanaya!"
"Ya sudah, tante ambil dulu kuncinya yaa, dan kamu Alana! Sebaiknya kamu jangan pulang ke rumah kamu! Tante takut terjadi sesuatu yang buruk lagi sama kamu! Kamu tidur di rumah tante saja sampai besok pagi yaa!"
"Oke, Tante!"
Kanaya legaaaa sekali. Pertemuannya dengan Alana telah memberinya keamanan. Entah bagaimana jadinya kalau Kanaya tak bertemu Alana malam ini. Mungkin saat ini dia masih berjalan berkeliaran di jalanan atau bahkan telah habis diperkosa oleh lelaki tak bertanggung jawab di jalanan.
Kanaya mengambil hikmah dari setiap kejadian. Biarlah malam ini keperawanannya telah terenggut paksa, tapi Kanaya harus bangkit dan meneruskan tujuan utamanya. Yakni mencari kehidupan yang lebih baik dan menemukan ayah kandungnya.
***
Max terusik perlahan, dia meraba-raba kasur dan tak merasakan kehadiran Kanaya. Kesadarannya mulai terkumpul kembali walau kepalanya masih sangat pening.
Perlahan Max membuka matanya, dan dia tak menemukan siapa pun bersamanya saat ini.
"Kemana jalang itu?! s**t!" rutuk Max kesal, padahal rencananya dia masih ingin melakukan satu atau dua ronde lagi dengan Kanaya tapi kenyataannya saat ini Kanaya sudah kabur.
Max yang masih merasa pening karena terlalu banyak minum langsung menghubungi Tora untuk melaporkan kaburnya Kanaya dari kamar hotel itu. Max pikir Kanaya kabur dan kembali ke club Diamond, padahal Kanaya telah menyelamatkan dan kemudian diselamatkan oleh Alana, kekasihnya.
Entah bagaimana jadinya jika mereka bertiga menyadari jika mereka bertiga yakni Max, Kanaya dan Alana saling berhubungan seperti ini.
Max adalah kekasih Alana yang tengah patah hati lalu menyewa jasa Kanaya untuk menemani kegalauannya, kemudian Kanaya kabur dan bertemu Alana dalam momen yang mencekam dan sebagai balasannya Alana menolong Kanaya untuk menemukan tempat bernaung.
Seperti itu lah circle-nya. Alana mencari Max, dan Max sedang mencari Kanaya yang bahkan dia belum dia ketahui namanya.