A True Hero

1304 Kata
Sementara Max masih melepas lelah dengan memejamkan matanya, Kanaya masih menangis sesenggukan. Sakit! Sakit bukan main, tapi dia tak boleh berlarut-larut. Kanaya harus bergerak cepat sebelum Max terbangun dan tersadar lagi. Kanaya menoleh ke samping kirinya dan dia melihat lelaki gagah itu terlelap dengan tubuh telentang, b******k! Lelaki gagah itu adalah lelaki yang telah merenggut mahkotanya tanpa permisi. 'Semoga Tuhan membalas perbuatanmu, jerk!' sumpahi Kanaya dalam hati, dan Kanaya berharap tak akan pernah bertemu dengan sosok Max lagi. Kanaya lekas mengenakan lagi minidress-nya, aaah, bagaimana pula nasibnya nanti saat ia keluar kamar hotel dengan pakaian minim seperti ini? Apakah di luar akan aman??? Pikir Kanaya. Aaah, tak peduli! Yang penting sekarang dirinya pergi dulu dari penjara Max, karena dengan begitu ia juga bisa melepaskan diri dari belenggu Tora. 'Lindungi aku ... Lindungi aku Tuhan ....' batinnya sembari dengan sangat hati-hati ia memakai highheels-nya dan sesekali melirik ke arah Max yang masih tertidur kelelahan. "Yes! Selesai, sekarang pergi tinggalkan ruangan ini dan cari Kantor dinas sosial! Tapi ... ini kan tengah malam?! Aah, pokoknya pergi saja! Pergi yang jauh!" pikir Kanaya dan dengan sangat hati-hati, Kanaya membukakan pintu agar supaya decitannya tak membangunkan Max. Para petugas hotel yang masih bertugas menatap Kanaya aneh. Sudah pasti kalau mereka telah menganggap Kanaya sebagai jalang. Mereka sungguh tak tahu kalau Kanaya berada dalam situasi ini karena keterpaksaan. Kanaya pergi keluar dari hotel itu, dia agak mengendap karena club malam milik Tora bisa ia lihat begitu ia meninggalkan halaman hotel itu. Beruntungnya, Kanaya tak meninggalkan barang apa pun disana, Kanaya hanya meninggalkan kebencian. Ini dia ... langkah baru untuk Kanaya, langkah yang berat. Dia tak tahu harus pergi kemana. Ini sudah lewat tengah malam, dingin dan sepi. Sungguh, jalanan ibu kota malam ini begitu sepi. Kanaya ambil hikmahnya saja, karena jika ramai, Kanaya tak tahu bagaimana mereka melihat keberadaannya saat ini. Sudah sekitar 100 meter dari hotel dan Kanaya bersyukur, tapi kini masalahnya, kemana Kanaya harus pergi? Dia berjalan sendirian, kedinginan, kesakitan. Dia membelah dingin dan gelapnya malam tanpa tentu arah. Tapi dari kejauhan .... "Arrrgggghhh! Toloooong, jangan sakiti saya!" Kanaya tak sengaja melihat perampokan di satu jalan yang juga tak berpenghuni. Tak ada satupun kendaraan lewat padahal ini adalah jalan raya. Kanaya mempercepat langkahnya, dari jarak 20 meter dia melihat seorang perempuan sedang dibegal oleh seorang lelaki yang membawa senjata tajam. Jiwa heroik Kanaya tergerak. Malam ini dia telah melakukan dosa besar, mungkin Kanaya bisa menebusnya kembali dengan menolong korban itu, apa lagi korbannya adalah perempuan. "Tolong dia, Kanaya! Kasihan dia!" ucap Kanaya pada dirinya sendiri, dia pun berjalan perlahan dengan senyap, menghampiri lelaki yang sedang mencoba membuka jendela mobil perempuan itu dengan paksa dengan sebuah linggis kecil. Dan secara kebetulan, yang ada di dalam mobil adalah Alana yang ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Alana begitu ketakutan dan tertekan, dia sedang mencoba menghubungi seseorang. BRAAAK BRAAK! "Woy! Buka! Buka gue cuma butuh duit 2 juta doang! Buka woyy!" Begal itu masih mengintimidasi, dia seperti lelaki muda tapi memakai topeng. Dia juga seperti agak ragu-ragu, karena kalau dia mau, dia bisa saja menghancurkan kaca mobil Alana, tapi dia masih mencoba membukanya dengan linggis saja tanpa memecahkannya. Kanaya sudah semakin dekat, dan Alana melihat sosok Kanaya mengendap hendak menyelamatkannya, Alana sejenak terdiam melihat seorang perempuan dengan pakaian minim diam-diam membawa balok kayu dan .... BAM! Kanaya memukul tengkuk begal itu dengan balok kayu di tangannya. Alana tak menduga kalau akan ada yang menolong dan itu adalah seorang perempuan. Pukulan Kanaya tak terlalu keras sehingga itu tak membuat si begal tumbang. Tapi kalau kesakitan sudah pasti, Begal itu panik lalu berbalik. "Waaah, siapa lo? Ngapain lo? Mau coba-coba jadi pahlawan?" Begal itu kini berbalik mengincar Kanaya. Alana pun sudah merasa aman, tapi dia tak bisa diam saja, dia segera menghubungi pihak kepolisian. "Pergi! Sebentar lagi massa akan datang, apa kamu mau mati di hajar masa, huh? Pergilah!" kata Kanaya, dia berharap sang begal pergi agar supaya Alana selamat, si begal juga selamat. Karena jika massa sudah bergerak, maka nasib seorang begal ada di tangan para Massa. Kanaya tak ingin itu terjadi. "Lo sudah menggagalkan aksi gue, gue lagi butuh duit, k*****t!" Begal itu berjalan mendekat pada Kanaya dan Kanaya ketakutan, tapi setidaknya malam ini dia melakukan aksi penyelamatan, ada pun nanti dia terluka atau mati, setidaknya Kanaya mati karena sebuah kebaikan. Kanaya benar-benar pasrah. Malam ini dia kehilangan keperawanannya, mungkin dia juga akan kehilangan nyawanya demi menyelamatkan seorang gadis yang dibegal. Srrtttt! Begal itu mengayunkan senjatanya hingga berhasil melukai lengan Kanaya, "Awwww ...." Kanaya kesakitan tapi beruntung ... dari arah utara, massa bergerak. "Woyy begal! Woyyy!" Massa yang beringas adalah ancaman terbesar bagi penjahat jalanan itu. "Pergi! Pergilah! Pergi sebelum nyawa mu habis di tangan para Massa! Pergi!" Kanaya yang telah terluka masih mempedulikan nasib begal itu. Begal itu menatap Kanaya yang kesakitan karena ulahnya tapi dia masih mempedulikan nasib si begal, mungkin saja begal itu tersadar kalau Kanaya sejak awal tak ada niat buruk padanya. Jarak para warga semakin dekat, "Tunggu apa lagi? Pergilah!" kata Kanaya. Begal itu lari dengan sepeda motor bututnya, dia kabur tanpa hasil apa-apa tapi dia malah meninggalkan luka sayatan di lengan seorang gadis heroik yang bahkan tak ingin si begal tewas di hajar massa. Setelah begal itu kabur dan tak terkejar, Alana langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Kanaya yang mencoba menahan darah yang terus mengucur dari lengannya itu. "Ya ampun, Mbak ... Mbak ... kamu menyelamatkan nyawa saya, sebentar sebentar ...." Alana begitu sigap. Dia melepaskan cardigan merah mudanya lalu membebat luka Kanaya dengan cardigannya itu. Alana begitu merasa berhutang pada Kanaya. "Huuu, kabur tuh begal sialan! Ada yang luka? Ada barang yang hilang?" tanya para warga yang berjumlah sekitar 5 orang itu. "Mbak ini nyelametin saya, Pak. Dia yang terluka, kalau saya sih gak apa-apa! Gak ada barang yang hilang juga, semuanya masih aman!" kata Alana yang masih mencoba menolong luka Kanaya. "Oh begitu, syukurlah, di sebelah sana ada klinik 24 jam! Coba obati kesana saja!" anjurkan seorang warga. "Baik, Pak! Terima kasih banyak ya, Pak!" "Iya neng, lain kali hati-hati yaa! Tapi biasanya di kawasan ini aman dari kawanan begal. Ya sudah, silakan sebaiknya kalian pulang, antarkan saja mbak manis ini ke klinik!" Sialnya warga yang menolong itu malah dengan santainya menggoda Kanaya. Penampilan Kanaya saat ini pasti lah membuat mereka berkesimpulan kalau Kanaya adalah seorang wanita malam. Sial! Rutuk Kanaya. "Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak yaa ...." ucap Kanaya. "Ya, hati-hati neng!" "Ayo, Mbak ... kita ke klinik yaa!" ajak Alana lalu ia membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Kanaya bernafas lega, mungkin ini adalah salah satu jalan ia bisa aman malam ini. Setidaknya Kanaya bisa tinggal di klinik sampai besok pagi, jadi dia tak perlu cemas dimana ia akan menginap untuk melindungi dirinya malam ini. Alana masih gemetar, tapi demi Kanaya yang terluka dia akan menyetir dengan baik sampai ke klinik itu. "Terima kasih banyak ya ... kamu benar-benar sudah menyelamatkan nyawa saya!" kata Alana masih shock dengan kejadian yang menimpanya barusan. "Sama-sama, tapi ... baju Mbaknya ini jadi penuh noda darah ...." kata Kanaya. "Itu gak masalah! Bahkan kamu terluka karena membela saya, terima kasih banyak sekali lagi!" Entah kenapa, walaupun Kanaya terluka tapi dia merasa sangat lega. Kanaya pikir setelah ini dia bisa sedikit bernafas lega. Pasti Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah untuknya. Kanaya berharap kalau pengorbanannya ini adalah awal yang baik untuk nasibnya setelah malam ini. "Oh iya, saya Alana. Kamu?" Alana lekas memperkenalkan diri, dia begitu berterima kasih pada Kanaya. "Saya Kanaya ...." "Oh, Kanaya? Ya ... saya akan selalu mengingat nama kamu! Kamu adalah salah satu pahlawan di dalam hidup saya!" Alana berjanji, dan kata-kata Alana seperti memberi Kanaya sebuah harapan, mungkin setelah ini Kanaya bisa meminta pekerjaan pada Alana, pekerjaan apa saja, jadi pembantu juga tak apa-apa, pikir Kanaya. Apakah pertemuannya dengan Alana akan menjadi awal yang baik bagi Kanaya???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN